Petani Palawija Aceh Barat Beralih Ketanaman Padi

ACEHTREND – Petani di Kecamatan Pante Ceureumen, Kabupaten Aceh Barat, sudah beralih profesi dari mengelola kacang tanah ke tanaman padi karena anjloknya harga palawija itu.

Imum Mukim (kepala pemukiman) Kinco, Kecamatan Pante Ceureumen, Muhammad Saman di Meulaboh, Rabu mengatakan saat ini hanya tersisa 0,8 persen petani yang menanam kacang tanah, sedangkan selebihnya menanam padi untuk menghidupi ekonomi keluarga.

“Kondisi saat ini produksi gabah kering tanaman padi menjadi sumber ekonomi, kalau dulu saat berjaya dengan kacang tanah warga memanfaatkan musim dan area sawah tadah hujan untuk menanam kacang, tapi karena harganya jatuh petani sudah menanam padi,” katanya.

Dalam enam desa pemukiman Kinco setempat, sudah tidak tersedia lagi pabrik pengupas kulit kacang tanah, kondisi ini juga membuat masyarakat petani tidak bersemangat karena setelah ada hasil produksi susah untuk dipasarkan sebelum pengolahan menjadi biji kacang.

Muhammad Saman menyampaikan, masyarakat petani kawasanya biasanya menjual hasil produksi kacang tanah sebelum dikupas dengan harga Rp60.000 per kaleng (isi 6 kg) atau ditampung seharga Rp10.000/kg.

Kondisi saat ini harga kacang tanah semakin turun menjadi Rp50.000 per kaleng atau mengalami penurunan sebesar 10 persen, selain itu petani harus mengeluarkan biaya lebih besar untuk dibawa ke pabrik pengolahan kacang kupas sebelum dibawa kepasar untuk dijual dalam bentuk biji kacang.

“Bila dijual sudah dikupas harganya pasti sedikit lebih mahal, tapi kendalanya tidak ada pabrik lagi seperti dulu. Saat ini hanya satu pabrik yang tersisa dan itupun mereka tidak buka rutin karena sudah sangat sedikit produksi petani dapat diolah,” imbuhnya.

Selain itu kecenderungan masyarakat petani palawija sudah meningalkan menanam kacang tanah karena ketersediaan lahan untuk pertanian padi semakin diperluas dalam mengejar target pemerintah mencapai swasembada pangan dan kedaulatan pangan.

Penciutan lahan palawija kacang tanah semakin terjadi sehingga peluang peningkatan ekonomi melalui palawija itu sangat kecil, hal demikian juga mempengaruhi minat masyarakat berlomba-lomba untuk menanam padi karena dianggap lebih menjanjikan.

Meskipun demikian, sebagian kecil petani yang masih tetap pada profesi menanam kacang tanah juga memiliki lahan pertanian tanaman padi, karena hanya dua komoditi sektor pertanian tersebut yang dapat dimanfaatkan sebagai penompang ekonomi keluarga.

“Kalau dulu setiap musim tertentu petani bisa menanam kacang tanah sambil menanti musim tanam padi jadi ada nilai tambah, sementara saat ini sudah tidak lagi, petani malah sudah mencari lokasi-lokasi yang mudah mendapatkan air untuk rutinitas tanam padi,” jelasnya.

Lebih lanjut dikatakan, setelah panen masyarakat petani langsung menjual hasil produksi tanaman padi mereka kepada pabrik atau penampung lokal untuk kebutuhan ekonomi keluarga, disamping juga disisihkan untuk kebutuhan sehari-hari hingga panen musim selanjutnya. (Ant)

KOMENTAR FACEBOOK