Zakaria

Zakaria adalah seorang nabi yang hidup di zaman penuh pertentangan. Cahaya terang dari Baitul Maqdis berhadapan dengan cahaya kegelapan dari pasar-pasar Yahudi yang bersebelahan dengan Baitul Maqdis.

Ketika Maryam lahir dari istri Imran, para pemuka agama dan politik kala itu berlomba ingin mengasuh. Padahal ada Zakaria sebagai kerabat. Klaim Zakaria ini dibantah, sampai terjadi pengundian. Tapi, karena motif politik telah menguasai elit, ragam bantahan atas kemenangan Zakaria atas undian dilakukan, sampai akhirnya tidak ada lagi yang bisa dilakukan, selain menyerahkan Maryam dalam asuhan Zakaria.

Zakariapu mendidik Maryam dengan sebaik-baik didikan, dan mendekatkan Maryam kepada mesjid sebagaimana nazar ibunya. Dari sinilah Zakaria memahami makna rezeki Allah tanpa hisab kepada hambaNya yang taat. Akhirnya, Zakaria yang belum memperoleh keturunan berdoa agar diberikan keturunan, yang kemudian Allah kabulkan dengan anugerah anak bernama Yahya.

***

Hidup di zaman penuh pertentangan yang saling berhadap-hadapan memang tidak mudah. Butuh kesabaran untuk taat yang luar biasa, apalagi dalam menghadapi elit yang penuh tipu muslihat hanya untuk mendapatkan kemuliaan sosial, kultural dan politik.

Melalui kisah Nabi Zakaria kita dibimbing untuk menjadi pribadi yang taat dan berserah diri serta percaya kepada Allah. Tanpa itu, tergelincirlah kehidupan.

Ada riwayat menyebut akhir hidup Nabi Zakaria yang tragis. Zakaria lari dari kaumnya, lalu masuk ke sebuah pohon. Mereka pun mendatanginya dan menggergaji pohon itu. Tatkala gergaji itu mengenai otot-ototnya dan ia pun merintih lalu Allah mewahyukan kepadanya: “Jika rintihanmu tidak mereda pasti aku akan jungkalkan bumi dan apa-apa yang ada diatasnya maka Zakaria pun menghentikan rintihannya sehingga dirinya terpotong dua.”

Kita doakan, semoga zaman kita bukan zaman yang penuh pertentangan diantara kebenaran dan kepalsuan. Jika ada, bukan tidak mungkin era Zakaria akan kembali lagi. []

Renungan Samping (Resam)
Risman A Rachman

KOMENTAR FACEBOOK