Suka Duka Pemetik Kopi Gayo

Salah seorang warga saat memanen kopi Gayo (Foto: aceHTrend/Taufik)

ACEHTREND.CO, Banda Aceh – Jemari pemuda itu terlihat gesit dan lincah takkala melihat buah kopi yang sudah merah. Tak puas dari satu pohon, lalu berpindah ke pohon lainnya. Dalam sekejap, biji-biji kopi sudah masak itu sudah memenuhi keranjang yang disikap pada tangan kirinya. Sekali-kali, pemuda paruh baya ini menyeka keringat yang mengucur dari dahinya.

Ia adalah Amri, warga desa Pondok Sayur, Kecamatan Bukit, Kabupaten Bener Meriah. Aku bertemu dengannya pada awal Mei lalu. Disana, Amri tak sendirian. Ia turut dibantu oleh istri dan dua anaknya memetik kopi di ladang Fauzan Alia, sang pemilik kebun di kampungnya. Sosoknya terlihat santun namun tak banyak bicara. Senyumnya hanya sesekali terlihat mengembang takkala saya mencoba menyapanya.

“Maaf bang, bentar lagi mau hujan kayaknya. Jadi saya agak buru-buru dikit, takutnya nanti gak terkejar target petiknya,” ujar Amri dengan nada sopan.

Saya pun menggangguknya tanda setuju. Meski demikian, saya tetap membujuknya agar sehabis Dzuhur bersedia untuk berbagi cerita dan pengalaman denganku.

Usai salat Dzuhur, Amri akhirnya bersedia menemuiku di gubuk milik Fauzan. Awalnya, Amri hanya bersedia duduk sebentar saja, tapi atas persetujuan Fauzan, akhirnya ia mau berbagi kisah denganku hingga beranjak petang.

Pria yang hanya mengenyam pendidikan tingkat SMP ini mengaku sudah bergantung hidupnya sebagai pemetik kopi. Ia bersama istrinya mendapat upah tergantung dari hasil kopi yang dipetiknya.
“Kalo makin banyak kita petik, makin banyak pula bayaran kita dapat. Kalau lagi musim panen begini alhamdulillah lumayan cukup untuk makan, bisa dapat 80 hingga 100 ribu rupiah,” ujar Amri.

Amri mengatakan, setiap harinya ia beserta istrinya bisa memetik 7 hingga 8 kaleng. Masing-masing kaleng itu isi kopinya mencapai 10 kilogram dengan upah Rp 20 ribu. Akan tetapi, musim panen kopi hanya bisa digelutinya setahun sekali, yaitu dari awal Desember hingga penghujung Maret. Sisanya, mereka hanya pasrah kepada nasib sebagai buruh harian.

“Ya, mau gimana lagi karena bulan itu aja musim petiknya. Palingan nyari kerjaan lain aja dulu, asalkan halal,” ujarnya sembari menyulut rokok tembakau khas Gayo.

Biji kopi Gayo siap panen (Foto: aceHTrend/Taufik)

Hal senada juga diungkapkan Fauzan Alia, sang pemilik kebun kopi kepada saya. Sosok yang akrab disapa Fauzan ini mengaku, saat ini belum ada keseriusan pemerintah setempat untuk memberdakan serta memperhatikan nasib petani kopi.

“Padahal kopi Gayo ini kan sudah terkenal di seantro Nusantara, bahkan hingga ke mancanegara. Tapi lihat nasib saudara kita disini sebagai pemetik kopi yang mayoritasnya dikerjakan oleh perempuan. Upah mereka sangat sedikit sekali. Padahal mereka sangat berkontribusi besar terhadap produksi kopi arabica ini,” ujar Fauzan lagi.

Fauzan menceritakan, kontribusi para pemetik kopi di kebun maupun penyortir kopi di pabrik-pabrik tidak membawa perubahan terhadap nasib perekonomian mereka. Ternyata keharuman dan citarasa kopi Gayo yang telah dikenal di berbagai belahan dunia, masih belum mampu mengharumkan kehidupan ekonomi para pekerjanya.

“Ya, harapan kita ke depan harus ada perhatian serius dari pemerintah kita. Paling tidak mereka bisa mendapat upah layak sesuai UMP beserta jaminan kesehatan lainnya. Upah mereka itu jangankan untuk kebutuhan lain, kadang kadang upah mereka hanya cukup membeli dua gelas espresso saja jika dilihat dari penghasilan bersih mereka,” ujar Fauzan Alia.

Di atas bukit, sang mentari terlihat condong ke ufuk barat. Hawa dingin kian terasa menusuk tulang. Amri beserta istrinya dan anak-anaknya berpamitan kembali pulang ke rumahnya. Saya dan Fauzan juga bergegas meninggalkan perbukitan. Di atas sepeda motor yang diboncengi Fauzan meliuk-liuk melewati perbukitan dan lembah. Sepanjang perjalanan, mata saya terus memandangihamparan puncak-puncak bukit yang berpadu padan dengan lembah telah diselimuti kabut tebal. Hawa dingin kian terasa takkala matahari menghilang dan berganti malam. Kabut tebal kian terus menyebar hingga ke pemukiman warga.

Begitulah sekelumit kisah Amri. Ia adalah salah satu potret dari sekian pemetik kopi Arabica khas Gayo yang kini masih hidup di bawah garis kemiskinan. Dalam benakku selalu terbayang betapa hebat dan sejatinya mereka karena telah berkontribusi terhadap kopi Gayo terkenal hingga ke seantero dunia meski belum memperoleh hasil yang memadai.[]