Politisi Sisa Feodal

Sederhana, politik itu adalah lakon, drama, atau sandiwara. Bila dalamnya ada pesan yang menegaskan siapa tuan. Ada simbol yang menjelaskan pemberi restu. Dan ada laku yang menggambarkan siapa penentu, kesemuanya tertuju pada satu tujuan: drama politik untuk menumpuk kekuasaan.

Itulah sesungguhnya drama ekonomi yang dilakonkan secara politik oleh mereka yang menjadi elit kapitalis birokrat (kabir). Mengapa?

Jawabannya karena modal (kapital) mereka ini utamanya memang dari kekuasaan, bukan dari akumulasi bisnis. Ini, yang pada masa orba oleh aktivis disebut kaum pencoleng. Mereka ini juga yang pernah dilawan, termasuk dengan senjata oleh yang kini disebut kaum pejuang.

Sayangnya, nikmat modal yang berasal dari akumulasi kekuasaan, bukan bisnis (hasil kerja keras) membimbing mereka kemudian menjadi pengikut kaum sisa feodal, yang mungkin secara genetik, memang ada terikutsertakan dalam darah. Maka, tidak heran jika model-model politik sisa feodal disebut sebagai fatsun politik, dan dipercaya sebagai cara keramat dan halal untuk meraih modal kekuasaan.

Maka jangan heran jika aktivitas produksi dan produktivitas sektor manufaktur tidak pernah menjadi prioritas bila mereka berkuasa. Mengapa? Sektor ini mensyaratkan pendidikan yang lebih tinggi hinga di tingkat akar rumput. Rezim ini akan lebih menjadi rezim keruk dan angkut di sektor ekstraktif sumberdaya alam sehingga peningkatan sdm bisa dilambat-lambatkan.

Itulah mengapa dalam rezim ini posisi kekuatan yang sifatnya militer dan agama mendapat tempat. Praktek fasisme militer dan agama ini sangat berguna untuk melakukan pengendalian sosial untuk tujuan dan maksud politik yang ujungnya dapat dipakai untuk mengumpulkan modal (kapital) kekuasaan. []

Renungan Samping (Resam)
Risman A Rachman

KOMENTAR FACEBOOK