Pendidikan bencana untuk yang Spesial

Zahrina. Ist.

Oleh Zahrina*)

13 tahun telah berlalu sejak bencana mahadahsyat memporakporandakan tanah Serambi Mekkah. Gempa berkekuatan 9,2 skala richter mengguncang bumi di pagi yang damai. Disusul amukan gelombang laut yang menghantam ribuan rumah serta ratusan ribu jiwa manusia. Hari Minggu itu, seluruh perhatian dunia teralihkan ke ujung barat Indonesia.

Pertemuan tiga lempeng aktif dunia yang terdapat di bawah Indonesia menyebabkan negara ini sering dilanda bencana. Pergerakan lempengnya yang konvergen atau saling bertumbukan menjadikan Indonesia kaya akan gempabumi dan gunung api. Hal ini juga yang menyimbolkan tanah air kita berada di jalur ring of fire atau cincin api.

Gempabumi Aceh 26 Desember 2004 merupakan gempabumi yang berdiri sendiri, ini bermakna bahwa telah lama terjadi seismic gap di sekitar pantai barat Aceh. Seismic gap sendiri adalah kawasan-kawasan yang telah lama tidak terjadi gempa dan energi yang terkumpul lama tidak terlepaskan. Sehingga menghasilkan gempa yang sangat besar sewaktu terjadi pelepasan energi tersebut. Karena pusat dari gempa berada di laut atau sering disebut gempa laut, bergesernya patahan menyebabkan air terserap masuk sehingga area sekitar pantai mengalami surut air laut yang tak lama kemudian menimbulkan tsunami.

Mirisnya kejadian ini menjadi salah satu penyebab jatuhnya banyak korban jiwa dikarenakan kurangnya pengetahuan pada masyarakat sekitar pesisir. Saat itu tidak ada yang tahu bahwa surutnya air laut merupakan tanda akan tejadi gelombang besar yang naik ke daratan, sehingga bukannya menjauh dari pantai dan menyelamatkan diri ke daerah yang lebih tinggi, masyarakat sekitar malah berbondong-bondong menuju pantai untuk mengambil ikan yang bertebaran karena air laut yang surut.

Kejadian ini cukup menjadi pelajaran besar bagi seluruh lapisan masyarakat. Rehabilitasi dan rekonstruksi terbaik terus dilakukan semua pihak demi kehidupan Aceh yang lebih baik. Kegiatan mitigasi baik struktural maupun non-struktural pun sudah sangat giat dilaksanakan, kerjasama dalam hingga luar negeri pun sangat erat terjalin.

Namun sayangnya ada hal yang sering luput dari perhatian, yaitu keberadaan teman-teman spesial yang memerlukan kebutuhan khusus. Padahal jika dilihat dari formulasi pengurangan risiko bencana, nilai kerentanan harus diperkecil guna memperkecil risiko jatuhnya korban serta kerusakan struktural. Yang mana orang-orang spesial ini merupakan salah satu kerentanan yang juga harus dapat perhatian khusus dalam kebencanaan.

Momen peringatan gempa dan tsunami Aceh selalu menjadi sarana pendidikan kebencanaan langsung dan tidak langsung untuk seluruh lapisan usia. Bahkan kegiatan simulasi bencana pun sudah diterapkan mulai dari usia sekolah dasar. Namun keterlibatan teman-teman difabel sangat kurang dijadikan fokus.

Sedikit melihat pada rangkaian kegiatan peringatan 13 tahun tsunami Aceh yang dilaksanakan oleh Forum Pengurangan Risiko Bencana Aceh, terdapat satu kegiatan yang sangat inspiratif, yaitu Pelatihan Remaja Tangguh Bencana (PRTB). Para remaja diberikan pendidikan bencana, khususnya gempabumi dan tsunami, serta menanamkan jiwa pahlawan bagi diri sendiri juga orang lain. Hal yang paling menarik adalah dilibatkannnya teman-teman spesial berkebutuhan khusus sepanjang kegiatan ini. Mereka berbaur dengan sangat baik tanpa terlihat perbedaan. Ketertarikan serta rasa ingin tahu terhadap mitigasi bencana pun sangat besar mereka luapkan.

Memang akan banyak kesulitan yang dihadapi dalam penyampaian setiap pengetahuan bencana, ditambah lagi jika penerjemah bagi mereka yang tuna rungu tidak memiliki dasar kebencanaan yang baik. Tapi harusnya ini menjadi salah satu fokus pemerintah dalam mengurangi risiko bencana.

Undang-undang dasar telah menjamin terpenuhnya pendidikan bagi seluruh warga Indonesia, termasuk untuk teman-teman spesial. Dan pendidikan bencana merupakan pengetahuan yang paling penting bagi kita yang hidup berdampingan di negeri bencana ini. Didukung dengan adanya fasilitas ramah difabel menjadikan mereka yang spesial merasa tidak terkucilkan.
Bencana merupakan kejadian yang datang tak terprediksi secara pasti. Kesiapsiagaan sangat harus ditanamkan sedini mungkin pada seluruh lapisan masyarakat tanpa membedakan kondisi apapun. Pengurangan risiko bencana dapat berjalan baik saat seluruh aspek kerentanan diberi perlakuan khusus dalam penanggulangannya. Menjadi tangguh adalah hal terpenting untuk hidup berdampingan dengan bencana. Be prepare, be aware, Be resilience.

Oleh : Zahrina.
(Mahasiswa Program Studi Magister Ilmu Kebencanaan, Universitas Syiah Kuala.)