Terdakwa Abdullah Bantah Kepemilikan 78 Kilogram Sabu

ACEHTREND – Terdakwa Abdullah yang menjalani persidangan di Pengadilan Negeri Banda Aceh membantah terlibat kepemilikan narkoba jenis sabu-sabu seberat 78 kilogram.

“Sabu-sabu itu bukan milik saya. Saya tidak tahu barang tersebut milik siapa. Ketika ditangkap petugas BNN, saya tidak tahu kenapa. Saya baru tahu saya ditangkap karena sabu-sabu 78 kilogram,” aku Abdullah, terdakwa narkoba jenis sabu-sabu di Banda Aceh, Kamis.

Pernyataan tersebut dikemukakan terdakwa Abdullah pada sidang di Pengadilan Negeri Banda Aceh. Sidang dengan majelis hakim diketuai Sulthoni, dan didampingi hakim anggota Makaroda Hafat dan Edi.

Sedangkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Wahyudi Kuoso dan kawan-kawan. Terdakwa Abdullah hadir ke persidangan didampingi dua penasihat hukumnya, Sayuti dan Muhammad Syafii Saragih.

Terdakwa Abdullah bersama tiga terdakwa lainnya, Hamdani, Hasan Basri, dan Samsul Bahri didakwa kepemilikan sabu-sabu seberat 78 kilogram. Ke empatnya merupakan warga Aceh Timur.

Empat terdakwa tersebut ditangkap Badan Narkotika Nasional (BNN) pada Februari 2015 di sejumlah tempat di Aceh Timur. Ke empat terdakwa ini pernah melarikan diri dari tahanan BNN, Mei 2015, dan ditangkap kembali sebulan kemudian.

Terdakwa Abdullah mengatakan dirinya dipukul tidak ketika ditangkap. Begitu juga saat pemeriksaan di penyidik Badan Narkotika Nasional (BNN) di Jakarta.

“Saat ditangkap maupun ketika diperiksa di penyidik, saya dipukuli. Saya juga dipaksa menandatangani berita acara pemeriksaan atau BAP,” kata Abdullah.

Namun begitu, terdakwa Abdullah mengaku mengenal Usman yang kini DPO, yang ditangkap bersama barang bukti tiga karung berisi sabu-sabu seberat 78 kilogram.

“Saya kenal dengan Usman sejak kecil. Saya tidak tahu mengapa saya dikait-kaitkan dengan kepemilikan sabu-sabu tersebut,” ungkap terdakwa Abdullah.

Dalam keterangannya, terdakwa Abdullah mengaku memiliki usaha grosir di Malaysia. Omset usahanya mencapai Rp500 juta per hari. Dari usaha itu, ia membeli sejumlah mobil mewah dan membuka perkebunan di Aceh.

“Namun, mobil tersebut sudah disita aparat penegak hukum dengan tuduhan pencucian uang. Saya tidak mengerti mengapa dijerat seperti itu,” kata Abdullah.

Bantahan serupa juga disampaikan Hamdani, terdakwa lainnya. Ia membantah tidak terlibat kepemilikan sabu-sabu seberat 78 kilogram. Ia mengaku namanya diseret-seret oleh Usman.

“Saat ditahan di BNN, saya sempat bertanya kepada Usman, mengapa nama saya diseret-seret. Saya kenal Usman di Malaysia ketika bekerja di negara itu,” kata Hamdani.

Dalam keterangannya kepada majelis hakim, terdakwa Hamdani juga mengaku dipukuli ketika ditangkap maupun saat diperiksa oleh penyidik BNN.

“Di BNN di Jakarta, banyak yang tanya. Tidak hanya penyidik. Bahkan satpam pun ikut bertanya dan menendangi saya. Saya juga dipaksa menandatangani BAP,” aku Hamdani.

Sulthoni, ketua majelis hakim, mengatakan, pihaknya akan memanggil penyidik yang memeriksa pada persidangan berikutnya untuk menanyakan apakah para terdakwa dipukuli saat pemeriksaan.

“Kami akan panggil penyidik. Mereka akan ditanyai di bawah sumpah terkait pengakuan terdakwa. Sidang dilanjutkan 1 Oktober mendatang dengan agenda pemeriksaan saksi dari penyidik,” kata Sulthoni.

Sebelumnya, JPU Wahyudi Kuoso mendakwa terdakwa Abdullah dan kawan-kawan secara berlapis. Dakwaan primer dijerat Pasal 114 Ayat (2) juncto Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009 tentang narkotika.

Sedangkan dakwaan subsidair dijerat melanggar Pasal 113 Ayat (2) juncto Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009. Dan dakwaan lebih subsidair dijerat Pasal 112 Ayat (2) juncto Pasal 132 Ayat (1) Undang-Undang RI Nomor 35 Tahun 2009. (Ant)

KOMENTAR FACEBOOK