Banjir dan Longsor Landa Aceh Selatan

Ratusan rumah penduduk di beberapa kecamatan di Kabupaten Aceh Selatan terendam banjir menyusul hujan deras yang mengguyur wilayah itu sejak Minggu (13/9) sore hingga malam.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan Erwiandi di Tapaktuan, Senin mengatakan, musibah banjir akibat luapan sungai dengan ketinggian mulai 50 sampai 100 Cm (setinggi pnggang orang dewasa) itu terjadi hampir merata di seluruh kecamatan yakni mulai dari Kecamatan Labuhanhaji Barat sampai Trumon Timur.

“Banjir yang agak parah terjadi di Kecamatan Labuhanhaji Barat, Meukek, Samadua, Tapaktuan, Kluet Utara dan Kluet Timur,” ujarnya.

Di Kecamatan Meukek selain merendam ratusan rumah penduduk juga merobohkan satu unit jembatan di Desa Jambo Papeun, sedangkan di Kecamatan Tapaktuan, hujan deras mengakibatkan badan jalan negara tertimbun longsor, sebut Erwiandi.

Badan jalan negara lintasan Tapaktuan (Aceh Selatan)-Kota Subulussalam tepatnya di lokasi pembangunan jembatan layang Gunung Alur Naga, Desa Batu Itam, Kecamatan Tapaktuan tertimbun tanah longsor, akibatnya lalulintas lumpuh total selama 7 jam.

Menurut Erwiandi, selain peristiwa longsor di lokasi proyek peningkatan jalan Tapaktuan-Bakongan, jembatan belly Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek juga ambruk.

Selanjutnya, ruas jalan kabupaten di Desa Koto Indarung menuju pusat Kota Kluet Tengah juga amblas sepanjang lebih kurang 200 meter akibat diterjang banjir. Tanah longsor juga menimpa Desa Trieng Meuduro Tutong Kecamatan Sawang.

“Anggota BPBD sedang turun ke lapangan untuk peninjau keadaan penduduk dan memantau kerugian yang dialami akibat peristiwa itu,” ungkap dia.

Ia mengatakan, penanganan tanah longsor yang menimbun badan jalan negara di Gunung Alur Naga langsung ditangani Balai Besar Pelaksana Jalan Nasional satuan kerja pelaksana jalan Nasional wilayah II Provinsi Aceh melalui Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 12 batas Kota Tapaktuan – Bakongan – Kruang Luas Kecamatan Trumon Timur.

“Tanah longsor di Gunung Alur Naga langsung ditangani oleh PPK 12, sebab khusus jalan negara penanganannya dibawah tanggungjawab Kementerian PU. Karena titik lokasi terjadi longsor itu berada di sekitar lokasi pekerjaan proyek pembangunan Jembatan Layang, maka tanah longsor itu langsung dipindahkan,” ujar Erwiandi.

Sedangkan jembatan ambruk di Desa Jambo Papeun, Kecamatan Meukek, kata Erwiandi, akan diupayakan penanganan secara tanggap darurat oleh BPBD Aceh Selatan sambil menunggu direalisasikannya penanganan secara permanen oleh dinas terkait.

Salah seorang pekerja di lokasi pembangunan jembatan layang Gunung Alur Naga dari PT Rekayasa, Andi menuturkan, pascaturun hujan lebat, langsung terjadi tanah longsor pada Minggu (13/9) sekira pukul 20.00 WIB, namun tanah longsor itu cepat dipindahkan oleh pihak kontraktor sehingga tidak sempat mengganggu lalulintas.

Dia mengatakan, lalulintas jalur Tapaktuan-Subulussalam sempat lumpuh total selama 7 jam setelah tanah longsor setinggi 2 meter kembali menimbun badan jalan sekira pukul 00.00 WIB.

Tumpukan tanah di atas badan jalan, ujarnya, baru berhasil dibersihkan Senin (14/9) sekira pukul 07.00 WIB.

“Pertama kali terjadi longsor pada pukul 20.00 WIB, kondisinya tidak terlalu parah dan telah berhasil dibersihkan dengan menggunakan beco proyek. Sesaat kemudian, longsor susulan kembali terjadi pada pukul 00.00 tengah malam,” katanya.

Akibat longsor tersebut, transportasi jalur Tapaktuan-Subulussalam lumpuh total hingga pagi. Sekira pukul 07.00 wib baru bisa dilalui kenderaan roda dua dan empat setelah dibersihkan oleh dua unit alat berat milik kontraktor, kecuali dump truck belum bisa lewat karena masih menunggu proses pembersihan, kata Andi.

Pantauan di lokasi, meskipun tanah longsor telah berhasil dibersihkan dan lalulintas sudah normal, namun jalur lalulintas itu masih diberlakukan buka tutup karena tumpukan tanah yang telah berhasil dipindahkan hanya memuat satu mobil tidak bisa berpas-pasan mobil dari kedua arah.

Akibatnya, antrean kendaraan roda dua dan roda empat di lokasi tanah longsor tersebut dari kedua arah mencapai 1 Km.

Ratusan kenderaan roda empat dan dua dari dua arah antri menunggu proses pembersihan dan pembuangan tanah longsor.

Kondisi ruas jalan terlihat becek dan licin. Pihak Kepolisian Polres Aceh Selatan dibantu jajaran TNI Kodim 0107/Aceh Selatan bekerja ekstra melakukan pengamanan dan mengatur arus lalulintas.

Diantara antrian panjang, sejumlah truck angkutan barang mengaku sudah sejak tadi malam parkir di Gunung Alur Naga.

“Kami sudah sejak dari tadi malam di sini bang. Diduga longsor terjadi dampak dari pengerukan gunung yang berhubungan dengan pekerjaan proyek. Jika pekerjaan proyek belum selesai dikhawatirkan longsor seperti ini akan berulang,” ucap Zakaria, salah seorang awak angkutan umum seraya mengaku dirinya mau berangkat ke Medan, Sumatera Utara.

Koordinator Swakelola Rutin PU Wilayah 12, Rinaldi yang dihubungi menyebutkan, pengerukan gunung tersebut bertujuan membuat ruas jalan alternatif dalam rangka pelaksanaan pekerjaan proyek peningkatan jalan bersumber dana dari APBN Tahun 2015 bisa lancar dan cepat.

“Tidak ada jalur lain, kecuali membuat jalan alternatif di pinggir gunung. Jika proyek itu sudah selesai, jalan alternatif tidak dimanfaatkan lagi. Masyarakat dimohon sabar demi kelancaran dan kesuksesan pembangunan,” tukasnya yang akrab disapa Pak Boy. (Ant)

KOMENTAR FACEBOOK