Aceh Tidak Butuh Lagi Pemimpin Berkharisma

Oleh: Mirza Ferdian

Tidak lama lagi waktunya kita akan segera mengetahui siapa siapa saja calon yang akan mengikuti Pilkada Aceh pada tahun 2017 ini baik itu untuk Bupati, Walikota dan Gubernur.

Kepada setiap calon hendaknya sudah memikirkan Aceh ini butuh pemimpin yang bagaimana agar nanti jika terpilih dapat bekerja sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh Aceh saat ini.

Menurut pengamatan saya, Aceh butuh pemimpin yang peduli dan tahu cara bagaimana memajukan pendidikan di Aceh dari tingkat SD, SMP, SMA dan Universitas.

Saat ini masyarakat aceh tertinggal jauh dibidang pendidikan dibandingkan dengan daerah lain. Tingkat kecerdasan masyarakat kita dibawah rata-rata, tingkat pengetahuan dan pemahaman terhadap sesuatu masih sangat rendah itu disebabkan oleh kualitas pendidikan kita yang bisa dikatakan jauh dari harapan.

Pendidikan dan kecerdasan adalah kunci dari semuanya, maka dari itu kita harus memiliki pemimpin yang peduli dan mahfum akan pentingnya Pendidikan.

Pemimpin harus bisa mengatasi persoalan ekonomi masyarakat Aceh, pendapatan rata-rata masyarakat yang masih sangat kurang dan lapangan kerja bagi pengangguran adalah hal yang harus menjadi perhatian utama pemimpin. Menyediakan lapangan kerja sudah menjawab persoalan besar selama ini yang dihadapi oleh rakyat Aceh.

Tegaknya syariat Islam adalah salah satu hal yang penting bagi Aceh, bukan hanya sebatas persoalan hukum cambuk, maisir dan khalwat. Tapi lebih kepada masing masing rakyat Aceh harus bersyariat Islam dalam artian rakyat bertindak sesuai dengan hukum yang diterapkan dalam Islam dan ini juga menyangkut moralitas dan akhlak.

Tanpa kita sadari banyak orang Aceh yang tidak bisa mengaji, hal ini dibuktikan dengan informasi yang dikatakan oleh Rektor Unsyiah Juli 2015 yang lalu, Prof Samsul Rizal mengatakan bahwa 82 persen calon mahasiswa baru tidak bisa mengaji, tentu hal ini mengejutkan dan membuat malu kita sebagai rakyat aceh yang dijuluki “serambi mekkah.”

Hal ini terjadi akibat orang tua yang tidak peduli dan kurang pemahamannya tentang pentingnya ilmu agama. Jangan jangan kalau kita suruh sholat dia malah tidak bisa karna tidak menguasai niat dan tata cara sholat tapi mudah mudahan tundingan saya ini tidak benar.

Kondisi seperti ini sangat miris memang, maka kita butuh pemimpin yang peduli akan syariat Islam. Program program seperti mengaji ba’da magrib harus ditingkatkan disemua kabupaten kota di Aceh. Kita semua harus mendukung program ini.

Pemimpin Aceh juga harus bebas dari kelompok manapun. Yidak ada istilah anak kandung anak tiri anak angkat ketika sudah menjadi pemimpin di Aceh. Tidak ada kelompok yang diistimewakan oleh pemimpin, semuanya sama statusnya rakyat Aceh.

Dapat kita tarik kesimpulan dari kebutuhan Aceh hari ini adalah mengenai kemajuan pendidikan, kemandirian dan peningkatan ekonomi, tersedianya lapangan kerja serta pelaksanaan syariat islam secara menyeluruh.

Kita tentu sepakat bahwa pemimpin Aceh ke depan harus mampu memenuhi kebutuhan rakyat, kita tidak butuh pemimpin berkharisma tapi tidak mampu menjawab persoalan dasar rakyat, apabila kita mampu dan dicintai rakyat maka penghargaan, sanjungan, pujian akan diberikan dengan tulus hati oleh rakyat.

Seperti salah satu Gubernur di provinsi Gorontalo Fadel Muhammad yang terpilih 2 periode. Pada periode kedua Fadel Muhammad berhasil meraih 81 persen suara dan ini menjadi Rekor MURI untuk pilkada sejenis. Ini menjadi bukti bahwa kalau pemimpin sudah melakukan yang terbaik bagi rakyat maka rakyat akan mencintai pemimpinnya. Selamat berakhir pekan, semoga pilihan kita nantinya tepat sasaran. []

Warga Banda Aceh

 

KOMENTAR FACEBOOK