Banjir, Perilaku Kita, dan Saran Ahli

Oleh : Sadri Ondang Jaya

Dalam beberapa bulan terakhir ini,  Aceh diguyur hujan lebat. Akibatnya, banjir tak bisa dielakkan. Sehingga nyaris seluruh wilayah Aceh, di kepung  banjir. Yang paling parah terkena banjir tahun ini, Aceh Singkil, Aceh Selatan, Nagan Raya, Aceh Barat, Aceh Jaya, Aceh Tenggara, Bener Meriah, Aceh Timur, Aceh Utara dan Pidie. Malah di daerah-daerah ini, banjir  telah menjadi langganan rutin setiap musim penghujan tiba.

Akibat banjir tersebut, sarana prasarana umum menjadi porak poranda. Sejumlah jembatan putus, badan jalan banyak yang rusak dan tertimpa longsor. Bangunan pemerintah, rumah penduduk, dan sejumlah sawah luluh lantak dibuatnya. Harta milik penduduk pun banyak yang ludes, rusak, dan musnah di gerus  air.

Sejumlah masyarakat di beberapa daerah mengalami kelaparan. Bahkan, korban jiwa pun berjatuhan. Belum lagi termasuk kerugian dari ekses pasca banjir.

Dari setiap bencana banjir yang terjadi, setelah dikalkulasi secara material kerugian yang dialami sangat besar, mencapai miliaran rupiah lebih. Ini belum ditakar kerugian secara nonmaterial, yaitu kerugian mentalitas-fsikis dan kerugian dari aspek kesinambungan pembangunan.

Diakui, banjir ini dari aspek nonmaterial, telah membuat penduduk seteres dan mengalami stagnasi berpikir. Dan perencanaan dan kesinambungan pembangunan menjadi amburadul.

Banjir yang menerjang sejumlah wilayah di Aceh, betul-betul membuat  kita kebat-kebit, tak urung sejumlah pejabat dan warga  Aceh bekerja ekstra. Gubernur Aceh dr. Zaini Abdullah, mengeluarkan perintah kepada SKPA terkait segera action.

“Banjir dan segala eksesnya harus ditanggani segera. Kalau dibiarkan bisa semakin parah bahkan bisa menimbulkan bencana baru,” begitu kata Kepala Pelaksana (Kalak) Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) Sayed Rasul.

Tidak itu saja, warga yang terkena banjir pun jengkel. Bukan saja harta benda yang mereka miliki musnah diterjang banjir. Mereka pun mengungsi ke tempat-tempat yang lebih aman. Mengungsi ini terpaksa dilakukan karena rumah dan lingkungan mereka tidak layak lagi huni.

Kendati begitu, bukan rahasia umum lagi, ada juga  warga, oknum pejabat atau lembaga yang gembira dengan datangnnya banjir ini. Mereka membuat proposal bantuan banjir. Setelah proposal dipenuhi dan bantuan cair, disinyalir, disitulah mereka  mengambil keuntungan dan kesempatan  dengan cara “menilep” uang dan barang-barang bantuan banjir.

Penyebab
Terjadi banjir di Aceh, tak pelak lagi, akibat leluasanya kita dalam mengeksplotasi dan membalak hutan secara membabi-buta dalam 50 tahun terakhir. Bahkan ada yang menebangnya secara liar (ilegal loging). Sehingga hutan-hutan tadi menjadi gundul.

Hal ini diperparah lagi, dengan marak daneuphoria wargamembuka hutan untuk ditanami sawit. Sawit menjadi tanaman primadona di Aceh.

Seharusnya sawit itu hanya layak ditanami di lahan dengan ketinggian di bawah 300 meter di atas permukaan laut. Namun, karena adanya euphoria  menanam sawit, tanaman ini pun dipaksakan tumbuh di lahan ketinggian 700 meter di bawah permukaan laut.

Ironisnya, pembalakan hutan dan pembukaan lahan sawit ini, mulai meninggalkan kaidah-kaidah hukum alam dan kearifan lokal. Ini umumnya, bukan dilakukan oleh orang-orang yang bodoh. Melainkan, orang-orang pintar dan berilmu. Dalam melakukan aksi culasnya, mereka berlindung di balik kepintaran serta jabatan yang dimilikinya.

Faktor lain penyebab banjir, karena banyak sungai-sungai di Aceh yang mulai dangkal. Sehingga saat  hujan turun, debit air sungai bertambah. Karena sungai tidak sanggup menampung, air tadi meluap dan merembes ke pemukiman penduduk yang tanahnya rendah.

Karena dampak banjir ini sungguh sangat dasyat dan sudah menjadi agenda tahunan di Aceh, sudah saatnya kita mengubah sikap.

David C Corten, seorang ahli lingkungan hidup dalam bukunya Abad ke-21 menyarankan.

Pertama, perlu adanya peninjauan ulang terhadap pradigma kebijakan pertumbuhan ekonomi (growth pradigm).

Selama ini, ekspolotasi sumber daya alam yang dilakukan tanpa batas. Dengan ekspolotasi itu, diharapkan kesejahteraan masyarakat lebih cepat dan meningkat. Namun kenyataannya tidak demikian, justru pertumbuhan ekonomi yang tinggi tidak akan berarti apa-apa jika pertumbuhan ekonomi tersebut telah menimbulkan degradasi dan penurunan kualitas lingkungan hidup. Karena untuk memulihkan lingkungan hidup yang telah rusak memerlukan dana miliaran dan waktu yang panjang.

Dua, dalam memperlakukan lingkungan hidup dan ekosistem, harus dilandasi moral dan etika serta falsafah tentang tabiat alam, bukan berdasarkan keserakahan dan nafsu memperkaya diri. Lingkungan hidup, bukan warisan nenek moyang kita tetapi merupakan titipan anak cucu kita.

Tiga, Kalau selama ini dalam  menanggani dan meyikapi persolan banjir, hanya menghilangkan akibat negatif dengan memberikan bantuan yang bersifat karitatif. Sedangkan persoalan substantif penyebab banjir, sering kali dihindari dan tidak pernah dituntaskan.

Kemudian Nicholas Stem, pengarang “The Stem Report”memaparkan, ada 13 cara mengatasi dan mencegah terjadinya banjir.

Pertama, membuat saluran air yang baik.Dua, buang sampah pada tempatnya. Tiga, rajin membersihkan saluran air. Empat, mendirikan bangunan pencegah banjir. Lima,menanam pohon atau tanaman minimal di sekitar rumah.

Enam, melestarikan hutan. Tujuh, membuat lubang biopori. Delapan, membuat sumur serapan. Sembilan, normalisasi sungai dan drainase. Sepuluh, penggunaan paving stone jalan. Sebelas, pembuatan rumah panggung. Dua belas, membuat kawasan ruang terbuka. Tiga belas,sikap mental yang sadar lingkungan.

Agar banjir bisa berkurang dan segala ekses kerugiannya bisa diminimalis, kita harus mau mengubah perilaku dan sikap mental kita dalam menyikapi lingkungan. Tak kalah pentingnya, saran para ahli harus kita indahkan. “Lingkungan dan segala ekosistemnya bukanlah warisan nenek moyang kita, melainkan titipan anak cucu kita yang sesuatu saat akan ditagih mereka.” Nah![]

*Penulis buku “Singkil Dalam Konstelasi Sejarah Aceh”

 

KOMENTAR FACEBOOK