Bermahar Aceh Hebat

Oleh: Fuad Hadi Woyla

Irwandi Yusuf dan Nova Iriansyah itu ibarat sepasang kekasih. Keduanya, lewat suatu momentum, bertemu, berkenalan, saling menemukan getaran hati, dan jadilah “pasangan” yang oleh rakyat “dinikahkan” sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh.

Mereka berdualah kepala rumah tangga Aceh sejak dilantik oleh Presiden melalui Mendagri pada 5 Juli 2017 “bermahar” Aceh Hebat. Kini, usia kepemimpinan mereka sudah 1 tahun.

Seperti rumah tangga biasa, ada kalanya keduanya sehat, ada kala salah satu dari mereka berpotensi kurang sehat, atau bahkan bisa jadi jatuh sakit. Gubernur bagai sosok samlako, wakil gubernur ibarat sambino. Sebagai kesepasangan terikat mahar dan sudah pula digelar walimah (pesta kemenangan), diketahui oleh orang ramai, keduanya tidaklah mungkin saling mengkhianati.

Pengkhianatan baru terjadi manakala salah satu diantara mereka memiliki rekam jejak mengkhianati pasangannya di masa lalu. Tapi, apapun yang terjadi, pasangan yang baik tetaplah harus saling menghormati, sekalipun dalam perjalanan terjadi sesuatu.

Untuk itu, kita tersentuh ketika Nova Iriansyah menegaskan bahwa: “pada dasarnya Irwandi Yusuf peminpin kita semua. Apapun kesulitannya tentu kita harus punya niat untuk membantu, termasuk aspek hukum.” Sebuah sikap yang diamini oleh Mendagri. Sebuah sikap yang mencerminkan bahwa kesepasangan juga bermakna kebersamaan dengan pihak keluarga (pengusung dan pendukung), dan kebersamaan dengan tetangga dan orang sekampung (DPRA, parpol, dan lainnya).

Sikap itulah yang hendak dilakukan Irwandi, yang karena lagi ada kendala, kini akan coba dilakukan oleh Nova Iriansyah dalam kapasitasnya sebagai Plt Gubernur Aceh, yang hari ini (9/7) dilantik oleh Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo di Gedung Sasana Bhakti Praja, Kementerian Dalam Negeri.

Sikap Nova Iriansyah yang membantah tuduhan ikut bermain dalam kasus penangkapan Irwandi Yusuf dengan santun, tidak berlebihan, dan menjelaskan posisinya yang ikut berduka semakin menegaskan bahwa Nova Iriansyah memang sejatinya sayap sebelah dari dua sayap yang memang dibutuhkan Aceh. Tapi, karena sebelah sayap Aceh sedang bermasalah, dengan sebelah sayappun ia rela terbang.

Fuad Hadi Woyla;
Advokat/alumni Fakultas Hukum u
Universitas Syiah Kuala