Catatan Lepas Teuku Mahfud: Pahlawan Itu Selotip

Oleh: Teuku Mahfud
Warga Banda Aceh

Sungguh menarik melihat kota Banda Aceh kembali dimeriahkan oleh beberapa spanduk unik dan kreatif yang dipersembahkan oleh Yang Terhormat Anggota Parlemen Banda Aceh (begini lho kalimat yang benar dalam menyebutkan seorang anggota DPRK) Sabri Badruddin, ST. Spanduk-spanduk yang menghiasi beberapa tempat strategis di kota Banda Aceh ini dipasang dengan maksud untuk memperingati Hari Pahlawan Nasional Indonesia, 10 November 2015. Spanduk-spanduk tersebut berisikan rangkaian-rangkaian kalimat inspiratif yang ditulis berbeda satu sama lainnya, diantaranya: Pahlawan itu Berbuat, Pahlawan itu Inovatif, dan Pahlawan itu Solutif. Semuanya menggunakan huruf-huruf dekoratif non-formal dan warna-warni cerah yang menyegarkan, jauh dari kesan formal kaku alat peraga yang umumnya dipasang oleh politisi lain di Banda Aceh. Tidak lupa di sisi kiri spanduk tersebut terpasang foto close-up seorang perjaka tinting nan ganteng dan segar dengan tulisan dibawahnya Sabri Badruddin, ST, Ketua Komisi B DPRK Banda Aceh. Background kuning yang menunjukkan beliau berasal dari Partai Golkar semakin menambah kesan segar tersebut. Pokoknya impresi yang diperoleh dari melihat semua spanduk tersebut adalah: segar dan renyah!

Bukan pertama kali YTHAPBA Sabri Badruddin, ST menggunakan metode promosi semacam ini. Saya mencatat setidaknya selama dua tahun terakhir pola sejenis bisa didapatkan di semua spanduk ucapan selamat ulang tahun beliau untuk Kota Banda Aceh. Bahkan kalimat yang digunakan sangat kolokial dan trendi, seperti “Met ultah Banda Aceh kyu”, dan “HBD Banda Aceh kyu”. Sebagai seorang yang berkecimpung di bidang pemasaran, saya sangat mengagumi pilihan kata-kata abang letting-kyu di Fakultas Teknik Unsyiah ini. Sangat kreatif dan berbeda! Bukan karena semangat korsa aneuk teknik yang membuat akyu memuji-muji abang letting saiyah ini, tapi dia memang betul-betul luar biasah!

Sabri melihat ada potensi pasar yang belum tersentuh yang dapat digugah dengan menggunakan metode marketing politik semacam ini, yaitu kaum muda belia yang dalam waktu dekat akan segera memiliki hak pilihnya. Menurut feeling saya dan perasaan dari beberapa teman lainnya, 88% kaum muda belia merasa dekat dan nyaman dengan figur Sabri Badruddin, dan masih menurut feeling saya dan perasaan dari beberapa teman lainnya, 95,4% dari kaum muda belia tersebut akan memilih Sabri Badruddin di pemilihan legislative berikutnya, bahkan di pemilihan kepala daerah 2017 apabila Sabri punya niat untuk mengikutinya. Survey berdasarkan feeling di atas dilaksanakan dari tanggal 10 hingga 16 November 2015. Sampel diambil ketika para respondennya lagi ngopi dan sedang ”random”, dan dengan tingkat kepercayaan 95% dan margin of error sebesar 2,1%.

Ehem, setelah membahas dengan panjang lebar konsep marketing politik YTHAPBA Sabri Badruddin, ST diatas, saya harus mengakui maksud sebenarnya menulis artikel ini adalah BUKAN itu! Mohon dimaafkan kalau para pembaca harus direpotkan dengan pembahasan bertele-tele diatas, karena sejujurnya yang ingin saya sampaikan di tulisan ini adalah betapa inspiratifnya kalimat-kalimat di dalam spanduk itu seperti: Pahlawan itu Berbuat, Pahlawan itu Inovatif, dan Pahlawan itu Solutif.

Saya sangat setuju dengan pernyataan Pahlawan Itu Berbuat, karena kalau tidak berbuat, seseorang tidak akan bisa menjadi pahlawan bagi orang lain. Sebagai contoh, andaikan pemimpin pasukan Wehrkreis III Letkol Soeharto terlambat bangun atau bermalas-malasan pada fajar 1 Maret 1949, maka mungkin peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 terhadap Belanda di ibukota RI Yogyakarta tidak akan terjadi. Dan para pimpinan pasukan Wehrkreis I dan Wehrkreis II yang juga tergabung dibawah DIVISI III akan sia-sia saja bertempur mati-matian menghadang pasukan Belanda yang menuju Yogyakarta. Andaikan saja dalam serangan itu Soeharto tidak cakap melaksanakan siasat bossnya Panglima DIVISI III Kolonel Bambang Sugeng, maka mungkin 6 orang prajurit Belanda tidak akan tewas dan 14 orang prajurit lainnya tidak akan terluka, sementara korban di pihak Indonesia 300 prajurit dan 53 polisi tidak akan tewas dengan sia-sia. Soeharto telah berbuat, maka dia adalah seorang pahlawan bagi sebagian orang.

Pahlawan itu Inovatif! Entah dari mana harus memulai pembahasan ini karena saya sedikit bingung harus memilih antara penemu/pencipta ataupun pemimpin yang inovatif sebagai seseorang yang bisa kita anggap pahlawan. Baiklah, karena pernyataan ini keluar dari seorang politikus maka saya akan membahasnya dari sisi kepemimpinan saja. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) inovatif adalah bersifat memperkenalkan sesuatu yang baru; ber-sifat pembaruan (kreasi baru). Contoh pemimpin yang hendak saya kemukakan di sini adalah Fadhel Muhammad, politikus Golkar yang mantan Gubernur Gorontalo. Ketika memimpin Gorontalo sejak tahun 2001, dia berhasil merubah daerah itu menjadi salah satu penghasil jagung terbesar di Indonesia dengan memperkenalkan sebuah metode baru yang revolusioner. Metode yang dia gunakan sangat simple, yaitu membeli jagung dengan harga yang lebih mahal dari tengkulak tapi lebih murah sedikit dari harga pasar, sehingga petani berlomba-lomba menanam jagung karena untung. Dia memprogramkan sistem pertanian yang disebutnya dengan djie sam su (234), yaitu petani menanam jagung 2 hektar, dengan produksi 3 ton sekali panen, dan memelihara 4 ekor sapi. Produksi jagung dan daging sapi pun melonjak berkali-kali. Fadhel mengekspor jagung dan sapi yang surplus ke Malaysia, bukan ke pulau Jawa, karena bisa lebih menguntungkan. Walau pada akhirnya ekspor sapi terhenti karena regulasi pemerintah pusat di masa itu. Di bidang perikanan Fadhel menciptakan sistem Taxi Mina Bahari, yang terinspirasi dari sistem pooling taxi Blue Bird. Seperti di perusahaan taxi Blue Bird, nelayan Gorontalo disediakan boat, solar dan perawatannya ditanggung pemerintah daerah, sehingga nelayan tinggal fokus melaut dan mencari ikan saja. Biaya operasional diambil dari bagi hasil tangkapannya saja. Dengan keinovatifannya, Fadhel Muhammad menjadi pahlawan bagi daerahnya.

Yang ketiga: Pahlawan itu solutif! Errr… walaupun banyak perdebatan di dunia maya mengenai mana yang lebih benar kata solutif atau solusif untuk menjelaskan kemampuan seseorang di dalam memecahkan sebuah persoalan, tapi saya tidak mau ambil pusing untuk ikut-ikutan mempermasalahkannya. Kalau YTHAPBA Sabri Badruddin, ST sudah memilih kata solutif, maka saya akan dengan sukarela ikut menerimanya. Seorang pemimpin yang baik harus tahu bagaimana mengambil keputusan yang baik bagi semua orang, dan memikirkan solusi baru untuk dampak yang mungkin timbul di di kemudian hari. Contoh yang menurut saya keren di dalam bab ini adalah kepemimpinan Jokowi dan Ahok di Jakarta di dalam mengatasi masalah banjir dan penggusuran penduduk. Adanya bangunan liar yang didirikan tidak pada tempatnya ( ya iyalah, kalau pada “tempatnya” pasti tidak akan digusur) di banyak tempat di Jakarta telah menimbulkan kekumuhan dan pada beberapa kasus malah menjadi penyebab banjir, dan masalah-masalah sosial lainnya. Di beberapa lokasi, bantaran sungai dimanfaatkan penduduk menjadi tempat tinggal dan usaha dengan mendirikan bangunan-bangunan. Adanya bangunan itu malah menyebabkan beberapa saluran pembuangan macet, sampah yang susah untuk dibersihkan, normalisasi sungai yang susah dilaksanakan, bahkan menyempitnya badan sungai. Solusi yang dijalankan Jokowi dan Ahok adalah dengan merelokasi mereka. Tapi sebelum dipindahkan, mereka mendirikan banyak rumah susun sewa yang akan nantinya menjadi tempat tinggal baru warga yang terkena dampak penggusuran, walau banyak warga yang menentang karena tidak rela pindah dari tempat yang sudah dihuninya bertahun-tahun. Pemimpin-pemimpin sebelumnya, mana ada yang mau memikirkan solusi dari dampak solusi yang mereka buat sebelumnya. Kalau sudah gusur, ya gusur saja, mana ada terpikir warga yang tergusur harus tinggal di mana. Jadi, menurutku Jokowi itu solutif dan dalam hal ini dia adalah Pahlawan! Titik! Eh, pembaca pasti menduga saya ini adalah seorang Jokower, ya? Benar! Anda benar! Saya benar adalah seorang Jokower sejati.

Menurutku, selain ketiga jargon diatas, YTHAPBA Sabri Badruddin, ST seharusnya menambahkan satu jargon lain, yaitu: PAHLAWAN ITU SELOTIP! Selotip? Iya selotip, atau lazim disebut dengan lakban atau isolasiban. Kenapa pula pahlawan itu harus selotip? Saya punya pemikiran bahwa seorang pahlawan itu juga harus seperti selotip, yaitu mampu merekatkan dua benda, atau merekatkan benda-benda yang retak atau pecah, walau hanya untuk sementara. Pahlawan yang hebat itu harus bisa menjadi milik kedua belah pihak yang berseteru. Dengan kepiawaiannya, si pahlawan bisa menyelesaikan sebuah pertikaian dan bahkan bisa mengeratkan kembali hubungan yang rusak yang timbul setelah pertikaian tersebut. Contoh yang saya sangat kagumi adalah Pak JK. Jusuf Kalla adalah master dalam hal ini. Kita belum lupa sepuluh tahun yang lalu dia memprakarsai perjanjian damai Aceh. Tidak hanya Aceh, konflik Poso dan Ambon juga berhasil diselesaikan oleh tangan dinginnya. Pak JK juga menjadi konsultan di dalam menanggani konflik serupa yang terjadi di Pilipina dan Myanmar. Luar biasa bukan? Pak JK adalah seorang pahlawan!

Yang paling aktual adalah Pak JK berhasil mempersatukan kubu ARB dan Agung Laksono yang bersengketa memperebutkan kursi Golkar 1. Setidaknya dia berhasil membuat kedua belah pihak sepakat untuk bekerja sama dalam agenda pilkada serentak 2015 ini. Sayangnya, kemesraan ini segera cepat berlalu. Pengadilan Tinggi Jakarta memutuskan untuk mengembalikan tahta Slipi 1 ke kepengurusan hasil munas Riau 2009, yaitu ARB. Kubu ARB pun bergerak cepat mengamankan semua posisi penting baik di pusat maupun di daerah pasca putusan PT ini 20 Oktober 2015 yang silam. Sayang sekali selotip Pak JK kurang ampuh kali ini. Banyak orang meramalkan Golkar sepertinya akan benar-benar terbelah dan akan melahirkan anak baru, melengkapi daftar Hanura, Gerindra, dan Nasdem yang lebih dahulu berkibar. Jelas Pak JK memerlukan senjata baru, yaitu perekat super yang lebih hebat dari sebuah selotip. Mungkin YTHAPBA Sabri Badruddin, ST bisa memberi jargon baru yang akan menginspirasi terciptanya sebuah perdamaian abadi dan permanen di dalam konflik Golkar ini, yaitu PAHLAWAN itu LEM SETAN!

Peace!

KOMENTAR FACEBOOK