Pusara

Hari masih terang. Matahari belum pulang. Kira-kira, seperenam hari lagi senja menjelang. Panjang bayangan tubuhku telah lebih dari panjang aslinya. Tanda bahwa waktu sore sedang mengelayuti sudut bumi kampung Matang Seurela dan sekitarnya. Suasana di kebun itu lengang. Hanya sepoian angin pantai yang datang merayab. Meski berjarak hingga satu kilometer.

Sejuknya dapat kurasa, diantara helain rambutku. Menyetuh lembut pada wajah dan sekujur bagian tubuh yang terbuka. Terkadang masuk lewat serat benang pakaian yang kupakai. Datang dari balik dedaunan pohon kelapa. Pohon cubrek. Pohon mane dan menyeruak dari balik daun ubi yang kian subur karena baru saja mendapati siraman musim hujan sejak dua minggu silam. Sejuk sekali kurasa.

Dari atas dahan dari pohon sekitar, burung pipit melompat riang. Pulang ke sarang. Membawa makanan pada anak-anak mereka yang masih bayi. Siulan manja anak burung terdengar jelas. Bergembira atas rizki yang dibawa pulang induk semang mereka.

Sementara bapak-bapak mereka berdendang menambah aura bahagia. Melompat dari sudut sarang sebalah kanan lalu kekiri. Atas dan kebawah. Sesekali mengintip dari balik lubang pintu rumah kecil mereka. Cucuk paruh mereka menyuarakan siulan-siulan merdu. Meski tak beraturan memang. Seperti seluruh alam seperti sedang bernyanyi. Mengirim dendang lagu bahagia. Melantunkan irama riang ke alam sekitar.

Tapi sayang alunan-alunan itu, tidak berpengaruh banyak padaku. Sayang sekali.

Di bawah batang rindang tinggi itulah aku sibuk. Bukan bekerja tapi termenung. Melamun. Menghanyuti pikiranku yang sedih sendu. Seperti patung yang sedang lelah karena tidak disiram air oleh pemahat. Berjuang sendiri. Menahan terik, di bawah sinar mentari siang.

Pada kebun ubi seluas lapangan bola inilah aku sedang berdiri. Hanya pikiranku saja yang terbang kesana kemari. Seperti burung pipit yang anaknya baru diterkam elang beringas. Mematung. Mengarahkan pandangan pada seorang pemuda seusiaku di samping dua pusara.

Buk!,

Cangkul bergagang kayu krueng terlepas dari genggaman. Berdiri terpaku sekian lama, membuat tanganku hilang kendali atasnya. Aku hanyut memperhatikan seorang pemuda tadi. Sedang berdoa di samping dua pusara.

Memakai koko abu-abu. Berkerah ala Shanghai. Dari pinggang ke bawah, bagian tubuhnya dililit sarung kotak-kotak. Menjuntai melewati mata kaki. Sebagiannya menyentuh tanah di sekitar pusara. Wajahnya menunduk dengan tangan terangkat. Beberapa kali kedua lengan itu bergerak ke tengah, pelan. Merapati dada ratanya. Kepalanya naik turun. Juga pelan, juga perlahan – lambat. Wajahnya kadang berkerut. Tapi sendu. Sebentar kemudian kembali seperti semula. Mimiknya mengabarkan ia sedang larut dalam harap. Sangat dan mendalam. Khusyuk.

Aku tidak dapat mendengar lantunan doanya. Antara kebun tempat aku sedang bekerja dengan komplek kuburan kampung itu sekira seratus meter. Jaraknya hampir sejarak sisi panjang lapangan bola.

“Namanya Yakop”
Ucap seseorang yang terdengar tiba-tiba. Suara itu pelan. Memecah pikiranku yang larut. Tengku Hadi Rupanya. Adik sepupu almarhum ayahku, Kepala KUA kecamatan Kuala Raja. Juga guru mengaji di Surau Gampong Matang Seurela.

Entah karena ingin rehat atau ingin mengajakku kembali bekerja. Teungku hampiri aku. Secaranya dari tadi aku banyak melamun. Tanpa kusadari kini beliau sudah berdiri disampingku.

Sambil menujuk ke arah Yakop yang duduk bersimpuh, Tengku Hadi berujar

“Itu kuburan ayah ibu-nya”,

Aku menoleh dan sedikit terkejut

“Mereka meninggal 8 tahun silam. Waktu memancing di laut lepas. Ayahnya nelayan, padahal cuma hari itu ibunya meminta ikut.

Sudah suratan takdir mereka hari itu. Gelombang besar menghantam sampan kecil bersayap. Terbalik.

Jenazah Ayah-Ibu Yakop ditemukan dua minggu kemudian dalam keadaan meninggal.

Yakop itu hebat. Anak baik. Bijak pula. Tahu bagaimana harus menyikapi hidup. Yang kadang tiada sama seperti diharap,”.

Sampai disitu Teungku Hadi berhenti. Mengundangku untuk menoleh. Sekejap kemudian beliau melanjutkan.

“Kamu tahu, kenapa sekarang dia jadi guru Likee?,”

Aku menoleh kearah Tengku Hadi, meminta jawaban melalui raut wajah. Sambil memandang lekat kearah mataku yang sayu Tengku Hadi menjawab

“Karena Ibunya suka sekali like. Itu baru dilakukannya setelah ibunya meninggal. Padahal semasa
ibunya hidup, dia tidak pernah gandrung akan seni islami itu,”.

Tengku Hadi melanjutkan,
“Yakop pernah bilang,”

“Teungku saya ingin menambah hiburan untuk Ibu di syurga, saya tahu Ibu ingin sekali melihat saya berlegok-berlegok sambil melantunkan likee,”.

“Kamu tahu Mal?, dia juga memancing dilaut?,” Sambung Teungku yang bikin aku tambah heran.

Aku lebih terkejut dengan itu.
Bagaimana mungkin Yakop tidak trauma. Bukankah arus gelombang ganas itu yang membunuh dua orang tuanya? Tidakkah dia trauma berada di atas sampan. Di tengah laut lepas?. Menurutku dia harus menjauhi tempat itu!.

“Mengapa Yakop masih sanggup melaut Teungku?,” Tanyaku kemudian.

“Aku belum pernah menanyakan itu, tapi agaknya aku menemukan jawabnya,”.

Aku mengernyitkan dahi, bagaimana mungkin Tengku tahu, padahal beliau sendiri belum menanyakan.

Teungku Hadi melanjutkan.

“Aku pernah memintanya menggantikan mengajar. Waktu itu suaraku serak. Badan pegal lagi demam pula, Sewaktu dia mensyarah satu bab kitab Tambihul Ghafilun. Dia memberi tahu kepada anak-anak mengaji di balai kita,”

“Apa katanya?,”

Aku mulai tak sabar menunggu jawaban tengku Hadi. Kurasa begitu lambat memberi tahu. Padahal aku butuh segera.

Aku pilih sabar menunggu hingga Teungku Hadi melanjutkan.

“Dia bilang, bahwa kematian itu pasti. Hanya saja Allah merahasiakannya untuk kita HambaNya perihal waktunya. Semua sebab kejadian, hanya cara saja. Kalaulah tiba-tiba atau mendadak, mungkin Allah tidak sabar menunggu kita dengan rahmat alam barzah. Maka tidak patut kita mencela kehendak Allah”. Memang sudah kelaziman kita, menganggap musibah sebagai keburukan. Musibah memang berujung sedih. Tidak sesuai dengan harapan dan keinginan. Tapi tiada boleh kita boleh punya pikiran begitu. Kita harus awas akan pikiran demikian.

Hidup adalah satu perjalanan. Satu dari rute yang harus manusia lewati. Ada perjalanan lain yang harus ditempuh. Kematian, yang kita anggap musibah adalah pintu untuk masuk ke jalan selanjutnya. Di perjalanan selanjutnya itu justru kebaikan bisa jadi diperoleh hamba yang dicintaiNya. Kebaikan dalam bentuk lain. Maka bagaimana mungkin harus dianggap buruk?.

Kematian adalah takdir. Kitapun meyakini itu sebagai bagian dari keimanan. Allah saja yang punya hak mutlak merumuskannya. Melalui keadilanNya.

Mengenali segala rumusanNya itu, dapatlah kita tilik dari nama-namaNya yang baik – Asma’ al Husna.
Coba sebutkan apa ada satu saja dari nama itu yang berkonotasi buruk? Ada yang mau jawab?.

Sampai disitu Yakop diam Mal, menunggu jawaban. Tapi Hening. Tiada satupun bergeming. Dan kau tahu mal, aku sendiri terpaku dengan penjelasan Yakop. Aku memilih diam di sudut balai. Apalagi murid yang lain. Hening betul suasana malam itu.
Semua kami menunggu sampai Yakop melanjutkan.

“Yaa begitulah kita mengenal Allah. Seperti yang Dia beritahu lewat nama-nama baiknya yang 99 itu. Kalau begitu kita mengenalnya, bagaimana mungkin kita menganggap musibah adalah keburukan?.
Bagaimana mungkin kita menggapNya salah ? Padahal kita meyakini Dia adalah Al Haq – yang Maha Benar.

Bagaimana mungkin lewat musibah Ia hendak memberi keburukan mutlak?. Padahal telah mengabari bahwa Dia Ar Rahim – yang Maha Mengasihi.

Tidak. Tidak ada keburukan mutlak atas musibah apapun.
Kalaulah aku dan kita, belum sampai pada makna hakikinya. Percayalah memang kita belum menemukan jawabnya. Dan bukan berarti sesuatu yang tidak kita jangkau itu tiada realitasnya. Tidak. Kita saja yang belum sampai,”

Aku tertegun kagum campur heran. Atas penjelasan Teungku Hadi yang didengarnya dari Yakop. Hingga Teungku Hadi kembali berujar.

“Itu syarah Yakop malam itu Mal. Dari situ aku tahu. Kalau dia telah menerima deras gelombang laut tempo hari yang merenggut nyawa ayah ibunya, hanya pintu untuk membawa mereka ke perjalanan lain. Seperti garis dan kehendak Ilahi rabbi,”

Aku tertegun untuk beberapa saat. Hatiku teraduk-teraduk, antara tidak percaya dan takjub. Tiada percaya sebijak itu Yakop yang remaja memahami hikmah musibah. Berbeda sekali denganku. Saat Ayah meninggal tiga bulan lalu. Apapun bukan bagiku.

Dulu aku rajin belajar sekarang tidak lagi. Dulu aku selalu ke meunasah. Sekarang tidak. Padahal ibu senang sekali saat aku menghadiri jamaah.
Dulu ada saja selalu hadir untuk menghiburi setiap sanak famili bertandang kerumah. Sekarang pedulipun aku tidak.

Sejak Ayahku meninggal, aku berubah total. 180 derajat. Dulu aku rutin olah raga, main basket sama kawan komplek. Itu juga saran ayah. Katanya biar aku sehat dan otakku lebih cerdas. Sebab darah mengalir lancar, mengaliri saraf-saraf otak. Sekarang? Melirik lapangan-pun aku enggan. Padahal aku tahu betul kebiasaanku sekarang bikin Ibu tambah sedih. Tiada kupedulikan.

Aku sadar telah salah. Sangat.

Untuk beberapa saat aku hanyut dalam lamunanku. Bahkan Aku tidak menoleh saat Teungku Hadi menepuk pundakku. Baru baru menoleh saat Teungku Hadi memberi nasihat,

“Mal, Ayahmu dulu pernah bilang kau anak paling cerdas. Dia menaruh harapan besar padamu. Ada adik-adikmu yang harus kamu beri perhatian. Itu tanggung jawabmu. Belajarlah dari Yakop. Jangan bikin Ayahmu risau di perjalanannya yang lain. Ibu dan adikmu juga sudah cukup sedih dengan kepergiaan Ayah. Sudah cukup,”

Setelah mengatakan itu Teungku Hadi berlalu menuju cangkulnya. Sementara aku tetap melihat Yakop dari jauh. Kudapati Yakop selesai dengan doanya. Sebelum beranjak dari dua pusara itu, Ia menyempatkan diri mencium dua nisan milik Ayah – Ibunya.

Andai saja aku sempat saat itu. Ingin kujabat tangannya. Mengucap terima kasih karena telah menyadarkanku. []