Gubernur: Kerjasama Aceh-Jepang Terjalin karena Kesamaan Karakter Geologis

Aceh Dan Jepang Merupakan Daerah Rawan Gempa dan Tsunami

ACEHTREND.CO, Banda Aceh — Hubungan harmonis antara Aceh dan Pemerintah Jepang telah terjalin cukup lama, tidak hanya dalam bidang ekonomi, tapi juga dalam bidang ilmu pengetahuan dan budaya.

Hubungan itu semakin melekat, karena kedua wilayah ini punya karakter dan kondisi geologi yang serupa, yaitu sama-sama rentan terhadap gempa bumi dan tsunami.

Hal tersebut diungkapkan Gubernur Aceh, dr H Zaini Abdullah, dalam sambutan singkatnya yang dibacakan oleh Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh, Ir Anwar Muhammad M Si, saat menjamu makan malam rombongan Delegasi Parlemen Jepang dan Duta Besar Jepang, di Meuligoe Gubernur Aceh, (Rabu, 25/11/2015).

“Makanya, ketika Aceh mengalami bencana gempa dan tsunami pada 26 Desember 2004, pemerintah dan masyarakat Jepang termasuk yang paling besar memberi perhatian bagi proses rehabilitasi dan rekonstruksi di daerah kami ini,” ujar Gubernur.

Dalam kesempatan tersebut, Gubernur selaku Kepala Pemerintahan Aceh kembali meyampaikan rasa terimakasihnya kepada Pemerintah Jepang yang telah memberikan dukungan yang sangat besar bagi proses rekonstruksi dan rehabilitasi di Aceh

“Kondisi Aceh sudah berubah total. Perlahan-lahan kami sudah bangkit dari penderitaan itu. Kini saatnya Aceh berbenah dan aktif untuk melanjutkan pembangunan di berbagai bidang.”

Namun, lanjut Gubernur, Pemerintah Aceh tetap membutuhkan dukungan dan kerjasama internasional, termasuk dari Pemerintah Jepang. Sejauh ini kerjasama itu terus berjalan, terutama dalam bidang pendidikan dan penanggulangan bencana.
Dalam hal kebencanaan, Aceh dan Jepang telah membangun kerjasama dalam penelitian serta penerapan teknologi early warning system.

Terutama dengan Kota Banda Aceh yang merupakan salah satu kota yang mengalami kerusakan cukup parah saat bencana gempa dan tsunami melanda Aceh pada 11 tahun silam. Saat ini banda Aceh telah menjalin kerjasama dengan Kota Higashimatsushima.
Sebagaimana diketahui, kedua kota sepakat membangun komunikasi dan pertukaran teknologi dalam bidang manajemen bencana. Gubernur berharap kerjasama tersebut dapat diperluas hingga ke seluruh Aceh, sehingga kesadaran masyarakat Aceh terhadap bencana akan lebih meningkat.

Doto Zaini Dukung Peringatan Hari Tsunami
Dalam konteks Aceh dan Jepang, isu kebencanaan adalah isu yang tidak akan selesai untuk dibahas bersama. Hal ini dikarenakan Aceh dan Jepang merupakan daerah yang sama-sama berada di kawasan rawan bencana.
Dalam sebulan terakhir ini, setidaknya sudah puluhan kali Aceh diguncang gempa bumi. Dari jumlah tersebut, ada 6 gempa yang kekuatannya di atas 5 skala richter dan bisa dirasakan oleh manusia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa seluruh elemen masyarakat harus terus meningkatkan kewaspadaan terhadap bencana. Saat ini, Aceh juga terus mendorong dunia internasional untuk lebih peduli terhadap ancaman bencana ini dengan meningkatkan solidaritasnya.
“Karena itu, kami sangat mendukung ide Bapak Nikai yang mengusulkan kepada PBB untuk menjadikan tanggal 5 November sebagai Hari Tsunami se-dunia,” ujar Gubernur.

Toshihiro Nikai adalah ketua rombongan delegasi jepang pada kunjungan ke Aceh, Nikai adalah mantan Menteri Ekonomi dan Industri dan mantan Menteri Transfortasi Jepang. Saat ini Nikai menjabat sebagai Ketua Liga Parlemen di Jepang, sekaligus salah satu pimpinan di Liberal Democracy Party, Jepang.

Gubernur menyatakan, pemilihan tanggal 5 November sebagai Hari Tsunami se-dunia cukup beralasan, karena akan menjadi sarana pengingat pada seorang warga desa di wilayah yang saat ini dikenal dengan nama Wakayama Prefecture di Jepang, yang telah menyelamatkan banyak nyawa saat terjadinya gempa dan tsunami di Ansei Nankai, 5 November 1854.

Menurut Doto Zaini, dengan adanya pengakuan PBB terhadap hari Tsunami dunia, maka secara psikologis akan mendorong masyarakat dunia semakin peduli dan mau saling berbagi untuk penanggulangan bencana.

“Untuk itu, kami atas nama rakyat dan Pemerintah Aceh mengucapkan terimakasih atas upaya dan kerja keras yang telah dilakukan Bapak Nikai dan timnya. Semoga dalam waktu dekat PBB bisa menetapkan 5 November sebagai World Tsunami Day.”

Diakhir sambutannya, Gubernur juga menyampaikan ucapan selamat kepada Nikai, yang pada Senin lalu dianugerahi bintang kehormatan Jasa Utama dari Bapak Presiden Joko Widodo.

“Mudah-mudahan penghargaan itu lebih memotivasi Bapak Nikai dan Pemerintah Jepang untuk lebih aktif menjalin kerjasama dengan Pemerintah Indonesia, khususnya dengan Pemerintah Aceh,” pungkas Gubernur Aceh.

Hadir dalam kegiatan tersebut Yasuaki Tanizaki, Duta Besar Jepang untuk Indonesia serta seluruh delegasi Jepang yang berjumlah 40 orang, Wakil Ketua DPRA, Sulaiman Abda, Kepala Biro Humas dan Kepala Biro Umum Setda Aceh serta sejumlah Kepala SKPA dan perwakilan unsur Forkorpimda Aceh. (Ngah)

KOMENTAR FACEBOOK