Raja-Raja Pungo: Kenapa Engkau Menculikku Sultan (1)

Oleh : Hasnanda Putra

Bisakah kita memulai cerita tentang dirimu, sesuatu tentang kelebihanmu. Karena kata tuan bijak ketika engkau memulai mencari kelebihan orang lain sesungguhnya engkau sedang memperbaiki kekuranganmu.

Namamu Kamaliah, gadis kecil yang dijaga sejak ayunan. Di semenanjung tempat ayah ibumu bermahkota tuanku, engkau bak ratu kecil. Dayang-dayang istana tiada bosan-bosan mengipasmu meninabobo dalam tidur malam, setelah bundamu membagi dongeng bercerita tentang Ratu Balqis yang memikat hati seorang Sulaiman  sang maharaja itu.

“Wahai anakku, engkau tau bagaimana Ratu Balqis tunduk pada Sulaiman”, bibir mungilmu menjawab “wahai ibunda kenapa gerangan dengan ratu, bersegeralah engkau bercerita padaku”

“Suatu hari anakku, raja agung Nabi Sulaiman mengundang ratu Persia ke istananya, sampailah sang ratu ke istana. Betapa terkejutnya sang ratu ketika istananya sudah berpindah ke istana Nabi Sulaiman”.

Kamaliah takjub mendengar cerita bunda, malam yang kian larut sang bunda melanjutkan akhir cerita. “Itulah tanda kebesaran Allah yang diberikan pada Nabi Sulaiman, sang Ratu Balqis akhirnya mengikuti Sulaiman”.

Sang bunda bertanya “maukah dikau anakku seperti Balqis, dan bunda ingin akan ada seorang pangeran seperti Sulaiman yang akan menjagamu kelak”. Tiada jawaban darimu, bunda tersenyum sambil menarik selimut menutup tubuh mungilmu, “bermimpi indah anakku”.

Malam kian larut, sesekali suara prajuri sedang bercengkrama sambil menjaga istana. Malam terus berganti, hari hari terus terlalui.

Kamaliah, berapa lama engkau ada di negeriku, meninggalkan ayah bundamu dan pergi melayani seorang rajaku. Tidakkah engkau rindukan gunung-gunung menjulang melambai di negerimu, hutan yang subur sawah yang menguning.

“Kalau bukan karena kebesaran negerimu tuan, tiada mungkin hamba mau mengikutimu ke istana darud dunia” katamu suatu waktu pada maharaja itu.

Suara burung burung dalam sepoi angin pagi sesakali menyapu dedaunan dalam taman raja. Kamaliah membasuh muka, air-air jernih krueng daroy mengalir perlahan melewati istana. Bak surga firdaus yang mengalir sungai-sungai dibawahnya, Kamaliah memandang jauh diseberang taman, sebuah pahatan gunung.

“Kalau bukan karena cinta, tidak mungkin aku bersusah payah membangun gunongan untukmu ratu ku” kata Maharaja. []

 

KOMENTAR FACEBOOK