Ustad Maulana dan Tradisi Perdebatan Pemikiran Islam

Iya, saya bukan penyimak dari Mubalegh Indonesia dewasa ini yang muncul hampir tak terkira banyaknya. Lengkap dengan gaya-nya masing-masing. Sebab, bagi saya, mubalegh yang berkesan di hati hanya-lah Ust. Zainuddin MZ., yang memiliki hulu ledak yang tak terkira, ketika menyampaikan pesan-pesan agama.

Kini, se-akan-akan semuanya dapat menjadi mubalegh. Bahkan dengan pemahaman agama yang secuil sekalipun. Asal mampu membuat jamaah terkekeh, sah sudah panggung untuknya. Ramai-ramai televisi menyodorkan kontrak untuk dia.

Akibat kemasan agama yang sedemikian rupa, maka tak heran ulama yang memiliki pemahaman agama yang mumpuni, akan tersingkir dengan sendirinya. Bahkan ada yang berkelakar begini, seandainya Buya Hamka masih hidup beliau-pun tidak akan mendapat posisi yang semestinya di hadapan jamaah.

Lalu masalahnya dimana?

Masalahnya muncul ketika para mubalegh itu kemudian dianggap berani menyampaikan sesuatu yang berbeda dengan pemahaman umum apalagi perkara itu sensitif. Sehingga, karena sedari awal mubalegh itu dianggap tidak memiliki otoritas keilmuwan Islam, maka dia mendapatkan hantaman yang tidak tanggung-tanggung. Maulana, mubalegh dari Makasar, yang kini sedang merasakan hal demikian.

Tumbuh sebagai mubalegh populer, lengkap dengan gaya-nya yang mengundang kritik, dia kemudian tiba-tiba memasuki tema yang sensitif; Islam dan Kepemimpinan.

Dalam satu ceramahnya yang menjadi viral di social media, dengan gamblang dia mengatakan,tidak ada sangkut pautnya perkara agama dengan kepimimpinan, asal bisa berlaku adil, tak mengapa. Kira-kira begitu idenya.

Dan mulai-lah, tanpa dikomandoi, dia pun diserang dengan kata-kata yang di luar batas kesopanan, misalnya saja disebut sebagai ‘pelawak’.

Sebenarnya, apa yang disampaikan oleh Maulana adalah hal yang tidak terlalu asing. Misalnya saja, di awal tahun 1970, Nurcholis Madjid pernah menyampaikan gagasan yang membuat geger alam politik Indonesia kala itu, dengan memperkenalkan frasa ‘Sekularisasi’ atau juga jargon ‘Islam Yes, Partai Islam No?’

Memang semuanya menjadi geger, terutama para eks Masyumi yang sedang berjuang untuk merehabilitasi partainya yang telah diminta dibubarkan oleh rezim Sukarno.

Tidak ada hujatan sedemikian rupa kepada Nurcholish. Malahan gagasannya itu dibincangkan secara terhormat, sejauh apapun perbedaan yang timbul setelah itu. Misalnya saja, H.M. Rasjidi, memberi bantahan yang tak terkira, langsung masuk ke inti dari gagasan Nurcholish tersebut. Bahkan karena bantahan Rasjid tersebut, sebagaimana pengakuan Fachry Ali, aktvis PII memiliki kembali rasa percaya diri untuk memberi bantahan kepada Nurcholish.

Bahkan yang menariknya, Panji Masyarakat, majalah yang dipunyai oleh aktivis eks Masyumi, pun ikut memberikan ruang kepada Nurcholish untuk menyampaikan gagasannya, sekaligus juga ruang untuk para pembantahnya.

Pertanyaannya, mengapa hal demikian dapat tumbuh di masa lampau, lalu mengapa pula hal tersebut semakin hilang di era kekinian?

Pertama, generasi yang lebih lampau adalah generasi yang tumbuh dalam tradisi perdebatan yang keras. Kerasnya rezim kolonial dan impian untuk hidup sebagai bangsa yang merdeka, maka membuat mereka harus menyusun bagaimana kerangka konseptual secara serius. Oleh karena itu, perdebatan merupakan tradisi yang tumbuh di zaman itu.

Contoh saja, Sukarno yang berdebat dengan Natsir, atau juga perdebatan di dalam sidang BPUPKI, atau bahkan, hal yang dipuji setinggi langit oleh Adnan Buyung Nsution, perdebatan antara partai politik di Majelis Konstituante.

Nah, apa yang disampaikan oleh Nurcholish sesudah itu, di awal tahun 1970-an, dan berikutnya surat-menyurat dia dengan Moh. Roem mengenai perkara ada atau tidaknya negara Islam, adalah kelanjutan dari tradisi di masa lampau tersebut.

Kedua, medium perdebatan adalah surat kabar. Keterbatan surat kabar yang menggunakan kertas sebagai bahan utama dan penerbitannya secara periodik, serta membutuhkan proses yang selektif melalui dapur redaksi, kemudian memungkinkan hal tersebut, perdebatan yang sehat itu, terjadi.

Hal yang menjadi berkebalikan akhir-akhir ini.

Saya menyebutnya, generasi sekarang adalah tumbuh dari tradisi yang gelap dan tertutup karena semakin hilangnya ruang refleksi. Perdebatan dianggap tabu. Celakanya, hampir tidak ada media yang mau memuat perdebatan seserius mungkin, yang dapat membedah gagasan dan konsepsi sedalam-dalamnya. Hal ini bisa jadi dikarenakan oleh orientasi bisnis yang lebih besar pada pemilik media.

Oleh kerena perkara itu, saya menjadi ingat tradisi intelektuil yang dibangun di Aceh Institute 2006-2009, melalui web site resmi lembaga tersebut. Aceh Institute berani tampil beda, dengan membuka seluas-luasnya ruang perdebatan di Aceh kala itu, dalam berbagai tema: agama, sosial, budaya mupun politik.

Hal lain yang menyebabkan tentu saja dengan berkembangnya tehnologi informasi, terutama media online dan social media, yang kemudian berimbas kepada kemandirian individu untuk memberikan tafsirnya terhadap realitas dan informasi.

Celakanya, kondisi bermata dua. Yaitu, keadaan dimana kemandirian membuat individu berhak memberi penafsiran tanpa diintervensi oleh dapur redaksi, namun sebaliknya, muncul ada keliaran dan ketidak tertiban. Kasus Maulana di awal tulisan ini adalah sebagai contoh terdekat.

Sehingga kiranya, penting dan mendesak untuk menata kembali cara berfikir dan berdebat generasi dewasa ini. Bahwa kemudahan karena akses informasi semakin cepat didapat, tidak lah kemudian membuat kita malah semakin mundur ke belakang, baik dari gagasan yang kita punyai, maupun cara kita memperdebatkan gagasan itu.

Bung Alkaf

Bung Alkaf
Kolumnisacehtrend

 

KOMENTAR FACEBOOK