IDeAS Gelar Diskusi Publik Terkait “Polemik Bendera dan Kesejahteraan”

ACEHTREND.CO, Banda Aceh — Lembaga Kajian Institute for Development of Acehnese Society (IDeAS), sebuah komunitas kajian anak muda Aceh yang concern pada kajian seputar dinamika sosial, ekonomi, dan politik baru saja mengadakan diskusi publik yang mengangkat isu aktual terkini dengan tema; “Polemik Bendera & Urgensi Kesejahteraan”. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 28 November 2015, pukul 10:30 s/d 13:30 wib, bertempat di 3in1 Coffee – Lampineung, kota Banda Aceh.

Ketua panitia, Zulfan Reza, menerangkan, nara sumber diskusi publik ini menghadirkan beberapa pemateri dari berbagai elemen masyarakat, yaitu Pakar Ekonomi Islam Unsyiah, Dr. M. Shabri Abd Majid, M.Ec., Juru Bicara DPA Partai Aceh, Suadi Sulaiman (Adi Laweung), Pengamat Politik dan Keamanan Aceh, Aryos Nivada, M.A., dan Ketua Forum Komunikasi Anak Bangsa (Forkab), Polem Muda Ahmad Yani. Moderator diskusi dipandu oleh M. Nur, Direktur WALHI Aceh.

Ekonom Unsyiah, M. Shabri Abd Majid, menyatakan; terkait persoalan kesejahteraan, pertumbuhan ekonomi Aceh saat ini masih terendah di Sumatera, Aceh masih sangat bergantung pada APBA dan Pemerintah hanya memikirkan jumlah impor tanpa memikirkan peningkatan jumlah ekspor, sehingga ekonomi Aceh terus mengalami perlambatan dan selalu dibawah rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional. Terkait kesejahteraan, Adi Laweung menyatakan bahwa ia tidak tahu pengelolaan anggaran saat ini kemana saja terpakai.

Selanjutnya, Jubir DPA Partai Aceh ini menyatakan bahwa; Persoalan Bendera dan Kesejahteraan ibarat suami-istri, sama pentingnya. Tetapi saat ini katanya bendera sedang dipolitisir oleh pihak yang alergi terhadap kemajuan Aceh. Sebaliknya, Ketua Forkab, Polem Muda A. Yani berpendapat bahwa; Aceh tidak butuh bendera tetapi masyarakat menginginkan kesejehteraan dan keadilan. Ketua Forkab juga menyatakan saat ini ketidakadilan sangat parah di Aceh, perdamaian hanya dinikmati oleh segelintir orang saja dan masih banyak rakyat yang jadi pengemis, janda dan yatim korban konflik banyak yang tidak diperhatikan. Sementara, Aryos Nivada menyatakan belum melihat adanya solusi dari statement Adi Laweung terkait polemik bendera, ia berharap ada sedikit saja perubahan pada bendera serta masalah marwah dan martabat sedikit diturunkan demi masyarakat Aceh.

Direktur IDeAS, Munzami Hs, pada saat closing statement menyatakan; diskusi publik ini adalah inisiatif IDeAS untuk menggali pemikiran dan ide-ide konstruktif dari berbagai elemen masyarakat untuk bersama membangun Aceh, saling menjaga perdamaian dan dapat melahirkan solusi terhadap berbagai persoalan Aceh saat ini. Seluruh elemen masyarakat harus bersinergis, baik pemerintah, masyarakat sipil, pemuda, mahasiswa dan rekan-rekan media untuk berpikir sehat dan jernih serta memberikan solusi bagi permasalahan Aceh saat ini, bukan malah ikut “pungo” seperti yang dipertontonkan oleh berbagai pihak di media-media di Aceh belakangan ini.[]

KOMENTAR FACEBOOK