Eks Kombatan, Warga Kelas Satu di Aceh?

Oleh: Mirza Ferdian*

Membaca judul di atas sudah barang tentu sebagian orang akan merasa keberatan. Syukur syukur ada yang protes dan reaksioner. Berarti tulisan ini dibaca.

Bagaimana tidak, mereka-mereka itu sangat spesial di Aceh. Ada yang ditakuti karna kegarangannya di medan perang. Ada yang disegani karna sekarang sudah mempunyai harta yang berlimpah. Ada yang dihormati karna sudah menjadi pejabat, baik bupati, walikota, anggota DPR, bahkan Gubernur dan Wakil Gubernur.

Dan ada juga yang dicemooh karna semenjak banyak uang mereka meninggalkan istri lama, dan menikah lagi. Ada yang kerap dicaci karna sikap dan arogansi nya ketika mengunjungi dinas-dinas atau SKPA di Banda Aceh. Dengan modal mengaku eks kombatan maka mereka mulai melancarkan “serangan” ke dinas dinas.

Yaa, sudah menjadi rahasia umum sekarang ini di Aceh apabila mau aman pada sebuah pekerjaan baik itu proyek APBA atau APBN harus mengikutsertakan para eks-eks kombatan itu, minimal sekali untuk tenaga pengamanan.

Para eks kombatan ini juga mempunyai level tersendiri dikalangannya. Ada yang bisa mengurus proyek APBA, ada yang mampu melobi agar proyek dimenangkan si A, si B, dan si C. Tentu dengan imbalan fee. Ada yang menjadi operator beko dan ada yang sekedar tenaga pengamanan. Semua punya peran, tentu dengan porsi masing masing.

Soal bantuan dari pemerintah, kepada mereka dibentuk badan khusus yakni BRA (Badan Reintegrasi Aceh). Melalui BRA bantuan bagi para eks kombatan dikelola dan disalurkan. Menurut data dan berita, BRA sudah menyalurkan bantuan Rp 25 juta untuk 3000 eks kombatan, dan 6.200 eks pasukan inong bale serta Polisi GAM yang jumlah nya ribuan masing masing 10 juta.

Tujuan dari reintegrasi sudah jelas disebutkan bahwa mengembalikan para eks kombatan GAM kembali ketengah tengah masyarakat untuk bisa hidup berdampingan kembali. Saat ini kita baru mendengar lagi bahwa ada bantuan pada tahun 2013 untuk para eks kombatan sebesar Rp 650 M yang info nya berasal dari sebuah laman online brandaaceh.com dan tentu ini angka yang fantastis.

Maka dari situ kita pantas menyebut bahwa eks kombatan itu adalah manusia kelas satu di Aceh ini. Perhatian pemerintah yang begitu besar dengan plot anggaran yang begitu besar pula maka dipastikan para eks kombatan begitu diistimewakan di Aceh ini.

Tapi kalo kita mau jujur, dengan kucuran dana yang sudah sangat besar proses reintegrasi di Aceh belum juga sukses. Bagaimana tidak, para eks kombatan masih terikat embel-embel, bahwa mereka dulu berjuang untuk Aceh. Bahwa mereka GAM atau TNA. Bahwa prilaku mereka sebagian masih seperti seorang Gerilyawan. Bahwa mereka orang yang paling berhak atas segala persoalan di Aceh.

Jadi dapat dipastikan reintegrasi gagal dilaksanakan. Era 1976 sampai 2004 masyarakat Aceh sangat dekat dengan para kombatan, yang sudah berulangkali berubah namanya dari AM, GPK, GPL, AGAM, GAM dan sekarang KPA. Para kombatan sukses mengambil simpati masyarakat Aceh. Dukungan penuh masyarakat Aceh sangat membantu perjuangan mereka. Ada yang bantu uang, beras, tenaga, informasi, obat-obatan, tempat berteduh dan lain sebagainya. Sudah barang tentu taruhannya adalah nyawa apabila diketahui oleh aparat TNI maupun Polri membantu mereka.

Tapi dengan kesamaan nasib dan semangat perjuangan rakyat Aceh tidak takut. Tetap membantu mereka walaupun nyawa taruhannya. Abang sepupu saya yang bernama Boy Mecca Fadilla ikut bergabung dengan GAM pada tahun 2000 silam. Alasan dia bergabung karna simpati pada perjuangan GAM. Semenjak saat itu rumah kami langganan digerebek oleh pihak keamanan dari kalangan TNI/POLRI. Tapi Bang Boy sekarang sudah tiada, beliau syahid pada akhir tahun 2003 disaat gencarnya operasi militer di Aceh.

Tapi sayangnya sampai sekarang kami tidak tahu dimana beliau dikuburkan. Kami hanya tahu Bang Boy telah tiada dari rekan rekan seperjuangannya.

Tapi sekarang realita tersebut sudah berubah. Tentu akibat ulah sebagian petinggi kombatan yang memikirkan diri pribadi. Simpati rakyat kini sedikit demi sedikit akan memudar dengan sendirinya.

Ada juga mantan kombatan yang masih belum layak kehidupannya. Seharusnya para eks kombatan yang sudah sukses sudi kiranya dapat membantu kawan-kawan seperjuangan. Jangan ditinggalkan begitu saja, istilah nya yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin.

Dalam kritikan tentu kita mempunyai harapan. Harapan kita kepada para eks kombatan untuk dapat merebut kembali hati rakyat Aceh. Belum terlambat. Mari kita berjuang bersama untuk Aceh yang lebih baik. Ubah sikap dan prilaku yang selalu menuntut untuk lebih diutamakan. Kita sama sama rakyat Aceh. Punya hak dan kewajiban yang sama terhadap Aceh yaitu memajukan Aceh. []

*Warga Banda Aceh

KOMENTAR FACEBOOK