Surat Rindu untuk Tiro

Kutulis surat ini karena rindu padamu Tiro, biarpun tidak mungkin engkau balas. Kutahu dikau mengerti mengapa surat kutulis dan kukirim, padahal biasanya cukup ku sebut-sebut diwarung kopi sampai juga isi bicara padamu.

Ku ingat ketika suatu kali kala kita berkumpul di aneuk galong. Di depan kami dikau sebut-sebut jangan menyerah sebelum tiba pada tujuan kita, mungkin engkau ingin berkata ibarat kereta api cheh choeh yang berjalan lambat dari kutaraja ke sigli, jangan pernah turun di seulimum kalau tujuan kita ke padang tiji.

Dikau unik, asalmu pedir tapi kebanyakan pasukanmu aceh rayek. Hebat pasukanmu, tak penting asoe lhok atau asoe kulam tak penting buya krueng atau buya tameng, yang penting masih satu barisan.

Berbanding my hero kami lainnya dikau terlalu hebat, menyerang musuh bukan di kampung tapi di kota. Dikau tidak jago kandang tapi jagoan sesungguhnya.

Oya, anehnya lagi dirimu seperti bukan raja bukan panglima, padahal dikau punya wasiat sultan menjadi pelanjut digelar wali, titah resmi untuk sekejap waktu karena negeri dalam situasi darurat. Surat itu sakti loh, ibaratnya dikau PLT pelaksana tugas, tapi kulihat dikau biasa-biasa saja. Jalanmu, bergaulmu dan yang buat aku takjub kursimu tanah bantalmu batu.

Karena dikau teladan, pasukanmu juga ikutimu jadi teladan. Sekali lagi aku tabik, bertempur dan menggempur tiada habis tapi pasukanmu ketika pulang seperti orang biasa tiada beda tak berkasta. Tidak ada daftar warga yang memanggul senjata atau warga yang duduk saja, asal muslim ya saudara. Luar biasa Tiro.

Jenderal van teijn kehilangan akal melawanmu kala itu di maret 1882, di kutaraja saban hari dia meeting cari siasat atur strategi menggempurmu. Sedang dikau menanggapinya biasa saja, bagimu strategi itu ya tekad dan keikhlasan.

Suratmu yang dikau kirim ke sang jenderal guncangkan kerajaan belanda di eropa dan batavia. Dalam catatan belanda tidak pernah ada tawaran perdamaian tanpa permintaan bantuan ekonomi, tanpa jabatan dan minimal kebun pala dan lada untuk pasukannya, belum pernah ada Tiro. Tapi dikau benar-benar beda, cuma minta satu ‘bersyahadatlah wahai jenderal maka kita bisa memulai perdamaian’.

Van Teijn naik darah kala itu, seperti biasa prilaku pribumi pasti ada yang menikung ditikungan, jenderal sebarkan perintah ke pribumi disertai hadiah tangkap hidup atau mati Tiro. Kebiasaan satu dua kaum pribumi jadi rahasia umum kerajaan belanda ‘beri kursi bagi yang gila kuasa dan beri nasi bagi yang perut selalu mau diisi’.

Ku ingat dikau selalu warning pasukanmu, bahwa musuh terdekat bukan kolonial tapi nafsu kita sendiri. Tapi sekali lagi belanda terlalu banyak tahu tentang kita Tiro, ingat kan kata-kata Snouck kepada sidang para jenderal bahwa diantara kita terdapat tanda-tanda kelemahan nyata sampai generasi kapanpun, katanya ‘pruet ruhung boh meu gantung, karu ureung saboh donya’.

Tiro, itu saja isi surat rindu padamu. Seperti biasa kutambah salam penutup diakhir surat rindu. Dikau jalani hidup sebagai muslim yang taat, wibawamu dan kekuasaan melebihi sultan tapi dirimu tetap Tiro, putra kampung yang tak duduk disinggasana. Tiada peluru yang menembus tubuhmu hanya racun yang menghentikan dirimu, tragis, mati ditangan bangsa sendiri.

Tiro, andai kami bisa menjumpai gantimu saat ini, maukah dikau doakan kami menjadi sepertimu seperti keluargamu, bak kekaguman Hc Zantgraaff kepadamu: bahwa tiada satupun keluargamu yang menyerah pada belanda dan berjuang sampai titik darah penghabisan selain keluargamu.

Tiro, kami rindu memilikimu kembali.

Tangse, 7 November 2015
Hasnanda Putra

(kutulis surat serasa tempat di Pulo Mesjid Tangse, tempat penerus akhirmu terkubur,  mati juga sebagai ksatria bangsa, tidak menyerah, Tgk Chik Mayet dan pejuangmu)

KOMENTAR FACEBOOK