Gubernur Aceh Cinta Syariat Islam

Gubernur Irwandi Yusuf saat menerima mahasiswa Singkil (Foto: Humas Setda Aceh)

Oleh Nurlina*)

Secara global, khususnya pasca peledakan WTC di Amerika Serikat dan kejadian ISIS di Timur Tengah, image Islam sering digambarkan buruk di negeri-negeri barat. Angka kebencian terhadap Islam dan Islamophobia meningkat tajam dan merugikan kaum muslimin yang ada di negara-negara non muslim.

Aceh juga turut tertimpa gelombang kebencian global tersebut. Syariat Islam yang menjadi kebanggaan masyarakat, sering diidentikkan dengan cambuk. Asal menyebut Aceh, selalu terbayang akan cambuk. Media internasional berlomba-lomba memberitakan setiap prosesi cambuk di Aceh dengan judul yang provokatif. Ditambah dengan bumbu, seolah-olah daerah muslim seperti Aceh tidak menghormati HAM dan acara pencambukan dilihat anak-anak. Berita dengan bumbu begini cepat disambar dan semakin menambah kedengkian kepada ummat muslimin.

Ini jelas merugikan. Sama seperti dulu, Aceh identik dengan perang, kini diidentikkan dengan cambuk.

Hal ini membuat prihatin pemimpin di Aceh, mereka berfikir bagaimana agar syariat tetap berjalan dengan baik, namun Aceh tidak diberi stempel daerah cambuk. Banyak hal lain di Aceh yang perlu diangkat media, seperti pariwisata dan budaya.

Aceh harus dikembalikan seperti zaman dahulu, sebuah daerah yang kosmopolit, orang berbagai bangsa bebas datang berdagang dan berniaga dengan memegang aturan dan hukum yang ada. Aceh harus kembali identik dengan pusat ilmu pengetahuan dan kebudayaan, dan pusat perdagangan.

Karena itu, kita bisa melihat Gubernur Aceh berusaha mencari solusi agar lubang yang bisa dipakai untuk menjelekkan Aceh bisa tertutupi. Mungkin ide ini yang melahirkan pergub, untuk mengatur agar prosesi cambuk berjalan sesuai dengan aturan, tetapi tidak ditonton oleh anak-anak, dan dilakukan di tempat yang terbatas seperti lapas, bukan di pelataran mesjid.

Dari sini kita bisa menilai, bahwa gubernur berusaha untuk mengangkat kembali wajah Aceh yang sedikit terpuruk. Tanpa mengubah tatacara pencambukan, tidak memodifikasi hukum cambuk, semua masih biasa, sesuai dengan aturan yang berlaku, hanya memindahkan tempat saja, yaitu ke lapas.

Tidak tepat mengatakan bahwa gubernur telah mengubah syariat, atau takut kepada investor, tetapi justru gubernur mencintai daerahnya Aceh dan mencintai syariat yang telah mendarah daging di dalam masyarakat Aceh.

*) Penulis adalah PNS di Kantor Gubernur.
Tulisan ini adalah pendapat pribadi.