Ini Dia Kasus-Kasus Setya Novanto?

Ketua DPR Setya Novanto bukan sekali ini saja terlibat kasus dugaan korupsi, namun selalu bebas. Menjadi misteri mengapa ia selalu lolos atas rentetan kasusnya yang tidak ringan.

Tatkala ia menjadi Ketua DPR, banyak yang mengira ia akan berubah. Pimpinan DPR adalah jabatan politis cukup tinggi. Penghasilan dan kekuasaan tentu lebih dari cukup. Apalagi Setya Novanto sudah tak muda lagi. Pada tanggal 12 November lalu, ia genap berusa 60 tahun.

Namun dugaan itu meleset. Jika dugaan Menteri ESDM Sudirman Said benar bahwa SN, inisial Setya Novanto, telah menjual nama Presiden Jokowi-JK untuk memperoleh saham Freeport, maka hal itu sangat disayangkan. Ini karena pekerjaan sebagai makelar proyek tak sesuai dengan jabatannya.

Namun mengadapi tuduhan senior tersebut, Setya Novanto tetap tersenyum. Usai menghadap Presiden Jusuf Kalla, ia membantah mencatut nama Jokowi-JK kepada Freeport. Ia mengaku seorang kader Golkar yang baik.

KASUS-KASUS DUGAAN KORUPSI YANG MELIBATKAN NAMA SETYA NOVANTO

kasus Bank Bali.

1997-2000: Dikenal sebagai skandal “Cessie Bank Bali” Kala itu pemilik Bank Bali Rudy Ramli, kesulitan menagih piutangnya di Bank Dagang Nasional Indonesia, Bank Umum Nasional, dan Bank Tiara sebesar Rp 3 triliun. Tagihan tak bisa dibayar hingga ketiga bank itu masuk perawatan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN).

Rudy lantas menyewa jasa PT Era Giat Prima. Di perusahaan ini Joko Tjandra duduk sebagai direktur dan Setya Novanto sebagai direktur utamanya. Perjanjian pengalihan hak tagih (cessie) diteken pada Januari 1999. PT Era Giat Prima mengantongi separuhnya. Nah, pemberian “fee” yang besar itu dianggap janggal dan akhirnya menjadi masalah hukum.

Dalam kasus iru hanya Joko Tjandra, Pande Lubis (Wakil Ketua BPPN) dan Syahril Sabirin (Gubernur BI) yang divonis bersalah oleh pengadilan. Sedangkan Setya Novanto dan Rudy Ramli bebas.

Kasu Beras Impor

2006: Setya Novanto diperiksa 10 jam oleh penyidik Tindak Pidana Khusus Kejaksaan Agung. Ia diperiksa sebagai saksi perkara dugaan korupsi impor beras ilegal sebanyak 60.000 ton dari Vietnam. Adapun tersangka adalah mantan pejabat Direktorat Jenderal Bea dan Cukai Sofjan Permana dan Direktur Utama PT Hexatama Finindo, Gordianus Setyo Lelono. Gordianus disebut- sebut punya hubungan saudara dengan Novanto. Namun karena alasan tak ada bukti Kejagung menerbitkan perintah penghentian penyidikan.

Kasus Suap Akil Mochtar dan Ratu Atut

Desember 2013: Sempat disebut-sebut bakal diperiksa kasus suap Akil Mochtar dan Ratu Atut. Kala itu Novanto menjabat Ketua Fraksi Partai Golkar. Bersama Sekjen Idrus Marham, ia diperiksa sebagai saksi. Namun hingga Akil dan Atut masuk penjara. Setya Novanto tetap bebas.

Kasus Proyek E-KTP

Akhir 2013-2014: Mantan bendahara umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin mengungkapkan bahwa Setya Novanto dan Anas Urbaningrum adalah bos proyek (E-KTP) tahun anggaran 2011-2012. Ia bahkan menyebut Setya Novanto menerima aliran dana Rp 300 miliar untuk proyek tersebut. Selanjutnya Nazaruddin mengaku diancam akan dibunuh Setya Novanto karena mengungkap kasus tersebut. Sejak itu, ia tak pernah mengungkapkannya lagi.

Kasus Proyek PON

2013-2014: Kasus korupsi pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON) XVIII dengan tersangka mantan Gubernur Riau, Rusli Zainal. Setya Novanto bukan saja harus menjalani pemeriksaan di KPK. Tapi ruang kerjanya juga digeledah. Padahal menurut mantan Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Riau Lukman Abbas, bosnya (Rusli Zainal) melakukan pertemuan di ruangan Novanto membahas soal persiapan PON Riau. Rusli selanjutnya divonis 10 tahun penjara, sedang Novanto bebas.

Kasus Pilkada Jatim

2014: Setya Novanto hadir dalam sidang dengan terdakwa mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Akil Mochtar dalam perkara dugaan korupsi pilkada di berbagai daerah. Dalam kasus ini ia hanya sebagai saksi dugaan korupsi Pilkada Jatim.

Kasus Donald Trump

September-Oktober 2015 publik Indonesia dikagetkan video Kehadiran Ketua DPR Setya Novanto dan Wakil Ketua DPR Fadli Zon dalam sebuah acara politik Donald Trump. Kasus itu dianggap memalkan Indonesia. Video ini menuai sentimen negatif di media sosial. Namun oleh Majelis Kehormatan DPR (MKD) Setya dan Fadly Zon hanya diberi berupa berupa teguran.

Kasus Makelar Freepot

Nopember 2015: Menteri ESDM Sudirman Said menyebut ada yang menjual nama Presiden Jokowi dan Jusuf Kalla kepada Freeport. Setya Novanto segera menyatakan tak ada anggota DPR yang seperti itu. Ketika sang menteri menyebut inisialnya, Novanto segera menghadap Wapres Jusuf Kalla.

SUMBER

KOMENTAR FACEBOOK