Gelitik Munawar Liza: PLN dan Lampu Semprong

Dulu waktu kecil di gampong, tidak ada listrik. Hampir sepanjang masa sekolah SD kami belajar di bawah lampu semprong.

Almarhum ayah mempunyai genset kecil, dihidupkan hanya untuk menonton dunia dalam berita pukul 21.00.

Selain itu genset hanya dihidupkan sepanjang malam bulan ramadhan, karena banyak pekerjaan jahitan yang harus diselesaikan sebelum hari raya.

Ada sebuah panyot, lampu semprong, yang masih tinggal di gampong. Setiap pulang kami cerita kepada anak-anak tentang lampu itu. Anak-anak tidak mengerti, bahkan semakin banyak bertanya tidak bisa paham bagaimana bisa hidup tanpa listrik: bagaimana mau cas HP, bagaimana mau masak nasi, bagaimana mau ini dan itu. Semua kami jelaskan, tetapi mereka masih juga kurang mengerti.

Mereka baru mengerti ketika sering mati listrik di Banda Aceh. Seperti malam ini, PLN mematikan lampu sejak magrib tadi. Kami kembali ulangi cerita tentang lampu semprong alias panyot dan jasanya kepada kami ketika masih kecil.

Malam ini anak-anak mulai mengerti. Mulai hapal panyot, semprong, dah/sumbu, dan minyak tanah.

Alhamdulillah, terima kasih PLN yang telah mematikan lampu sehingga anak-anak kami mengerti bagaimana kami dulu semalam-malam (lawan dari sehari-hari, hehehe) belajar di bawah lampu semprong..

Munawar Liza Zainal, Warga Aceh Besar, pernah menjadi anggota tim perunding GAM di Helsinki, mantan Walikota Sabang, dan aktivis perdamaian Aceh

KOMENTAR FACEBOOK