Hasan Tiro dan Aneuk Muda

Oleh: Risman A Rachman

Kita berharap, pewartaan yang menyebut beberapa nama aneuk muda terkait uang dalam jumlah yang amat besar tidaklah nyata adanya. Kita harap itu sebatas dugaan belaka dan semata untuk memaskan mesin Pilkada 2017.

Soalnya, untuk memacu semangat, butuh anak muda sebagai teladan. Hampir semua tokoh pergerakan atau perubahan menjadikan orang muda sebagai panutan. Soekarno misalnya, punya ungkapan dasyat terkait pemuda. Jika ungkapan itu dibaca maka gairah perubahan kembali mendidih.

Hasan Tiro, dalam melakukan revolusi mental, juga punya sosok aneuk muda yang diposisikan sebagai teladan. Bahkan contoh anak muda yang hidup nyata. Namanya Tengku Chiek Ma’at. Siapa dia?

Usia Tengku Chiek Ma’at masih amat muda belia, 16 tahun. Meski masih sangat muda, keberadaannya sudah menggetarkan Belanda. Karena itu, Belanda sangat ingin pemuda ini takluk. Dan, Belanda yakin, Teungku Chiek Ma’at bisa dibujuk, dirayu, disogok dengan segenap kemuliaan dan kemewahan.

Bagaimana gambaran pemuda yang dikagumi Hasan Tiro itu? Adakah pemuda yang berpenampilan gembel gaya aktifis dulu, atau pemuda parlente atau sosok aktivis wangi?

Menurut Hasan Tiro, mengutip penuturan panglima serdadu Belanda, H. J. Schrnidt, Tengku Chiek Ma’at adalah lelaki berkulit putih, tampan, dan bercitarasa bangsawan.

Citarasa bangsawan itu juga bisa dilihat dari pakaiannya. Teungku Chiek Ma’at saat syahid ditemukan bercelana hitam berhias kasab perak, berbaju hitam dengan kancing emas. Dan juga memakai tengkulok.

Mengapa Hasan Tiro kagum? Jawabannya karena Tengku Chiek Ma’at tidak bisa ditaklukkan oleh Belanda dengan ragam rayuan dan sogokan yang oleh Belanda disebut kehidupan mewah dan mulia.

Teungku Chiek Ma’at tidak bersedia tunduk dengan rayuan Belanda. Pemuda belia ini lebih memilih syahid ketimbang menyerah kepada kesenangan yang disuguhkan Belanda.

Itulah yang membuat Hasan Tiro kagum, seorang anak muda yang belum merasakan cara hidup bersenang-senang tapi sudah sangat paham bagaimana memilih mati secara mulia.

“Teungku Tjhik Ma’at di Tiro reubah dalam mideuën prang di Aluë Bhôt dalam glé Tangsé, bak uroë 9 buleuën Désèmbèr, 1911. Wali Nanggroë Atjèh njang keuneuleuëh njoë, ureuëng muda balia njang barô umu 16 thôn njan, njang hana meu geuteumeung hudép lom, geu tukri maté lagèë pahlawan bansa.”

Pada akhirnya Hasan Tiro menyimpulkan tentang sosok aneuk muda bernama Teungku Chiek Ma’at.

“Bak aneuk muda Atjèh njoë ka meusapat bandum anasir keubeusaran, keubeuranian, keuseutiaan, tanggông djaweuëb dan peungorbanan, hana lom meugeuteumeung hudép, teutapi geutukri maté deungon keumuliaan njang sép keu geutanjoë bandum ban saboh bansa. Njoëkeuh saboh simbôl heroisme njang hana teuladan dalam seudjarah dônja. Njoëkeuh rupa karakter Atjèh njang sampôrna!,” tulis Hasan Tiro di dalam bukunya Atjeh Bak Mata Donja.

Jadi, sangat wajar jika saat ini kita terkejut setiap kali mendapatkan berita yang menyebut anak muda di dalamnya dengan berita-berita yang mengiris hati. Ini semua karena kita tidak ingin percaya. Kita masih sangat ingin ada anak-anak muda tiroisme yang menjadi teladan di dalam perbaikan Aceh.

Senang atau tidak senang, tiroismelah yang menjadi pemicu perubahan di Aceh. Karena itu, suka atau tidak suka, mata publik akan terus mengawasi gerak gerik anak muda tiroisme dan bila ada yang dapat dipahami telah tercela moral dan etika maka wajar publik “mengamuk.” []

Renungan Samping (Resam)

KOMENTAR FACEBOOK