Mindset Kemenangan

Apakah karena terlalu lama dididik oleh konflik lantas mindset kita tentang kemenangan menjadi sempit? Kita, sudah harus kembali ke mindset kemenangan yang berakar pada akhlak Islam.

Meski Aceh sudah memasuki era damai, tapi jujur cara pikir dan tindak kita masih belum lepas dari budaya konflik.

Ada pemimpin yang begitu tipis telinga sehingga setiap kritik disikapi dengan sikap antikritik. Ada wakil rakyat yang begitu terang mata sehingga semua dilihat salah. Ada pula awak media yang superahli melihat kelemahan dan belum berhenti sebelum ada pembayaran.

Itu semua mindset kemenangan yang senang melihat pihak lain kalah, terkapar, jatuh, dan KO. Ini mindset kemenangan ring tinju. KO adalah kemenangan sejati.

Tapi, hidup bukanlah ring tinju. Tidak perlu ada pihak yang kalah, menyerah, apalagi sampai jatuh, tak berdaya. Dalam hidup tidak ada pesta kemenangan. Ini pesta alam kebinatangan, dimana hewan yang menang disambut pesta kawin.

Dalam akhlak Islam, kemenangan bukan mengalahkan, bukan menghancurkan, dan bukan merugikan orang atau pihak lain. Kemenangan lebih ke dalam diri, bukan ke orang lain.

Orang yang menang adalah diri yang mampu mengalahkan diri sendiri. Mengalahkan pengaruh buruk yang ada di dalam diri sehingga saat berada di keramaian menjadi diri yang berguna bagi orang lain.

Siapa saja yang mampu membuang duri dari jalanan maka dia adalah pemenang, apalagi duri dalam kehidupan. Tapi, cara orang menang mencabut duri di jalan kehidupan bukan dengan cara merusak jalan apalagi merusak kehidupan.

Nabi, dalam banyak kesempatan memiliki peluang untuk menghancurkan musuhnya, bahkan malaikat pernah menawarkan diri untuk menghancurkan kaum yang telah menyakiti hati nabi. Begitu pula dalam momentum menghadapi musuhnya, ketika pedang telah berada di tangan nabi, atau pada saat nabi kembali ke Mekkah tanpa perlawanan.

Tapi, jalan perubahan yang ditempih nabi bukan dengan penaklukan, bukan dengan balas dendam, dan juga bukan dengan pedang, melainkan dengan akhlak yang lembut, sehingga sekalipun tegas seruannya tetap sejuk dan lembut pesannya sampai ke dalam hati.

Nabi bukan hanya punya kesempatan tapi punya cukup sumberdaya manusia dan modal untuk melawan musuh dengan perlawanan yang seimbang. Ada Umar bin Khattab yang pemberani dan ada Ali bin Abi Thalib yang tangkas. Begitu pula ada banyak sahabat nabi yang kaya raya lagi dermawan.

Tentu saja jika Nabi ingin semua sumber kekuatan itu bisa dikerahkan dengan gampang, apalagi Nabi punya pendukung dari kalangan malaikat dan tentu saja Allah SWT. Tapi, kenapa Nabi memilih jalan kemenangan yang lemah lembut, penuh kasih sayang?

Ini semua mindset kemenangan Islam yang diwariskan oleh Nabi kepada kita semua. Melalui pintu ilmunya Ali bin Abi Thalib, nabi menitip akhlak kemenangan yang oleh Ali disebut bahwa “memaafkan adalah kemenangan terbaik.”

Kita sadar bahwa tidak ada yang sempurna pada diri kita manusia. Pemimpin, wakil rakyat dan awak media serta publik semua dengan kekurangan masing-masing. Tapi, Islam memberi pintu kunci bagi kita semua untuk bisa menjadi kaum yang mampu meraih kemenangan di tengah sifat insan yang lemah, yaitu memaafkan.

Beranikah kita memaafkan? Idul fitri yang segera akan tiba adalah salah satu jalan yang disediakan agama ini agar kita tidak kikuk dalam memaafkan, tapi sudahkah kita sadari bahwa mindset kemenangan tertinggi adalah memaafkan?

Jika sudah, maka kita akan segera melihat betapa sibuknya kita dalam berbenah negeri sampai-sampai kita tidak lagi menemukan pesan menyakitkan hadir di media sosial dan media jurnalistik.

Tapi, jika itu masih ada, pemimpin masih melakukan, wakil rakyat juga dan media begitu pula, maka kita baru menjadi pemeluk Islam tapi belum hidup dengan akhlak Islam. []