Perantau Aceh yang Sukses di Kota Amoy

Laporan: Hasan Basri M. Nur

Kota Singkawang, Kalimantan Barat, terkenal sebagai kota terbuka dan menerima siapa saja yang datang. Singkawang yang juga popular sebagai Kota Amoy di bumi khatulistiwa adalah kota kecil yang terletak sekitar 200 km dari Pontianak. Jalan menuju kesana tergolong mulus, nyaris tanpa hambatan.

Penduduk Singkawang sangat beragam dan cenderung berimbang. Ada tiga etnis dominan disini, yaitu Melayu, Dayak dan Tionghoa. Melayu dan Tionghoa menguasai daerah pesisir, sementara Dayak mendiami pedalaman Pulau Borneo. Keragaman etnis ini menciptakan suasana persaingan yang kompetitif dan sehat.

Dari segi agama, Melayu identik dengan Islam, Dayak identik dengan Kristen/Katolik dan animisme serta Tionghoa identik dengan Budha/Konghucu. Warga Tionghoa di Singkawang tergolong miskin. Sebagian dari mereka mendiami pedesaan sebagai petani.

Lahan pertanian dan perikanan terhampar luas. Masih banyak jenis usaha yang dapat digarap disini. Selain sektor pertanian/perkebunan, sektor perdagangan dan kuliner masih terbuka untuk digarap.

Kisah Perantau Aceh
Perantau asal Aceh tergolong langka di Singkawang. Meski demikian, dari jumlah yang sedikit itu, terdapat tiga putra Aceh yang menduduki posisi strategis di Kota Singkawang. Semua mereka adalah alumni Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Banda Aceh.

Pertama, Asyir Abubakar. Dia adalah putra Pidie Jaya yang sukses menjadi Kepala Dinas Pekerjaan Umum Kota Singkawang. Sebelumnya dia sudah pernah menduduki jabatan yang sama di Kabupaten Sambas, Kalbar. Dia adalah alumni Fakultas Teknik Unsyiah yang setelah selesai kuliah merantau ke Jakarta lalu mengadu nasib ke Sambas dan Singkawang.

Kedua, Yusnita Fitriadi. Namanya memang mirip perempuan tapi dia adalah lelaki sejati. Pria asal Blang Pidie, Aceh Barat Daya, ini oleh Walikota dipercaya menjadi Kepala Dinas Pertanian Kota Singkawang.

Yusnita menyelesaikan kuliah di Fakultas Pertanian Unsyiah tahun 1990. Merantau ke Singkawang karena saat itu agak susah mencari kerja di Aceh. Meski sudah puluhan tahun menetap di Singkawang, Yusnita tak pernah melupakan tanah kelahirannya. Saat ini, salah satu putrinya dikirim ke Fakultas Teknik Unsyiah untuk menimba ilmu.

Ketiga, Bakri Sidik. Dia adalah pria asal Tapak Tuan, Aceh Selatan yang sukses menjadi Kepada Bappeda Kota Singkawang. Bakri menyelesaikan pendidikan S1 di Fakultas Ekonomi Unsyiah. Sayangnya,Aceh Trend tidak bisa menemuinya karena yang bersangkutan sedang ikut pelatihan di Jakarta.

Ketiga putera Aceh yang sukses di Singkawang itu awalnya hanyalah merantau untuk mengadu peruntungan di tanah orang. Perlahan namun pasti ketiganya perlahan merangkak menemukan jati diri sesuai latar belakang keahlian.

Walikota Singkawang, H.Awang Ishak, menyebutkan, Kota Singkawang adalah kota terbuka dan menerima siapa saja yang datang. “Jangankan orang Aceh yang muslim, orang Tionghoa pun kita tampung di sini. Selama Awang jadi Walikota aman lah,” kata Awang Ishak dalam pertemuan dengan pengurus Forum KerukunanUmat Beragama (FKUB) Aceh, Jumat (28/11) sambil dia perkenalkan satu persatu tokoh Aceh itu.

Tokoh-tokoh FKUB Aceh yang ikut dalam rombongan antara lain Drs. M Daud Pakeh (penasehat, kakanwil kemenag), H Ziauddin, S.Ag (Ketua FKUB Aceh), Prof A Hamid Sarong, Juniazi, M.Pd, dan Hasan Basri M.Nur (Semuanya anggota FKUB Aceh).

Bekerja sambil berdakwah
Selain meniti karir di pemerintahan, ketiga tokoh Aceh itu aktif dalam kegiatan dakwah Islam di Singkawang. “Sejak beberapa tahun lalu, kita rutin mengadakan kegiatan Safari Maghrib dan Subuh dengan berkeliling dari masjid ke masjid,” kata Yusnita Fitriadi kepada acehtend.

Azhari, pegawai Kemenag Kota Singkawang, menyebutkan, kegiatan Safari Subuh di Singkawang dirikan oleh Yusnita. “Pak Yusnita bahkan sudah menjadi mitra tetap Kemenag dalam dakwah Islam di Singkawang”, katanya.

Dalam perkembangannya, banyak orang Tionghoa setelah diberi penjelasan tentang Islam, mereka memeluk Islam. “Ada juga warga Tionghoa yang tidak masuk Islam tapi rutin memasukkan uang ke kotak amal di masjid. Yang bersangkutan mengaku dagangannya laris setiap kali dia memasukkan uang ke dalam celengan masjid,” kata Yusnita kepada acehtrend.

Itulah secuil kisah perantauan tiga pria asal Aceh ke Singkawang, Kalbar. Nah, bagi Anda yang masih muda dan belum menemukan jati diri di Aceh di kampung, tak ada salahnya mencoba mengadu peruntungan di Singkawang.

Kepingan tanah Borneo ini telah terbukti sangat ramah bagi perantau asal Aceh. Masih banyak peluang yang bisa digarap disini terutama di sektor perdagangan dan usaha makanan/minuman. Singkawang yang juga menjadi salah satu daerah wisata utama di Kalbar belum memiliki jenis kuliner yang beragam sebagaimana halnya di Aceh. Selamat mencoba!

KOMENTAR FACEBOOK