Catatan Sahabat: “72 Menit Bersama Untung Sangaji”

8 Maret 2018 pukul 22.00 WIB. Secara tak sengaja kami bertemu di Lhokseumawe. Kemudian kami kembali bersepakat untuk bertemu lagi esoknya, Jumat, 9 Maret 2018.

Ya, AKBP Untung Sangaji kini tengah menjadi Sorotan Dunia International, apalagi kalau bukan karena tindakan persuasif terhadap Kaum LGBT yang telah membuat alim ulama di Kec. Lhoksukon khususnya dan Aceh Utara secara umum telah tidak nyaman dengan perilaku mereka.

Sikap dan perilaku (waria) telah membuat Nilai nilai Syariat Islam yang di syiarkan di bumi Malikussaleh, tercoreng, dimana perubahan bentuk dan perilaku mereka kaum LGBT dari laki laki menyerupai wanita telah membuat resah alim ulama.

Karena akan menjadi preseden tak baik bila tidak ada perhatian dari aparat penegak hukum, dan dikhawatirkan akan ada pergerakan massal yang tentu tidak bisa diprediksi ujung muara ceritanya.

Pasca AKBP Untung Sangaji melakukan penindakan persuasif tersebut, puluhan lembaga yang terusik dengan Supremasi Hukum Islam di Aceh melakukan manuver manuver untuk melakukan kampanye massif bahwa Untung Sangaji telah menjadi tersalah di dunia dan di akhirat.

Namun, Allah SWT berkehendak lain, tanpa ada yang mengkomandokan, terjadi gerakan massal dari berbagai Ormas Islam, dan tergabung dengan Puluhan Ormas lainnya yang berjumlah 146 Lembaga Ormas.

Ratusan Ormas itu melakukan Aksi simpatik mendukung Aksi Untung Sangaji Kapolres Aceh Utara dalam menindak Persuasif para waria, Pada hari Jumat 02 Februari 2018 di hadapan mesjid Megah Rakyat Aceh Baiturrahman Banda Aceh.

Tak ayal, dalam aksi tersebut selain di hadiri unsur ulama yang silih berganti melakukan Orasi, juga secara spontan di hadiri oleh Gub Aceh Irwandi Yusuf dan Ketua DPR Aceh Tgk Muharuddin, seusai melaksanakan shalat Jumat mesjid Raya.

Jumat 09 Maret 2018. Kami menunaikan Shalat Jumat di Mesjid Baiturrahhim lhoksukon Aceh Utara, penulis menanyakan kepada Untung Sangaji apakah benar beliau dimutasi menjadi Wakil Direktur Polisi Air Polda Sumatra Utara, dengan santai menjawab:

“Bang Re**, panggilan akrab Sang Kapolres kepada Penulis, Kita diciptakan oleh Allah sebagai Khalifah dimuka bumi, maka berkewajiban pula kita melaksanakan apa yang diperintah Allah dan menjauhkan yang dilarang Allah, bagi saya dimanapun kita hidup kita harus berprinsip “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat kepada manusia.“

Saya bertanya lagi, apakah mutasinya ke Medan karena aksi Kontra LGBT oleh pendukung mereka? “Bang, pimpinan telah mengevaluasi terhadap bawahan, dan pengembangan karier serta perjalanan dinas itu sudah ada role dan rule, jadi semua sudah tersistem, Dimana pun saya diamanahkan oleh Pimpinan sebagai seorang Prajurit alat negara saya siap melaksanakan tugas dimanapun, karena tidak ada satu pun yang bisa intervensi lembaga kepolisian yang saya cintai ini, yang penting bagi saya adalah prinsip tadi seperti yang saya sampaikan di atas, manusia yang baik adalah manusia yang bermanfaat bagi orang lain,” jawab Untung dengan ringan.

Selamat Jalan Pak Untung, Kami bangga anda pernah menjadi pimpinan Kepolisian jajaran Resort ditempat kami, sejak bapak bertugas tidak ada lagi saudara dan sahabat kami yang nyawanya keluar karena pergesekan konflik politik beda partai, tidak kriminal bersenjata yang meletup menuai amisnya darah, anda telah berhasil mengubah wajah kepolisian di Aceh Utara di tengah apatis terhadap tindakan hukum sebagai pengayom masyarakat, anda telah merealisasikan bahwa Polisi telah berubah dari Combatan ke Civilization. Semoga sukses sempurna ditempat yang baru.

Penulis adalah Reza Vahlevi, sahabat Untung Sangaji.