Renungan Muhibbuddin: Ternyata Sudah 10 Tahun

Jum’at 13 November 2015. Anjong Mon Mata Banda Aceh menjadi saksi. Perdamaian yang dahulu dihasilkan di Helsinki diperingati. Tajuknya mendonja: “Konferensi Internasional Peringatan 10 Tahun Perdamaian Helsinki.”

Di sambut dengan penuh kegembiraan oleh para peserta yang hadir. Ditanggapi oleh pihak yang berkompeten memberikan tanggapan. Diantaranya, Wali Nanggroe PYM Malik Mahmud Al Haythar dan Gubernur Aceh Dato’ Zaini Abddullah. Tanggapan yang sangat menggembirakan para peserta yang hadir, khususnya Pieter Feith (ketua AMM) beserta rombongan, yang tentunya mereka tidak tau betul kondisi riil masyarakat di lapangan.

Salah satu media online, serambinews.com, melansir sepenggalan tanggapan dari keduanya sebagai berikut; perdamaian telah membawa Aceh ketingkat bisa meyakinkan dunia bahwa Aceh merupakan tempat yang indah untuk dikunjungi, dihuni, juga untuk berinvestasi. Begitu kata WN Malik Mahmud Al Haythar dalam pernyataannya. Sementara Gubernur Aceh Zaini Abdullah yang bertindak sebagai pembuka acara mengatakan, suasana perdamaian telah membawa perubahan besar kehidupan masyarakat di berbagai wilayah Aceh.

Adalah hal yang lumrah, sebagaimana bukan hanya sekali ini baru disaksikan, bahkan telah menjadi tradisi elit (eksekutif) Aceh, setidaknya selama 10 tahun terakhir ini. Bukan saja dalam hal ini, yang mana mendesign hal yang bersifat simbolistik dan formalistik lebih cakap dari mendesign hal-hal yang bersifat realistik dan substansivistik, yang menurut hemat penulis, sepertinya tidak berlebihan kalaupun hendak dikatakan hal-hal semacam ini tidak memberikan nilai substantif dikemudian hari, lebih kepada reuni semata.

Kenyataan semacam itu tentu bukan harapan setiap orang, dan barangkali saja “Konferensi Internasional Peringatan 10 Tahun Perdamaian Helsinki” ini merupakan sesuatu yang tak lazim, sesuatu yang diluar dari kebiasaan reuni-reuni yang telah juga terlaksana di tahun-tahun sebelumnya. Ini harapan..! Karena sesungguhnya “peringatan perdamaian Helsinki” itu bukan kali ini baru dilaksanakan, bahkan disetiap tahunnya. Maka tidak berlebihan jika harus dikatakan reuni semata bila dikaitkan dengan hasil dari apa yang telah lalu.

Tapi, berpijak dari itu, rasa optimisme dalam hal ini, dalam hal bahwa “Konferensi” dapat membawa arti bagi perbaikan langkah amanat perdamaian kedepan, sepertinya terganjal fakta dari pengalaman tahun-tahun lewat, dan hampir tidak ada alasan untuk itu. Karena masa 10 tahun adalah waktu yang lama dan sudah lebih dari cukup untuk terbentuk suatu penilaian terhadap suatu urusan.

Ya, setidaknya dalam masa itu paling tidak kita telah melihat pondasi awal bagi sebuah capaian yang berbasis perubahan buah dari perdamaian yang didapat lewat benturan taruhan nyawa puluhan ribu orang.

Nah, disini penulis tentu tidak hendak membangun kembali pikiran kelam masa lalu, tetapi bermaksud melihat kecerahan hari di masa depan melalui sentuhan setiap rangkaian galaksi yang tersentralisasi pada “perdamaian”, yang salah satunya adalah sentuhan “Konferensi Internasional Peringatan 10 Tahun Perdamaian Helsinki” yang baru saja berlalu.

Karena sayogianya “Konferensi” ini tidak dilaksanakan jika tidak untuk karena suatu nilai yang terkandung didalamnya jauh melebihi acara makan-makan bersama.
Dari perjalanannya, konferensi yang berlansung secara bergengsi itu sementara hanya dapat menggelitik ingatan bahwa “perdamaian” ternyata sudah 10 tahun bersemai, sudah dua kali berganti tampuk kepemimpinan, sudah dua kali kontestan yang disebutnya pemilu berlangsung, pula sudah dua kali partai lokal ikut serta di dalamnya, dan juga bukan cuma satu partai lokal yang mencoba ambil bagian kue politik dalam kesempatan ini, kesempatan yang tergolong langka di kencah perpolitikan dunia modern sekarang ini.

Namun, apakah konferensi itu memiliki arti yang lebih dari sekedar mambangun ingatan sepintas lalu dan mengingat peristiwa-peristiwa sebagai nostalgia? Seperti yang tergambar lewat ekspresi salah seorang tokoh GAM, juga Tuha Peut Aceh Partai Aceh Zakaria Saman, (Serambi Indonesia Sabtu, 14 November 2015, Nostalgia Apa Karya).

Atau juga barangkali telah cukup dengan memaparkan pernyataan yang didesign dengan sengaja bagi melengkapi suasana, meskipun tidak sesuai fakta? Bagaimana bisa sampai dikatakan “indah untuk dikunjungi”? Bagaimana pula bisa berani dengan pernyataan “perubahan besar”?

Sungguh, jika memang keadaan memaksa harus bernostalgia, bernostalgialah dengan mengingat bahwa seluruh fasilitas mewah yang didapat hari ini tidak lepas adalah tukaran 30 ribu lebih nyawa rakyat Aceh, gantian darah yang tak terhitung jumlahnya, harga rintihan kesakitan mereka yang tersiksa, dan bayaran ratapan kesedihan anak yatim serta para janda-janda.

Pula, andai kata kondisi menghendaki akan suatu pernyataan bagi melengkapi waktu dan ruang, berceritalah bahwa rakyat masih banyak yang melarat, kemiskinan masih belum seberapa bisa teratasi, kesehatan masyarakat semakin memburuk, stabilitas politik tidak berjalan dengan baik, pengelolaan pemerintahan cenderung tidak sehat, korupsi menjadi tabiat yang melekat, dan realisasi tujuan inti perdamaian masih jauh dari esensi yang seharusnya di capai.

Benar adanya, bahwa semua kiasan-kiasan itu sama sekali tak berguna, karena yang merasakan dan menjadi saksi adalah rakyat secara keseluruhan. Dan sebagai penanggung jawab formal, struktural, dan mengikat secara aturan, pemerintah mestinya bersikap adil dan peka terhadap situasi, jujur mengevaluasi dan bijak menyikapi. Yang mana 10 tahun perdamaian, tidak berlebihan dikatakan, adalah masa yang damai bagi sejumlah kecil orang.

Dari karena demikian, hendaknya moment “Konferensi” ini menjadi satu alasan lain bagi memetakan kembali langkah-langkah pencapaian perdamaian secara sungguh-sungguh dengan destinasi yang jelas, yaitu kedamaian, kemakmuran, dan kesejahteraan rakyat. Dalam hal ini, tentu pada tempatnya jika dikatakan bahwa, pemerintah merupakan penentu jalan bagi setiap arah. Karena eksistensi pemerintah itu tidak sendirinya, akan tetapi dilengkapi dan dibiayai.

Muhibbuddin

Muhibbuddin M Husen
Alumni MUDI Mesjid Raya Samalanga

KOMENTAR FACEBOOK