Renungan Muhibuddin: Sebatas Pemanis Bibir?

Oleh: Muhibbuddin M Husen
Alumni MUDI Mesjid Raya Samalanga

 

Saya percaya sekali, semua kita yakin bahwa menyampaikan sesuatu secara perilaku dan keteladanan adalah pola penyampaian yang sangat tepat. Ajakan dan arahan lewat lisan bukan berarti tidak perlu, tapi itu untuk mempertegas dan memperjelas tentang apa dan bagaimana sesungguhnya itu berlaku.

Dengan kata lain, apa saja yang diucap dan disampaikan lewat lisan oleh seseorang itu haruslah merupakan bentuk suatu perkara yang ia sendiri adalah sebagai pelaku bagi perkara tersebut.

Bagaimana hendak meminta orang untuk menjaga akan sesuatu? Sementara yang meminta itu sendiri tidak terlihat ia sedang menjaganya. Malahan terkadang ia terlihat sebaliknya.

Juga bagaimana hendak mengajak orang melakukan sesuatu? Sementara disaat yang bersamaan ia sedang melakukan sesuatu yang ternyata sungguh berlawanan.

“Lisanul hal afshahu min lisanil maqal”, keteladanan lebih memberi arti dan mempengaruhi dari ucapan.

Adalah sebuah sastra Arab yang sangat tepat menggambarkan tentang kondisi, yang mana faktor psikologis masyarakat memang lebih kuat kecenderungan pengaruhnya oleh sebab sikap sebuah keteladanan.

Karena itu, jika keteladanan ini telah mencul serta pada diri seseorang, disaat itu pula sesungguhnya waktu yang tepat bagi dirinya bila hendak mengajak orang lain berbuat tentang apa yang dia ucapkan dan dia kehendaki.

Nah, kita telah sering mendengar ucapan-ucapan yang intinya berbicara tentang keharusan menjaga apa yang disebutnya “perdamaian Aceh”, yang telah dicapai dan ditandatangani pada tanggal 15 Agustus 2005 lalu.

Dalam hal ini, kita tentu juga telah yakin meskipun tiada seorang pun yang berusaha meyakinkan kita, bahwa perdamaian di bumi Aceh yang sudah lebih 10 tahun berjalan merupakan hal yang muthlaq, perkara yang penting, persoalan yang perlu dirawat, dan perlu dijaga secara bersama.

Kita telah meyakini semua itu.
Dan keyakinan ini barangkali saja terbina atas dasar yang berupa kenyataan, bila mana kekacauan dan ketidakdamaian itu terjadi di Aceh bukan dirasakan oleh orang lain. Bukan pula penderitaan yang menimpa akibat kekacauan itu dialami oleh mereka-mereka yang diluar Aceh. Semua pasti rakyat Aceh sendiri yang akan merasakan itu.

Maka dari itu, siapapun dia rakyat Aceh hari ini sepertinya dapat dipastikan bahwa hidup diluar kondisi aman dan damai bukanlah sesuatu yang diharapkan. Harapan mereka setiap orang Aceh sekarang ini, adalah hidup bersama dalam kondisi yang aman dan damai.

Pun demikian, bila ketidakdamaian itu terjadi itu bukanlah dikarenakan oleh sesuatu dari harapan mereka, tapi disebabkan oleh kehendak perdamaiannya itu sendiri yang telah diracuni pihak-pihak yang dipercayai. Sehingga arti dari perdamaian yang sesungguhnya tidak lagi diketahui, dan juga tidak lagi terlihat maknanya.

Oleh karena itu, maka “perdamaian” tidak seharusnya lagi sebagai sebuah ucapan, tapi suatu pengupayaan nyata terutama sekali pemerintah Aceh sebagai penguasa yang cukup kekuatan.

Dan sudah sepatutnya menyadari dan merenungkan kembali, untuk menjaga dan memelihara perdamaian ini tidak cukup dengan ucapan-ucapan yang di lontarkan disetiap ruang dan disetiap kesempatan. Tetapi mengharuskan akan suatu bentuk pendefinisian riil terhadap perdamaian itu seperti apa.

Dan untuk itu barangkali tidak perlu harus berkata tentang UUPA kepada mereka, tadak perlu harus menerangkan MoU, tidak butuh simulasi dana OTSUS, juga tidak penting dengan menjelaskan soal BENDERA. Akan tetapi cukup dengan menghadirkan keadilan, menegakkan aturan, menghilangkan praktek-praktek kemunafikan yang sangat amat merugikan.

Mulailah kembali berbicara menyentuh wiliyah kehidupan nyata rakyat jelata yang pernah menimpa derita akibat konflik yang bukan pilihan mereka. Dan jelaskan kepada mereka secara nyata bahwa inilah hasil dari apa yang dulu pernah dikata. Dengan semua ini tentu pada akhirnya perdamaian itu akan bermakna, perdamaian itu akan terjaga, perdamaian itu akan terawat, dan perdamaian itu akan terlihat sesuai namanya.

Sungguh sama sekali tiada berguna sesebuah ucapan jika bukan dari kerana ada maknanya. Atau ucapan-ucapan tentang perdamaian yang dilontarkan itu hanya pemanis bibir semata?
Dan, tiada satu kekuatan pun yang lebih pantas dan dapat diharap untuk supaya setiap orang sampai ke ruang kedamaian dari perdamaian itu, selain kekuatan tangan kekuasaan, yang hanya dengan satu cahaya pikiran sadar disana akan dapat merubah seribu titik gelap kebingungan disini.[]

KOMENTAR FACEBOOK