Gerakan Anti Vaksin dan Turki Ustmani

Fajar Muliani.

Oleh Fajar Muliani, S.SI*)

Pemberitaan tentang penyakit difteri di Aceh sangatlah heboh. Mungkin kita masih ingat pada penghujung tahun lalu baik pada media provinsi maupun nasional diberitakan tentang kehebohan penyakit ini di Aceh. Heboh dikarenakan tahun lalu penyakit ini menyerang sekitar 100 orang Aceh dan menyebabkan meninggalnya beberapa penderitanya. Gonjang-ganjingnya pun makin panas ketika diberitakan bahwa Kementerian Kesehatan menetapkan Provinsi Aceh termasuk salah satu wilayah Kejadian Luar Biasa (KLB) difteri terparah di Indonesia. Bahkan dari bulan Januari hingga maret 2018, Dinas Kesehatan Aceh melaporkan bahwa korban penyakit ini bertambah 57 orang.

Akan tetapi, kehebohan tentang penyakit ini menjadi suatu hal yang miris karena ternyata penyakit ini sebenarnya termasuk ke dalam penyakit yang dapat dicegah melalui program vaksinasi. Pemerintah selalu mengkampanyekan agar orang tua memvaksin anaknya. Bahkan pemerintah menggratiskan biaya vaksin sejumlah penyakit (termasuk difteri) yang dapat diperoleh di puskesmas, posyandu, sekolah, dan rumah sakit.

Pelajaran berharga yang dapat dipetik dari kasus ini adalah masyarakat harus segera sadar bahwa vaksinasi sangatlah penting untuk dilakukan. Dengan divaksin secara lengkap, anak-anak akan terlindungi dan terhindar dari resiko ganasnya berbagai jenis penyakit-penyakit menular yang berpotensi menyebabkan kecacatan ataupun kematian (seperti cacar, polio, dan difteri). Kejadian luar biasa difteri di Aceh ini seakan ingin menyadarkan masyarakat kita bahwa masih banyak masyarakat yang tidak pernah atau tidak lengkap memvaksin anak-anaknya. Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI tercatat bahwa cakupan UCI (Universal Child Immunization) di Provinsi aceh masihlah rendah, yakni sebesar 67,6 persen. Data ini menunjukkan kepada kita bahwa upaya pemerintah dalam membujuk masyarakat Aceh untuk memvaksin anaknya ternyata kurang ditanggapi secara serius oleh masyarakat.

Hal ini juga diperkuat dengan penyelidikan dari Dinas Kesehatan Aceh terhadap KLB difteri 2017. Didapatkan fakta bahwa penduduk Aceh yang terjangkit penyakit difteri pada tahun 2017 ternyata disebabkan karena tidak pernah melakukan vaksinasi atau tidak melakukan vaksinasi difteri secara lengkap. Total 95 persen korban ternyata tidak pernah sama sekali melakukan vaksinasi difteri. Adapun, lima persen sisanya disebabkan karena tidak melakukan vaksinasi difteri secara lengkap.

Vaksinasi berperan sebagai media pendidikan dan pelatihan bagi sistem imun tubuh. Vaksinasi mengupdate sistem antikuman daripada mekanisme pertahanan alami tubuh berupa respon imun untuk membentuk kekebalan spesifik terhadap penyakit-penyakit menular yang sangat berbahaya termasuk penyakit difteri. Kekebalan tersebut tidak serta-merta ada pada tubuh kita kecuali vaksinasi atau bila selamat setelah terserang penyakit tersebut.

Ketika mikroba masuk ke dalam tubuh, sel-sel limfosit meresponnya dengan memproduksi banyak antibodi. Antibodi-antibodi ini bertugas melawan mikroba tersebut dan melindungi tubuh dari meluasnya infeksi yang disebabkan serangan mikroba. Tubuh yang sehat bisa memproduksi miliaran antibodi dalam sehari sehingga mampu menghancurkan agen-agen penyakit dan menjaga tubuh tetap sehat. Namun, terhadap jenis mikroba yang belum dikenali diperlukan waktu beberapa hari bagi sistem imun tubuh untuk memproduksi antibodi agar dapat menang melawannya. Sayangnya, bila mikroba berbahaya seperti bakteri penyakit difteri (Corynebacterium diphteriae) yang masuk ke dalam tubuh maka waktu beberapa hari yang dibutuhkan sistem imun tersebut terlalu telat. Infeksi dan racun yang ditimbulkan bakteri Corynebacterium diphteriae sangatlah cepat menyebar di dalam tubuh melalui darah dan dapat menyebabkan kematian jauh sebelum sistem imun mampu maksimal melawannya.

Banyak hal yang menyebabkan masayarakat Aceh enggan memvaksin anaknya. Salah satu penyebab yang paling utama adalah akibat berseliwerannya kabar burung baik dari sosial media ataupun mulut ke mulut dari gerakan penolak vaksinasi. Mereka menshare isu-isu tentang dampak negatif vaksin dari beberapa media dari Negara lain yang sebenarnya merupakan media kontroversial di negeri asalnya sendiri. Mereka mengkampanyekan isu bahwa di masa Kekhalifahan Islam orang-orang tetap sehat walau tanpa ada vaksinasi. Lebih jauh lagi mereka juga mengkampanyekan bahwa vaksin haram dan merupakan konspirasi barat untuk membuat generasi muda Indonesia menjadi lemah fisik dan mentalnya.

Harusnya gerakan penolak vaksinasi dan masyarakat tidak mentah-mentah menyerap isu tersebut. Perlu diketahui bahwa justru cikal-bakal vaksinasi itu berasal dari tabib-tabib muslim kekhalifahan Turki Utsmani. Hal ini dapat dibaca di banyak buku-buku kedokteran moderen yang berkaitan tentang vakin. Informasi ini juga dapat dibaca di buku-buku tentang penemuan ilmuan muslim tempo dulu.

Mari kita kembali ke sejarah vaksinasi dan cikal-bakalnya yang tenyata berasal dari tabib-tabib Kekhalifahan Turki Utsmani. Berabad-abad wabah cacar ganas atau smallpox menyebabkan bencana di eropa. Bahkan tercatat dalam sejarah bahwa pada abad ke-18 rata-rata 400.000 orang meninggal setiap tahunnya di eropa karena penyakit ini. Penyakit mematikan tersebut akhirnya dapat dimusnahkan dengan penerapan vaksinasi yang massif setelah ditemukannya pengobatannya melalui vaksinasi oleh Edward Jenner (Bapak Vaksin Dunia). Edward Jenner menemukan metode vaksinasi dengan cara mengembangkan ilmu variolation dari tabib-tabib Kekhalifahan Turki Utsmani yang diperkenalkan ke Inggris oleh Lady Mary Wortley Montangu (Istri Duta besar Inggrs untuk Kekhalifahan Turki Usmani pada saat itu).

Ketika diperkenalkannya vaksinasi di Inggris oleh Lady Mary Wortley Montangu atau Edward Jenner gerakan mirip gerakan menolak vaksinasi juga muncul di Inggris. Kampanyenya juga hampir sama dengan gerakan yang sekarang. Mereka meragukan keamanan dan sumber pengobatan vaksin. Bahkan juga ada kampanye yang menuduh bahwa penerapan vaksninasi adalah konspirasi Kekhalifahan Turki Utsmani untuk melemahkan bangsa Inggris. Isu itu merebak diperkirakan karena saat itu Turki Usmani merupakan saingan Kerajaan Inggris yang sama-sama Negara super power di dunia.

Meskipun mudah menular, berbahaya, dan dapat mengancam nyawa, difteri sebenarnya merupakan penyakit yang relatif mudah untuk dicegah. Pemberian imunisasi merupakan metode yang simpel, aman, gratis, dan tentunya paling efektif dalam memberikan kekebalan tubuh terhadap penyakit mematikan ini. Jadi ayo para orang tua untuk tidak lagi ragu memvaksin anaknya agar mereka terhindar dari penyakit-penyakit berbahaya seperti difteri. Jangan lagi enggan untuk memvaksin anaknya secara komplit dan teratur karena isu hoax. Apalagi Wakil Direktur RSUDZA Aceh, Dr Azharuddin menjamin bahwa vaksin difteri (DPT) halal.

*)Penulis adalah peneliti imunilogi.