Stateless, Rohingya dan Diriku (Catatan Perjalanan)

Tujuan awal perjalananku kali ini ke Penang, Malaysia sebenarnya untuk berobat rutin, tetapi sesampainya disana saya bertemu dengan teman-teman relawan dari salah satu Non Government Organisation (NGO) Indonesia yang punya program memberikan pelayanan medis kepada pengungsi Rohingya yang ada di Malaysia.

Dari sekitar 150 ribu pengungsi Rohingya yang tersebar di Malaysia, ada sekitar 5000 Rohingya di Pulau Penang dan sekitar 1500 di Pulau Langkawi. Demikian info yang saya dapatkan dari teman-teman relawan disela-sela menunggu hasil pemeriksaan medis saya.

Ajakan dari para relawan tersebut untuk bergabung bersama mereka untuk memberikan pelayanan medis kepada orang-orang Rohingya langsung saya ‘iyakan’, apalagi misi medis kali ini adalah dengan mendatangi rumah ke rumah tempat mereka tinggal, ini satu pengalaman menarik bagi saya yang baru saja terjun ke dunia kerelawanan.

Antusiasme saya bertambah ketika dikenalkan bahwa dalam tim kami ada dokter spesialis yang rela meninggalkan dunia kerjanya di Indonesia (yang penuh dengan limpahan materi) dan datang ke sini dengan kocek sendiri sekaligus berbuat tanpa imbalan sepeserpun, bahkan dalam beberapa kesempatan beliaulah yang membayar makanan yang sudah kami habiskah (oh terharunyaa…).

Juga ada perawat Anestesi yang juga dengan lapang dada meninggalkan ruang operasinya ‘hanya untuk’ mendatangi dan memeriksa kesehatan para pengungsi. Dari sini semangat saya bangkit untuk turut serta membantu.

Dan yang paling menariknya lagi bahwa kali ini tim kami ditemani dengan dua orang relawati asli Malaysia. Senangnya hati karena mendapat teman baru yang memiliki ketertarikan di dunia yang sama. Tentunya ini menjadi catatan sendiri sebab di tanah Aceh ataupun di Malaysia sendiri kurang layak kalau seorang wanita sendirian berada ditengah-tengah para relawan pria.

Misi medis kali ini adalah pengalaman pertama saya terlibat langsung membantu korban bencana kemanusiaan di luar negeri. Kunjungan pertama kami adalah mendatangi sekolah anak-anak Rohingya yang didirikan oleh komunitas Rohingya sendiri, mengingat anak-anak Rohingya di sini tidak diperkenankan bersekolah di sekolah negeri karena ketiadaan kewarganegaraan atau stateless.

Sekolah yang saya maksud di sini sebenarnya hanya ruang sholat (mushola) yang disulap menjadi ruang kelas dengan kursi plus meja tangan untuk masing-masing siswa. Mushola yang sebelumnya menjadi ruang kelas pun serta merta menjadi ‘ruang praktek’ dokter, tidak kurang dari 30 orang dari anak-anak Rohingya berserta orangtua mereka hadir dalam pelayanan medis kali ini.

Banyak cerita kami dengar dari orang-orang Rohingya, sebagian dari anak-anak yang bersekolah ditempat tersebut adalah anak yatim piatu yang orangtua mereka menjadi korban kekejaman junta militer Myanmar. Mereka terbawa bersama rombongan yang melarikan diri karena khawatir ikut menjadi korban kebiadaban.

Tak terasa air mata mengalir dari sudut mata, terbayang saat mereka harus melarikan diri, tanpa alas kaki, tanpa bekal mencukupi dan tanpa orang tua yang melindungi.

Terbayang jelas dimata tragedi tsunami 13 tahun lalu, betapa beratnya menjadi pengungsi. Tapi saya masih beruntung karena masih ada yang tersisa dari keluarga, masih memiliki kewarganegaraan sehingga masih berhak dengan bantuan dari pemerintah, sedangkan mereka? Stateless tanpa kewarganegaraan, ada tapi dianggap tiada. Di negeri sendiri tidak diakui bahkan dihilangkan hak warganegaranya, bagaimana bisa berharap lebih di negeri orang?

Asnidar
Penang, 5 januari 2018