Pohon Geulumpang, Dimana Sakralnya?

Oleh: Muhibbuddin M Husen*

Bukan jenisnya, tapi letak tempat dan penempatannya yang barangkali mengelitik banyak orang ikut bicara tentang keberadaan, dan pemusnahan pohon dengan nama GEULUMPANG itu yang terjadi, Kamis 19/11.

Jika soal jenisnya, sungguh sayang sekali puluhan pohon geulumpang dikampung saya yang ditebang sembarangan tanpa ada seorang pun ikut tergerak untuk peduli. Ini jelas, memang bukan soal jenis, nama, dan juga bukan soal bagus kualitas kayunya.

Diantaranya, adalah media sosial termasuk salah satu sarana yang dimanfaatkan untuk mengangkat persoalan itu. Tentu dengan berbagai macam ragam cara dan gaya bahasanya, yang kesemua itu tidak lupa dikaitkan semuanya dengan alasan sejarah (situs sejarah).

Disitu terlihat, ternyata banyak pihak yg menyesali, bahkan katanya kecewa dengan pemotongan pohon geulumpang itu, hingga-hingga pemerintah Aceh dianggap telah keliru dengan keputusan tersebut. Dan pula ada isu yang berkembang di media sosial bahwa pemkot Banda Aceh tidak tahu menahu dalam hal pemotongan itu, tidak ada koordinasi, katanya.

Terlepas dari itu, apakah memang benar pohon itu merupakan situs sejarah yang sangat sakral? Sehingga tidak boleh bertukar. Apa yang sakral dipohon itu? Dan kemanakah hubungan sejarahnya?

Dan apapun itu sebaiknya tidak ada pihak yang hendak bermain memanfaatkan rentetan peristiwa sejerah serta pemotongan pohon itu untuk kepentingan tertentu.

Mengamati kilas balik sejarah yang mana peristiwa tewasnya Kohler 142 tahun yang lalu, dicatat itu terjadi tepatnya dilokasi tempat dimana pohon geulumpang itu berada sekarang ini (sebelum dipotong).

Tapi pada waktu itu, sejarah juga mencatat bahwa pohon geulumpang tersebut (yang kita lihat sekarang) belum ada. Pada waktu itu hanya ada pohon sejenis namun sudah mati jauh hari sebelum pohon yang ada sekarang ditanam kembali.

Penanaman kembali itu dilakukan pada sesudah 115 tahun setelah tewas Kohler, atau tepatnya pada tahun 1988 atas inisitif gubernur Aceh Ibrahim Hasan (acehonline- Tarmizi Abdul Hamid), serta juga dibuatkan sebuah prasasti didekat pohon yang bertuliskan tentang sekitar peristiwa tewasnya Kohler.

Apa yang sakral dengan pohon yang ada sekarang? Sementara pohon yang ada pada saat kejadian peristiwa 14 Maret 1873, pohon itu telah lama musnah sebelum pohon sejenis ditanam kembali pada 1988.

Artinya, pohon itu dari dulu memang tidak dianggap sebagai situs sejarah. Meskipun Belanda sempat menamai pohon itu dengan sebutan Pohon Kohler (Kohler Boom). Sehingga pohon tersebut musnah dan penggantiannya pun tidak dilakukan dengan segara.

Lalu kemana kaitan sejarahnya pohon yang ada saat ini dianggap sebagai situs sejarah yang dalam beberapa hari ini sepertinya menjadi satu persoalan besar akibat pemotongannya itu? Apakah ke peristiwa tewas Kohler dan segala sangkut pautnya? Atau ke peristiwa sejarah penanaman kembali yang dilakukan gubernur Ibrahim Hasan?

Kalau dikaitkan ke peristiwa tewasnya Kohler yang mengindikasikan akan keperkasaan pahlawan tempur kerajaan Aceh dibawah komando yang dipimpin Teungku Imum Lueng Bata (acehonline- Tarmizi Abdul Hamid), sementara pohon itu ditanam pada tahun 1988, itu berarti pohon tersebut bukan bukti sejerah yang bersifat prinsipil bagi sejarah itu. (Baca juga: Ternyata Sudah 10 Tahun)

Tetapi itu lebih kepada bentuk suatu simbol indikatif yang bisa saja dirubah atau diganti, selama dapat mengungkapkan inti dari sejarah itu sendiri.

Kemudian kalau sejarahnya dikaitkan dengan peristiwa penanaman kembali pohon itu untuk sebagai bukti yang mana gubernur Aceh Ibrahim Hasan lah yang berinisiatif menanam pohon serta membuatkan prasasti itu, itu lebih objektif dan faktualis. Namun, sejauh manakah mempertahankannya itu terasa penting?

Terus, kalau memang cara mengabadikan situs sejerah itu seperti itu, lalu mengapa Mesjid Raya Baiturrahman tidak dibangun sama sebagaimana bentuk, struktur, dan ornamen-ornamennya semula sebelum dibakar pihak Belanda? Supaya generasi muda selanjut tidak lupa akan bagaimana sejarah MRB itu.

Dan, bukankah pula hari ini kita sudah lupa dan tidak akan berusaha lagi mengabadikan akan bagaimana sejarah kebudayaan Aceh mulai dari bahasa, ciri khas bangunan, dan adat istiadat lainnya?

Sejauh mana pentingnya mempertahankan pohon itu yang katanya sebagai situs sejarah? Dan sejauh mana pentingnya mempertahankan bahasa kita sebagai ciri khas inti sebuah bangsa yang hampir punah, dan sepertinya tidak ada pihak yang merisaukan itu? (Baca juga: Sebatas Pemanis Bibir?}

Mengapa terhadap sebatang pohon yang jelas-jelas bukan saksi sejarah bagi peristiwa penyerangan Belanda terhadap MRB dan tewasnya Mayor Jenderal J.H.R Kohler begitu mendapat sorotan? Mengapa harus bersikap sangat pragmatis, reaktif, dan praktis?

Padahal sikap adil dan bijaksananya sesorang adalah disaat dia mampu menilai sesuatu secara objektif, proaktif, realistis, dan mampu tidak mencampuradukkan ketidaksenangannya terhadap diri pribadi seseorang dalam menilai apa yang dilakukan oleh orang tersebut.

Akuilah yang benar itu benar, yang salah itu salah.. Yang baik itu baik, yang buruk itu buruk..

*Alumni Dayah MUDI Samalanga

KOMENTAR FACEBOOK