Aku Berontak, Maka Kita Ada!

Almarhum Hasan Tiro> Soource: AP Photo.

Oleh Iqbal Ahmady M Daud*)

“Selamat untukmu, Fidel. Karena mulai hari ini kau memasuki jejak sejarah orang-orang besar Amerika. Jejak yang akan membuktikan pada dunia, adalah mungkin mendapatkan kekuatan dan kemerdekaan dengan mengangkat senjata, dan didukung oleh rakyat”. (Che Guavara kepada Fidel Castro, 3 Mei 1958)

Telah empat dekade lebih sejak ide yang memenuhi alam pikiran Hasan Tiro bertemu dengan raganya. Ide adalah ruh, yang biasanya bersifat fana tidak terlihat. Biasanya terlintas terbayang dibenak, dan sesekali terlontar melalui prosesi wicara. Dalam tahapan menuju kesempurnaan tingkat lanjut, setiap ide akan tercetak menjadi tatanan aksara. Terbaca oleh khalayak, yang kadangkala akan menuntun pembaca untuk terhasut oleh pemikiran empu kata-kata. Kondisi ideal seperti yang Gabriel García Márquez pernah katakan, cara terbaik yang membuat seseorang dapat menjalankan revolusi adalah menulis sebaik apa yang dapat dia lakukan. Dan akhirnya ide mencapai purna, ketika ide terlepas dari jagat wacana menuju kreasi nyata. Ide pemberontakan Hasan Tiro menjadi menjadi kasat dalam wujud jasad Gerakan Aceh Merdeka (GAM) yang diproklamirkannya pada 4 Desember empat puluh satu tahun yang silam.

Sebenarnya, judul tulisan ini bukanlah lima kata yang biasa. Namun, merupakan adagium Albert Camus dalam L’Homme Revolté (1951). Tulisan ini sedikit terjerumus ke dalam upaya membandingkan ide pemikiran Hasan Tiro—sebagai aktor utama pemberontakan GAM, dengan ide dari para pemikir yang memiliki “fantasi pemberontakan” juga. Saya tertarik menggunakan ide pikiran Camus untuk menelaah ide pemberontakan atau gerakan perjuangan kemerdekaan yang terjadi di Aceh.

Terlebih pada saat ini Aceh kembali dipimpin oleh salah satu dari mantan kombatan GAM. Telah tiga periode beruntun pasca damai, eks GAM memenangi pemilihan pemimpin Aceh melalui sebuah pemilihan yang demokratis. Terlepas bahwa terjadinya perpecahan beberapa faksi dalam tubuh mantan kombatan, kita semua tidak dapat memungkiri bahwa mereka semua adalah individu-individu yang memiliki ide pemberontakan di masa lampau.

Esensi Pemberontakan

Siapakah pemberontak itu? Camus menjelaskan pemberontak itu adalah seseorang yang berkata “tidak”. Seseorang yang selama hidupnya menerima perintah, dan memutuskan mengatakan “tidak” pada perintah baru. Perlawanan yang dilakukan, membuat seseorang menjadi manusia yang utuh. Dengan pemberontakan, kesadaran itu lahir. Kesadaran agar dihormati, menjadi setara dalam hak, dan menolak penghinaan. Dasar tersebutlah menjadi argument perihal pemberontakan Aceh dibangun. Dalam banyak literatur, kerangka filosofis demikian yang mendasari pemberontakan di Aceh yang dijalankan oleh Hasan Tiro. Harga diri, marwah, keinginan untuk tidak menjadi budak hingga perasaan tidak ingin ditindas membuat gerakan perjuangan kemerdekan ini meletus.

Dalam gagasan pemberontakan, Hasan Tiro juga dipengaruhi oleh ide dari Nietzsche. Mengutip tafsiran Nezar Patria, Hasan Tiro membawa ide pemberontakannya ke wilayah pergulatan eksistensial: makna hidup dan mati. Dengan argumen hanya ”manusia bebas” dan bukan budak bagi lainnya, bisa memilih ”bagaimana harus hidup” dan ”kapan harus mati”. The free man is a warrior, baginya orang yang merdeka adalah seorang pejuang. Selaras dengan yang diungkapkan oleh Camus, “Masyarakat menentang negara…, kebebasan yang penuh perhitungan menentang tirani rasional, akhirnya individualisme altruistik menentang kolonialisasi massa”. Dalam pandangan saya, Hasan Tiro terjangkit Altruisme yang membuatnya terpanggil dan merasa harus menjadi detonator pemberontakan. Menjadi penanggung jawab dari beban sejarah ‘trah tiro’, sebagai katalisator keadilan bagi rakyat Aceh.

Camus mempercayai bahwa pemberontakan adalah salah satu “dimensi-dimensi esensial” dari umat manusia. Sia-sialah mengingkari kenyataan sejarahnya—lebih baik kita mencari di dalamnya suatu prinsip eksistensi. Filsafat pemberontakan ala Camus—seperti yang Herbert Read kemukakan—dimulai dengan penyangkalan mutlak Sade, melirik pada Baudelaire dan “para dandies”, melewati Stirner, Nietzsche, Lautréamont dan kaum surealis. Camus menarik suatu kesimpulan yang jelas antara pemberontakan (rebellion) dan revolusi (revolution). Menurutnya, revolusi selalu meliputi penegakan suatu pemerintahan yang baru. Sementara pemberontakan adalah tindakan tanpa pokok masalah yang terencana, yang adalah suatu proses yang spontan.

Romansa Perjuangan GAM

Hasan Tiro menyadari sebuah ketentuan dasar pemberontakan adalah dengan harus mendapatkan hati dan dukungan rakyat. Suatu keniscayan seperti kalimat yang diucapkan Che kepada Fidel diawal tulisan, bahwa adalah mungkin mendapatkan kekuatan dan kemerdekaan dengan mengangkat senjata, dan didukung oleh rakyat. Sulit membantah bahwa pada era konflik, sebagian besar masyarakat Aceh mengelukan perjuangan GAM. Kecintaan, rasa memiliki dan kenangan akan romansa perjuangan jua lah yang membuat rakyat Aceh memilih mantan kombatan GAM memenangi Pilkada Gubernur untuk tiga periode pasca MoU Helsinki (2007, 2012 dan 2017). Kemudian Partai Aceh sebagai official party mantan kombatan juga unggul di dua pemilu legislatif (2009 dan 2014)

Fenomena politik yang absurb, memunculkan pertanyaan serius kenapa kelompok pemberontak bisa menang. Mengingat kemenangan tersebut tentu tidak mudah, asumsi yang terbangun tentu mustahil Jakarta tidak terlibat dalam upaya menghambat para mantan separatis menguasai kursi kepemimpinan dan supremasi politik Aceh. Jawabannya adalah pada saat itu pemberontakan telah memasuki alam metafisik. Pertama, pemberontakan sebagai sebuah aksi, dan pada saat bersamaan muncul para kombatan sebagai entitas yang menyertainya. Aku berontak maka kita ada.

Klaim atas perjuangan dan nikmatnya hasil perdamaian sah-sah saja dilakukan oleh mantan kombatan. Meminjam pernyataan Henri Tolain: “Les êtres humains ne s’émancipent qu’ au sein des groupes naturels”—manusia hanya mengemansipasi diri mereka atas dasar kelompok ilmiah. Camus menunjuk sindikalisme, gerakan politik yang didasarkan pada kesatuan organik dari sel-sel dan yang merupakan penyangkalan sentralisme yang abstrak dan birokratik. Namun yang berbahaya jika klaim ini telah kelewat batas, misalkan dengan keluar jalur dan berpura-pura amnesia akan motivasi awal pemberontakan. Menyangkal akan sumpah serta nazar mereka dalam menghilangkan penindasan atas masyarakat, bahkan malah menjadi penindas baru.

Maka dalam memaknai 41 tahun menyatunya dalam ranjang pergerakan antara ide yang mendiami relung pikir Hasan Tiro, dengan jasmani organisasi hingga lahirlah GAM, para mantan kombatan yang terlibat didalam dunia politik wajib merevitalisasi motivasi, kinerja dan pencapaian. Mengingat trend terkini, mereka menjadi alamat dari rasa kecewa masyarakat atas buruknya kinerja pemerintahan. Mengikuti nasihat Camus, bahwa di akhir dari pencarian panjang tentang pemberontakan dan nihilisme, pemberontakan itu tanpa batas kecuali kepentingan sejarah yang menandai perbudakan yang tanpa batas. Pikiran revolusioner haruslah kembali pada sumber pemberontakan dan menarik inspirasinya. Mereka harus merebut kembali simpati dan cinta yang dulu pernah bersemi dihati rakyat, dengan mewujudkan sebesar-besarnya kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat Aceh. Jangan pernah lupa akan hubungan historis dengan rakyat, seperti yang Camus ucapkan, “Bahwa pemberontakan tak dapat eksis tanpa sebentuk cinta yang asing”

*) Penulis adalah pengajar di FISIP Unsyiah. Email: iqbal.ahmady@gmail.com