Aceh Hampir Menjadi Wilayah Rusia

Letak RUSSIA dan pulau Sumatra

Pertikaian dan perang yang terjadi di berbagai wilayah menyebabkan orang menggali sejarah bahkan memalsukannya. Seperti pendirian negara Israel secara illegal dan tidak sah di atas tanah Palestina, salahsatu alasannya menurut bualan kaum zionist bahwa tanah Palestina adalah tempat yang dijanjikan Allah kepada Bani Israil. Padahal yang sebenarnya adalah tipu-tipu yang didasari ketamakan dan konspirasi untuk merampas hak dan milik orang lain.

Demikian juga dengan pembentukan organisasi-organisasi radikal dengan memutarbalikkan sejarah agama padahal hanya untuk kepentingan nafsu kekuasaan.

Saat ini, selain konflik Palestina dengan Israel, juga timbul fitnah besar di berbagai negara Timur Tengah. Israel mempunyai peran besar dalam meluluh-lantakkan berbagai negara di sana, salahsatunya Suriah atau Syiria. Israel sangat berkepentingan untuk melumatkan negara Syiria, karena sampai saat ini masih menjajah dengan illegal dataran tinggi Golan. Daerah yang luas totalnya sekitar 1.800 KM2, sebagian besarnya dicaplok oleh Israel, 1.200KM2, saat perang enam hari pada tahun 1957. Dataran tinggi Golan ini termasuk ke dalam wilayah Levant/Syam, yang sedang diklaim wilayahnya oleh organisasi ISIL (Islamic State of Iraq and the Levant) asal muasal dari ISIS.

Perkembangan terkini dalam perang melawan ISIS dan penghancuran Syiria beberapa saat yang lalu ialah ditembaknya pesawat tempur Rusia Sukhoi Su-24 oleh Turki, menyebabkan panasnya hubungan antara Turki dan Rusia.

Di catatan yang lalu kami telah sedikit menyentuh masalah hubungan antara Turki dan Aceh. Selain Aceh pernah menjadi bagian dari Turki Usmani, Sultan Aceh juga pernah menyumbang dana untuk mendukung perang antara Turki dan Rusia dalam Perang Crimea. Baca juga Posisi Aceh Jika Turki Berperang

Itu dengan Turki, nah bagaimana hubungan Aceh dengan Rusia?

Ketika Belanda memaklumkan perang atas Aceh pada tahun 1873, rakyat dan pemimpin Aceh menggelorakan perang sabil melawan penjajah Belanda. Selain perang dengan senjata, Aceh juga melancarkan perang diplomasi untuk menyudutkan Belanda dan mencari dukungan negara-negara lain. Berbagai delegasi dikirimkan oleh pemimpin Aceh untuk mencari dukungan ke luar negeri. Perwakilan dan konsul-konsul negera asing semua didekati. Singapura dan Malaysia merupakan poros utama dalam perang diplomasi ini.

Pada tahun 1879, sebuah kapal layar Rusia bernama VSADNIK bersandar di pelabuhan Penang, Malaya. Kapal mengalami beberapa kerusakan serius yang harus diperbaiki. Menurut hemat awak kapal, hanya teknisi dari Rusia yang akan mampu untuk memperbaikinya. Karena hal itu perlu waktu yang lama, awak kapal akhirnya bertanya-tanya kepada penduduk setempat, apakah ada teknisi atau ahli kapal yang bisa membantu memperbaiki kerusakan. Penduduk setempat memberikan jawaban bahwa tukang/utoh dari Aceh bisa memperbaiki semua jenis kapal. Saat itu ramai masyarakat dan pedagang asal Aceh yang bermukim di Penang.

Akhirnya satu tim tukang dari Aceh berhasil memperbaiki kapal Rusia. Setelah pertemanan yang terbangun sewaktu memperbaiki kapal, timbul pikiran dari para tukang yang juga pejuang Aceh untuk meminta bantuan kepada Rusia.

Akhirnya datang sebuah delegasi resmi dari Sultan Aceh untuk bertemu dengan kapten kapal dengan membawa sebuah permohonan “petition to His Majesty the leader of Imperator to obtain Russian citizenship for their country”.

“Permohonan kepada Yang Mulia Imperator Rusia (Императоръ), untuk memberikan kewarganegaraan Rusia kepada warga Aceh”.

Imperator adalah panggilan untuk Kaisar (Czar/Tsar) Rusia kala itu.

Kementerian urusan maritim Rusia mengambil berat akan surat ini dan langsung melaporkan kepada Tsar, kementerian luar negeri diperintahkan untuk mempelajari permintaan ini. Setelah dipelajari oleh tiga kementerian yaitu maritim, luar negeri dan sekretaris negara, diambil kesimpulan bahwa menjadikan rakyat Aceh sebagai warganegara Rusia akan menyebabkan kesalahpahaman dengan kerajaan Belanda yang akan merugikan. Rusia tidak mau mengambil resiko itu.

Usaha tidak hanya berhenti sampai di sana.

Pada tanggal 15 Februari 1904, Konsul Rusia di Singapura, Vassily Rudanovsky, mengabarkan bahwa Sultan Aceh kembali mengirimkan surat yang ditujukan kepada Tzar Nikolay II, untuk meminta Rusia agar memasukkan wilayah Aceh ke dalam proteksi Rusia.

Kemudian atas permohonan Sultan Aceh ini, pada 24 April 1904, kementerian luar negeri Rusia memberikan jawaban kepada Konsulat Rusia di Singapura sebagai berikut: “according to the department of marine conclusions reached in this case, that the request may not be granted. So on that basis, and taking into account also that the other terms of the Sultan granted can cause unexpected difficulties with the Dutch colony at the southern part o the island, we ask that you politely refused the proposal of the Sultan of Aceh “.

“Sesuai dengan kesimpulan yang diambil oleh departemen maritim untuk hal ini, bahwa permohonan Sultan Aceh tidak bisa dikabulkan. Maka berdasarkan hal tersebut juga syarat-syarat lain yang diajukan Sultan, akan menyebabkan kesulitan-kesulitan antara Rusia dengan koloni-koloni Belanda lainnya di kawasan selatan pulau (Sumatra), maka kami meminta konsul untuk menolak permohonan Sultan Aceh dengan halus”.

Demikian sekelumit kisah hubungan antara Aceh dengan Rusia, kalaulah Rusia menerima Aceh sebagai wilayah proteksinya, maka politik di kawasan Asia Tenggara akan berbeda dengan sekarang.

Sejarah masa lalu kita gali untuk pelajaran kepada semua generasi bahwa endatu, nenek moyang kita, telah berjuang dengan harta dan nyawa untuk kesejahteraan dan ketentraman anak cucu mereka. Nah, kenapa kita tidak pergunakan hasil yang mereka perjuangkan untuk kebaikan orang-orang sesudah kita… (Dari berbagai sumber)

Munawar Liza Zainal

KOMENTAR FACEBOOK