Senja Kala Golkar Aceh

Oleh: Mirza Ferdian

Melihat gerakan atau langkah politik yang selama ini di ambil oleh Partai Golkar Aceh kubu ARB terhadap Sulaiman Abda mengundang masyarakat dari berbagai kalangan untuk ikut menilai bagaimana Golkar Aceh kubu ARB khusus nya dibawah kepemimpinan Ishak Yusuf dan Muntasir Hamid akhir-akhir ini. Penilaian masyarakat khususnya konstituen Sulaiman Abda terhadap langkah politik yang mereka ambil tentu sangat buruk. Semua orang tau bagaimana suksesnya partai golkar ketika dipimpin oleh Sulaiman Abda, bagaimana Bang Leman sapaan akrab beliau mendekatkan diri dan mengambil hati masyarakat sehingga Partai Golkar Aceh bisa menjadi pemenang kedua ditengah tingginya turbulensi politik di Aceh. Hal ini harus kita akui bersama, karna memang terbukti.

Coba kita bandingkan dengan kepemimpinan Partai Golkar Aceh sekarang ini yang bukannya malah melakukan konsolidasi dari akar rumput sampai kelas atas tapi malah melakukan hal hal yang menimbulkan perpecahan antara sesama kader. Istilah kerennya menebar kebencian yang membuat rasa simpati masyarakat menjadi berkurang bahkan hilang sama sekali. Langkah busuk yang diambil dengan mereposisi Bang Leman dari wakil ketua DPRA sudah gagal dilakukan karena surat dari Plt Gubernur Aceh Muzakkir Manaf ditolak proses pergantiannya oleh Mendagri. Ini jelas mempermalukan banyak pihak, Partai Golkar, DPR, dan Pemerintah Aceh karna hasil Paripurna lagi-lagi ditolak oleh Mendagri. Walaupun sudah menjadi kebiasaan kita di Aceh sering ditolak prosesnya oleh Kemendagri seperti Qanun Bendera dan Lambang yang saat ini masih berpolemik.

Kemarin langkah busuk kembali dilakukan oleh Muntasir Cs dengan mendatangi DPRA untuk menyerahkan surat yang berisikan agar mencabut hak hak Bang Leman sebagai wakil ketua DPRA dan menyatakan keberatan atas Gubernur Aceh karena telah mencampuri urusan internal Partai Golkar. Tentu ini membuat publik Aceh kembali disuguhkan dagelan politik murahan karena mau menjatuhkan orang yang meraih suara terbanyak di Partai Golkar Aceh yakni 16 ribu suara. Ada hal yang dipaksakan didalam pergantian atau reposisi tersebut, yaa Bang Leman mau digantikan dengan M Saleh yang perolehan suara terendah di Partai Golkar Aceh yakni 5 ribu suara. Jelas ini mengangkangi hasil Rapimnas ke 5 Partai Golkar yang dilaksanakan di Jakarta menyangkut syarat syarat yang harus dipenuhi untuk penetapan menjadi pimpinan di DPR. Dari 9 orang anggota DPR yang terpilih dari Golkar yang memenuhi syarat hanya tiga orang yakni Sulaiman Abda, Zuriat Supardjo dan Aminuddin M.Kes.

Harusnya mendekati Pilkada Aceh tahun 2017 Partai Golkar wajib melakukan konsolidasi, soliditas internal sangat diperlukan agar terciptanya citra positif di dalam masyarakat, pemerintah dan partai politik lain. Bukan justru membuat perselisihan dan mencari masalah masalah baru yang makin memperburuk citra partai. Soliditas internal perlu demi melanjutkan pembangunan Aceh yang tertinggal jauh dari daerah lain.

Kepemimpinan Yusuf Ishak dibawah bayang-bayang Muntasir Hamid memang minim prestasi tapi banyak sensasi, hal ini terbukti ketika memimpin Partai Golkar Banda Aceh yang peraihan kursi di DPRK stagnan atau jalan ditempat, perolehan suara tidak meningkat, pada pilkada 2012 yang lalu, calon walikota yang di dukung oleh Partai Golkar Banda Aceh juga kalah. Ini membuktikan Muntasir gagal. Nah apakah kader kader Golkar dan kita semua mau di 2019 nanti Partai Golkar di Aceh menjadi penggembira saja. Jangankan meraih satu fraksi di DPRA meraih beberapa kursi DPR saja sangat sulit akibat kepemimpinan yang doyan kisruh internal. Kalau begini terus gaya kepemimpinan di Golkar Aceh yang lebih dominan dikomandoi Muntasir, maka mari kita ucapkan bersama “Senjakala Golkar Aceh”.

*Warga Banda Aceh

KOMENTAR FACEBOOK