Di kampungku, ada sebuah jembatan berkonstruksi kayu. Oleh para pemuda, jembatan itu dilumuri cat warna-warni. Sehingga menyerupai warna pelangi. Karena menyerupai pelangi, warga menamai jembatan itu dengan sebutan Jembatan Pelangi.   Nama itu pun, telah kesehor ke seantero negeri. Bahkan, telah mendunia. Masuk dalam road map Google.   *** Setiap hari, apalagi menjelang rembang...
Kakek Hamid memandang kosong ke halaman rumah. Senja yang sedikit agak berkabut berhasil mengurangi semburat keindahan yang dipancarkan oleh sinar matahari sore yang berwarna kuning keemasan. Dia, lelaki yang hidup pada tiga kibar bendera berbeda semakin uzur dimakan usia. Namun, isi kepalanya yang masih mampu menghafal dengan sempurna hikayat...
Abdullah Hujan baru saja reda. Udara pagi yang dingin dengan pelan menyelinap di balik jaketku. Rasa dingin menyibak dan menembusi tulang. "Untung saja aku sempat mandi tadi, kalau tidak pasti rasa dingin ini akan begitu menyiksa tubuh," batinku sambil melangkah pelan memasuki...
Di universitas tempat saya mengajar, ada seorang dosen senior bergelar profesor doktor. Gelar S2, dan S3, diraihnya dari universitas tersohor di Eropa Timur, dengan predikat nilai summa cum laude. Kendati usia dosen itu tergolong tua, hanya beberapa tahun lagi pensiun. Tetapi, penampilannya masih segar. Gagahnya bukan main. Apabila mengajar di...
INI adalah malam ketiga aku menjalani ritual penerbang arwah. Di kamar sempit, berlampu remang, sebuah meja meranti kosong membeku di depanku, sementara sepasang mata sangar tak henti-henti memelototiku yang kedinginan. Sejujurnya, disituasi seperti ini aku sangat ingin menghisap sebatang rokok. Ah, andai saja ada, rasanya ingin sekali kuhisap...
SEORANG wanita gempal berkulit hitam membukakan pintu. Gegas melangkah diikuti pria dengan lars mengkilap yang berjalan tegap, melewati jejeran dipan. Pada ujung ruangan, wanita berpakaian serba putih yang lain kembali membuka pintu selanjutnya. Kedua pria tersebut masuk. Mereka menanggalkan topi sebagai tanda hormat. Untuk seorang yang terbaring nyaris sekarat di...
Hari masih terang. Matahari belum pulang. Kira-kira, seperenam hari lagi senja menjelang. Panjang bayangan tubuhku telah lebih dari panjang aslinya. Tanda bahwa waktu sore sedang mengelayuti sudut bumi kampung Matang Seurela dan sekitarnya. Suasana di kebun itu lengang. Hanya sepoian angin pantai yang datang merayab. Meski berjarak hingga satu...
Nafasnya belum berhenti menderu. Bocah dekil itu baru saja berhasil meloloskan diri dari sergapan Satpol PP yang mencoba menangkapnya ketika mengemis di Simpang Lima Kota Para Sultan. Namanya Saleh. Seorang piatu malang yang ayahnya dipasung karena gila menahun. Siang itu, usai berpetak umpet dengan polisi penegak perda,dia mencoba mengambil nafas...
Sudahilah! Untuk malam ini, simpan saja ceramah janji-janjimu itu di bawah bantal tidurku. Aku mulai menguap, batuk dan terkantuk-kantuk mendengarnya. Seawal pagi besok akan kuhafal ianya lagi. Hingga meracau. Dan berbuih-buih mulutku. Sambil mencicipi manisan yang kau tempel di punggungku. Please deh! Untuk malam ini saja. Tolong jangan hadir di...
AKU memahat sendiri pintu rumahku ini. Bahannya terbuat dari meranti kaca. Kayu pilihan. Aku menebangnya sendiri di atas bukit nun saat aku masih remaja. Saat itu harga kayu meranti sedang melambung tinggi. Perbatangnya bahkan bisa mencapai harga jutaan. Beruntung sebelum meninggal ayah mewariskanku sepetak tanah di bukit Nun. Dan...