Haul Wali Tanpa Bendera Partai

Sudah beberapa tahun ini, setiap datang haul Wali Negara, Tengku Hasan Muhammad di Tiro, kami sekeluarga berdoa di rumah. Namun kali ini berbeda. Beberapa hari yang lalu, masuk satu pesan WA dari Makmur Juned, atau Bang Mun, salah seorang mantan kombatan Aceh Rayeuk menginformasikan akan ada acara di Mureue di komplek kuburan Tengku Chiek di Tiro.

Sekitaran pukul 15.00 WIB, ditemani kawan-kawan kami mengarah ke Mureue. Karena masih terlalu awal, kami menuju ke sana melalui Piyeung, Montasik sambil melihat-lihat pemandangan sekitar.

Pukul 16.00 WIB kami sampai, terlihat kesibukan panitia menyiapkan makanan berbuka untuk para tamu. Setelah melaksanakan salat Ashar, kami berziarah ke makam, berdoa bersama. Kemudian duduk-duduk berbincang dengan Chiek Pakeh, salah seorang tokoh perjuangan dari Mureue. Chiek Pakeh banyak bercerita tentang kondisi komplek makam dan beberapa persoalan masyarakat di sana.

Setelah itu kami pamit bergerak menuju Maheng, sebuah kawasan kaki bukit yang indah pemandangannya. Dari puncak bukit di Maheng terlihat bukit barisan terbentang di depan.

Dari Maheng kami kembali ke komplek makam, naik ke Balee Rayeuk untuk berdoa bersama, dipimpin oleh tengku setempat. Tidak ada satupun bendera partai politik di komplek makam, yang datang sebagian besar adalah mantan kombatan dan anggota GAM dari berbagai unsur. Terlihat Sofyan Daud, mantan Jurubicara Militer GAM, Chiek Pakeh, tokoh GAM di Mureu, Abu Badawi mantan Kapolda GAM Aceh Rayeuk. Ada juga beberapa tokoh masyarakat dari berbagai golongan. Tengku Abdul Manan, mantan Gubernur GAM Pulau Aceh dan Sabang juga terlihat hadir.

Selepas doa bersama, langsung dilanjutkan dengan berbuka puasa bersama dengan anak yatim dan masyarakat setempat. Ada sekitar 1000 orang memadati komplek makam tersebut.

Setelah selesai acara, kami pulang kembali melewati Piyeung, singgah ke rumah Tengku Efendi atau bang Pen, ketua KPA Aceh Besar yang baru berpulang ke rahmatullah.

Sebuah kebahagiaan, bahwa masyarakat Aceh masih mengingat almarhum Tengku Hasan di Tiro sebagai guru dan orang yang membuka mata rakyat untuk mengenal diri sendiri dan menjaga identitas Aceh.