Irwandi; Antara Puja dan Caci

Irwandi Yusuf ditahan KPK (Faiq Hidayat/detikcom)

Oleh Khairil Miswar*)

Kata Norcholis Madjid, manusia ini hidup di antara dua dunia yang pada prinsipnya saling bertubrukan. Pertama dunia malaikat dan kedua dunia setan. Madjid menyebut dunia malaikat sebagai dunia yang penuh kebaikan dan ketaatan terus-menerus, sementara dunia setan sebagai dunia yang dipenuhi kejahatan dan pembangkangan. Di antara dua titik inilah manusia berada. Manusia adalah kolaborasi dari dunia kebaikan dan kejahatan. Sebab itulah, manusia senantiasa berdampingan dengan kebaikan dan kejahatan. Jika malaikat selalu baik dan setan selalu jahat, maka manusia berada di antara keduanya; baik dan jahat selalu beriringan.

Tuhan menciptakan surga sebagai tempat menetapnya kebaikan-kebaikan dan neraka sebagai tempat berlabuhnya kejahatan. Di sinilah letak keadilan Tuhan yang menampung segala “aspirasi” dan keinginan dari manusia itu sendiri. Sebab hidup itu sendiri adalah pilihan-pilihan. Terserah kutub mana yang ia pilih.

Di dunia ini, manusia juga saling menilai satu sama lain. Ketika manusia yang satu menatap, manusia yang lain pun melirik sehingga terhubunglah mereka dalam kesalingan. Akhir dari tatap dan lirik itulah yang kemudian melahirkan “nilai.” Manusia-manusia yang dianggap baik (malaikat) akan dipuji oleh manusia lain. Sementara manusia-manusia yang diyakini jahat (setan) akan dicaci. Kebaikan dan kejahatan telah menempatkan manusia pada puji dan caci.

Namun demikian, tidak selamanya yang baik itu dipuji dan yang jahat itu dicaci. Terkadang ia sering bertukar ganti; yang baik dicaci dan yang jahat dipuji. Kondisi ini tentunya wajar belaka, sebab si pemuja dan pencaci juga hasil kolaborasi dari kebaikan dan kejahatan. Lagipula kebaikan yang berujung puji dan kejahatan yang bermuara caci dalam konteks kekinian hanya bersandar pada sudut pandang dan interpretasi si penilai yang sama sekali subjektif.

Apa yang dialami Gubernur Aceh, Irwandi Yusuf dalam beberapa hari terakhir pun demikian. Ia terkurung dalam lingkaran puji dan caci. Para pengagumnya menebar puji setinggi langit, seolah ia malaikat yang tak pernah salah. Sebaliknya, orang-orang yang tak senang dengannya mengembus caci sepuas hati, seolah ia terlahir sebagai setan tanpa ada kebaikan sedikit pun. Terlepas dari apa yang terjadi, reaksi pemuji dan pencaci dari kutub berlainan itu harus dipahami sebagai wujud interpretasi mereka terhadap sosok Irwandi.

Menyimak apa yang terjadi, tentu tidak ada yang aneh. Keanehan baru muncul ketika hadirnya mantan-mantan pemuji yang kemudian turut mencaci. Ditambah lagi, tidak ada seorang pun mantan pencaci yang bersedia memuji. Di sinilah ketidakadilan itu terjadi. Irwandi ditinggal sendiri oleh pencaci dan mantan pemuji.

Guyaknya lagi, tidak hanya mencaci, adapula beberapa gelintir orang yang meminta Irwandi dipotong tangan sebab dituduh “mencuri.” Tapi, kita tidak tahu, tidak akan pernah tahu, dan tidak perlu tahu, apakah permintaan itu setulus hati, atau karena mereka tidak mendapat bagi?

Bireuen, 09 Juli 2018