Kliwon, Mantan Serdadu Colone Macan

SEORANG wanita gempal berkulit hitam membukakan pintu. Gegas melangkah diikuti pria dengan lars mengkilap yang berjalan tegap, melewati jejeran dipan. Pada ujung ruangan, wanita berpakaian serba putih yang lain kembali membuka pintu selanjutnya. Kedua pria tersebut masuk.

Mereka menanggalkan topi sebagai tanda hormat. Untuk seorang yang terbaring nyaris sekarat di atas dipan. Selarik sinar matahari pagi menerobos celah-celah jerjak tingkap, membias pirang pada rambut berwarna sabut kelapa kedua pria itu.

“Tuan Heytroen, apakah kubur ku di Ateuk ?” Heytroen tidak menjawab.

“Aku tidak mau di Ateuk. Aku menuntut jatah di Kerkhof .” Heytroen masih membisu.

“Apakah juga ditabalkan inlander fusilier pada penghujung namaku? Apakah aku overleden ?” Suara parau lelaki berkulit coklat yang terbaring lemah itu menghentak. Terdiam sesaat. Kemudian kembali berujar,

“Aku tidak mau itu. Aku mau Kerkhof. Tertulis Kliwon Der Heijden, F. Art . Gesneuveld . Dan permintaan terakhir, nisan tinggi berukir Sersan Colone Macan . Di sisi lingga pelinggam Kohler. Titik.” Heytroen terdiam sekian saat, kemudian menggeleng.

“Anggap saja sebagai pembayar jasa-jasaku di Samalanga.” Ujar Kliwon dengan nada semakin meninggi.

Memang Heytroen menjadi saksi kala Kliwon memanggul Van Der Heijden yang bermandi darah menjauh dari garis depan kala pertempuran di Samalanga. Usai pertempuran mereda, Kliwon pula yang dengan gagah berani menancapkan Prinsenvlag beralas jasad para pribumi yang bertindih-tindih. Padahal ketika itu, desing-desing sesekali masih melesak dari balik semak-semak kebun kelapa.

“Inilah Kopral Kliwon. Kliwon Der Heijden.” Teriak Van Der Heijden lantang dihadapan ratusan para serdadu yang disambut dengan sorak-sorai sembari mengacung-acungkan karaben dengan tangan kiri dan klewang pada tangan kanan, kala merayakan keberhasilan menancapkan bendera.

Penabalan nama Belanda itu pula yang membuat Kliwon semakin terkenal di kalangan para serdadu marsose. Karena diumumkan menjadi Belanda seutuhnya oleh Jenderal utusan Ratu, Kliwon dapat semakin menepuk dada yang membusung. Dan keberanian pun menjadi berganda-ganda. Kumpulan keberanian beraroma bengis itu pula salah satu penyebab utama menjadikannya seorang Sersan untuk unit Colone Macan. Sebelum misi meretas rimba menuju dataran Gayo.

Sekian saat Heytroen tersekap dalam diam. Dia tidak dapat serta-merta mengabulkan permintaan Kliwon. Perkara menanam jasad serdadu, tidak semudah membubuhkan tanda tangan pada secarik kertas untuk mendapat sekerat pengakuan dari Ratu berupa medali kehormatan. Ini bukan masalah jasa dalam pertempuran, perihal pengabdian tercukupilah dengan beragam lempengan yang telah disematkan. Ini persoalan marwah Merah Putih Biru. Heytroen memilih bungkam. Berpikir keras kiranya. Lantas ia berkesimpulan, menggeleng pelan.

Kliwon menyeringai, matanya memerah penuh amarah. Heytroen terkinjat. Memundur. Sorot mata yang memerah itu serupa tatkala Kliwon mengayunkan klewang dan kemudian mengarak kepala Pang Amat, sebagai balasan karena telah memenggal Letnan Richello di rawa-rawa Tambue. Sekira setahun sebelum penabalan nama Belanda karena memanggul Van Der Heijden yang berdarah-darah sebab peluru pribumi menembus mata kirinya.

Seringai tersebut masih lekat benar dalam ingatan Heytroen. Seringai Kliwon itu tak ubah saat mengiris dada-dada para tertekuk di Kutareh. Kala itu Heytroen terpaksa mengeluarkan seisi perut, karena Kliwon menyematkan seiris potongan pada ujung karabennya.

Ketakutan seketika menyergap Heytroen. Murka Kliwon kian memuncak. Segenggam medali bintang jasa anugerah Ratu dilemparkan ke arah Heytroen. Bergemerincingan ke lantai. Kliwon meronta sembari menyumpah serapah.

Heytroen membersut, mukanya memerah. Mendengus, menahan luapan amarah. Hendak maju menghajar serdadunya itu. Namun Heytroen kembali tercekat. Seringai itu kembali menggetarkan kedua lututnya. Terpaksa dia mengurungkan niat.

Walau kini terbujur lemah dengan luka robek tepat di dada. Namun itu tetap seringai buas seorang serdadu Colone Macan. Dingin, tetapi kampak pencabut nyawa yang bergagang panjang tergenggam, seolah menyandar di bahunya. Siaga memperlempang jalan ke surga atau neraka.
Heytroen membanting pintu. Meninggalkan Kliwon menceracau dalam kutukan. Beberapa suster membujuk Kliwon untuk tidak meninggalkan dipan. Kemarahan Heytroen begitu memuncak. Bersungut-sungut pada Ajudannya,

“Inlander itu telah menghina Ratu.”

“Dia melanggar pasal haatzai artikelen dan lese majeste . Polisi Militer akan menyeretnya ke hadapan oditur.” Sahut Ajudan menjelaskan dosa Kliwon.

“Terlalu pelik dan merepotkan. Ini medan perang. Gubernur Van Daalen tidak mengekang serdadu Marsose maupun Colone Macan dengan hukum atau pengadilan.” Ujar Heytroen.

“Siap, Mayor!” Sahut Ajudan memahami perintah, sembari menabik.

***

Kliwon tersadar. Mendapati dirinya mengimbak-imbak. Dengan leher terkujut pada perakaran bakau, tepat pada mulut lungkang pembuang kotoran sapi perah milik Benggali. Di pinggiran sungai Kampung Keudah kiranya. Kliwon tahu, karena samar matanya dapat melihat jejeran bambu penahan gundukan parit Benteng Peunayoeng di seberang sana, benteng yang ia tempati sekembalinya dari Tanah Gayo.
Kliwon menggerapai. Ia dapati tangannya tersimpai. Ia kembali menggelalar. Namun simpul itu terlalu erat. Kliwon tidak dapat melepaskan diri. Tenaganya kini kalah kuat dengan simpulan temali yang membelit leher dan kedua tangannya.

Lamat-lamat terdengar himne yang dinyanyikan serdadu muda dengan penuh semangat dalam parade petang dari arah benteng,
“Wie kent er niet die brave zielen. Die aan het verre Atjehstrand. Al voor de eer van Nederland. Vielen’t Rood, Wit, Blauw in hun verstijfde hand. We zullen hunnen assche eeren, wreken. En waar ik ga of sta of zit, zal ik hun naam met eerbied spreken. Want dat waren jongens van Jan de Witt. ”
(Siapa yang tidak kenal jiwa-jiwa yang berani. Yang berjuang di pantai Aceh yang jauh. Gugur demi kehormatan Belanda. Warna merah, putih dan biru di tangan mereka yang sudah kaku. Kita akan menghormati dan membela jasad mereka. Dimanapun aku berada, aku akan menyebut nama mereka dengan penuh hormat. Karena mereka adalah para pemuda Jan de Witt.)

“Begini balasan mereka untukku. Aku tetap pribumi. Bukan Belanda. Bendera Ratu kini untuk membebatku.” Kliwon lirih bergumam.
Sesungging senyuman menggelayut. Berlintas-lintas bayang menyambangi benaknya. Sebelum terpasung dalam apung sedagu di sini, dia berseregang dengan Heytroen. Sebelum Heytroen membezuk, suster-suster Ambon hampir sepekan merawatnya di bangsal Benteng Peunayoeng. Sebelumnya lagi, dia terkecoh kedip seorang wanita di pelataran Taman Sari. Mengira sundal keling berselendang, ternyata Aceh Moorden . Sebelumnya… Sebelumnya… Sebelumnya… Hingga bayangan Kliwon kecil kala merampas gundu teman, menari-nari seolah teramat dekat.

“Semuanya telah berakhir.” Kliwon kembali mendesah. Dalam sesal dia mencari cari tuhan. Namun tuhannya telah mulai berpaling semenjak Kliwon baliqh selalu melafaz Kidungan kala mengacaukan kumpulan ratusan itik milik Embah dan menendangnya hingga yang nahas jatuh ke empang, pun kini tiada dapat diingati lagi bait-baitnya. Dan tuhan telah benar-benar pergi semenjak Kliwon tersesat jauh dari Manunggaling , bersebab kesibukannya memburu guyur medali-medali anugerah Ratu.

Sang tuhan yang lain belum lagi ia temukan sampai matanya membelalak. Satu hentakan sekilap menarik jantungnya. Keluar melalui bekasan gores memanjang hujaman rencong yang belum sembuh benar pada sela iga. Biawak merenggutnya dan merenangkan. Beberapa yang lain mendudu cepat dengan lidah bercabang menjulur-julur. Hendak merebut gumpal yang sesekali masih berdenyut itu, kiranya mendapati secabik untuk makan malam mereka.

Aceh, Agustus 2015

Ateuk yang dimaksud adalah Sebidang tanah pemakaman di Kampung Ateuk, Banda Aceh, tempat dimakamkannya serdadu marsose pribumi.
Kerkhoff: Pekuburan serdadu Belanda yang gugur semasa Perang Aceh.
inlander fusilier: Idenditas yang di gunakan untuk menandakan tentara Marsose pribumi dari Jawa.
overleden: Serdadu yang meninggal karena sakit akan di sertai dengan keterangan overleden pada nisannya.
F. Art: Identitas yang di gunakan untuk menandakan tentara Marsose Belanda (non pribumi).
Gesneuveld: Serdadu yang mati dalam pertempuran akan di sertai dengan keterangan gesneuveld pada nisannya.
Colone macan: Merupakan unit khusus berisikan serdadu-serdadu pilihan dari sekian puluh ribu pasukan elite Marsose yang bertugas di Aceh.
Prinsenvlag: Sebutan untuk bendera Belanda
Inlander: Sebutan untuk pribumi.
Haatzai artikelen (pasal tentang penyebaran kebencian). Lese majeste (pasal kejahatan terhadap kerajaan). Pasal terbut efektif berlaku pada tahun 1881, dengan ancaman maksimal 5 tahun penjara. Pemerintah Belanda pada tahun 1918 menghapus pasal tersebut.
Salah satu lagu karaben, yang selalu dinyanyikan oleh para serdadu marsose sebagai pemantik semangat tempur.
Aceh moorden: Aceh gila. Suatu pembunuhan khas Aceh. Dengan nekad seseorang melakukan penyerangan terhadap orang-orang Belanda. Siapa saja dan dimana saja.
Kidungan: Doa-doa/mantra-mantra dalam aliran Kejawen.
Manunggaling: Inti dari ajaran Kejawen