Pak Mawardi: Ahli Hukum Berpikir

Taqwaddin Husin

Oleh : Dr. H. Taqwaddin Husin, S.H., S.E., M.S.*

SEMULA, saya merencanakan akan menulis berpuluh-puluh halaman mengenai sosok Pak Mawardi. Hal ini wajar, karena pergaulan saya dengan beliau telah berlangsung lama, puluhan tahun, sehingga banyak sekali kesan yang tersimpan rapi dalam memori pikir. Namun sedikit apapun ungkapan memori yang saya tuang dalam tulisan ini, semuanya adalah memori yang melukiskan keakraban saya dengan Pak Mawardi atau lengkapnya Mawardi Ismail, S.H., M.H.

Saya telah mengenal dan mengakrabi Pak Mawardi tiga puluh tiga tahun yang lalu hingga sekarang, tepatnya sejak tahun 1982. Saat itu beliau mengasuh kuliah Filsafat Umum pada tahun pertama saya belajar di Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala. Sejak saat itu saya sangat mengagumi beliau. Kentara sekali beliau itu cerdas dan memiliki pengetahuan hukum yang luas. Ulasan kuliahnya mudah dimengerti. Padahal, mata kuliah yang diasuhnya terkenal sebagai kuliah yang sulit di semua fakultas hukum di seantero bumi.

Ingat sekali saya, saat itu (1982)  betapa beliau berulang kali menekankan pada mahasiswanya agar meluruskan analisa dan logika berpikir dengan mengacu pada Logica Canon. Untuk mendapatkan conclusio (kesimpulan) yang benar kita harus mengkoversi dan meresidu premis mayor dan premis minor. Misalnya, kata beliau, siapa saja yang mengambil barang orang secara melawan hak diancam dengan pidana penjara sebagai mencuri. Sehingga, apabila si Dono mengambil barang orang lain secara melawan, maka si Dono adalah pencuri yang boleh dihukum pidana penjara. Begitulah kira-kira kuliah Filsafat Umum yang masih terekam dalam memori saya yang pertama sekali saya dengar dari Pak Mawardi.

Mawardi Ismail, S.H., M.H.
Mawardi Ismail, S.H., M.H. foto by harianaceh

Gembira sekali mengkuti kuliah Pak Mawardi. Mata kuliah yang sulit pun terasa mudah apabila dosennya Pak Mawardi. Hal ini karena beliau menyampaikan kuliah menggunakan bahasa yang sederhana, pasaran, yang disertai dengan contoh-contoh yang masuk akal dan membumi. Kalau agama sebagai pemberi arah, seni mengurusi soal keindahan, maka ilmu harus memberi kemudahan. Begitu idealnya.

Setelah mengikuti kuliah Filsafat Umum, yang kemudian pada semester akhir disempurnakan dengan kewajiban mengikuti kuliah Filsafat Hukum, nyata sekali betapa pentingnya silogisme dalam mengambil kesimpulan. Ini penting, kesimpulan harus benar demi mencapai kebenaran. Tidak boleh hanya sekedar betul. Karena bisa jadi betul itu karena kebetulan. Inilah pengetahuan dasar hukum berpikir yang diajarkan beliau. Karenanya, bagi saya, Pak Mawardi adalah Ahli Hukum Berpikir. Artinya, bukan hanya ahli Hukum Perdata, atau Hukum Pembuktian, atau hukum-hukum lainnya. Tetapi beliau ahli mater scianterum hukum alias mamaknya ilmu hukum. Bagi saya beliau Professor Hukum Berpikir.

Dengan kemampuan analisis berpikir hukum yang baik, maka wajar saja beliau terus eksis dalam perbincangan politik, pemerintahan, dan hukum di Aceh dari era delapan puluhan hingga  sekarang (2015). Selain anugerah kemampuan berpikir. Sisi lain yang membuat Pak Mawardi terus eksis adalah keramahan, kebersahajaan, dan pergaulan beliau yang luas dengan semua kalangan.

Pak Mawardi untuk ukuran Aceh adalah sosok dikenal. Semasa mahasiswanya beliau adalah aktivis kampus yang aktif dalam pergerakan Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI) yang kemudian menjadi Sekretaris Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Daerah Istimewa Aceh.  Dari aktivis kampus dan pemuda, lalu beliau berkiprah sebagai politisi Golkar yang mengantarkannya menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Selepas dari jabatan anggota parlemen, Pak Mawardi kembali ke kampus dan dipilih secara mayoritas sebagai Dekan Fakultas Hukum Unsyiah.

Sewaktu Pak Mawardi sebagai dekan, kentara sekali kemajuan yang dicapai fakultas kami. Padahal saat itu Tsunami meluluhlantakkan Aceh, termasuk beberapa dosen, karyawan, dan mahasiswa  FH Unsyiah yang tewas. Dalam keadaan susah masa itu, berkat pergaulan Pak Mawardi  yang luas, fakultas kami mendapatkan banyak bantuan dan dukungan dari berbagai pihak. Sehingga, aktivitas belajar mengajar malah semakin meningkat.

Pada masa Pak Mawardi dibangun bekerjasama dengan Nuvic Belanda sehingga dibuka Kelas Internasional. Bekerjasama dengan UNDP dibuka pusat riset hukum Aceh atau AJRC (Aceh Justice Research Center). Yang terpenting lainnya, pada masa Pak Mawardi Fakultas Hukum Unsyiah  memperoleh akreditasi A. Akrediasi terbaik ini dapat dicapai karena proses belajar mengajar, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang dilakukan oleh para dosen dengan cukup optimal.  Semua itu ada, karena adanya dorongan motivatif dan insentif  dari pimpinan.

Persahabatan dengan beliau sungguh menyenangkan. Seperti tidak ada jarak. Pak Mawardi memperlakukan kami sebagai sahabat yang setara, bukan sebagai bawahan apalagi sebagai murid. Beliau pun tidak segan menanyakan sesuatu, apabila beliau belum mempelajarinya.

Selain itu, hal yang masih saya ingat adalah saat beliau memimpin fakultas kami, terjadi peningkatan kesejahteraan dan kegembiraan dosen.  Sekali lagi, semua ini disebabkan pergaulan beliau yang luas, sehingga karena banyaknya kerjasama dengan pihak-pihak luar, tentu membutuhkan banyak SDM yang dilibatkan.  Alhamdulillah, saya dilibatkan dalam proyek kerjasama dengan ADB (Asian Development Bank) untuk menyusun suatu naskah akademik dan rancangan qanun.

Jika dibandingkan dengan semua professor yang ada di Fakultas Hukum Unsyiah saat ini, Pak Mawardi lebih banyak dipakai jasanya, baik oleh Pemerintah Aceh, DPRA, LSM, maupun oleh pihak swasta. Mereka mengganggap Pak Mawardi lebih professor dari pada professor yang sesungguhnya. Ini disebabkan cara berpikir dan cara menyampaikan Pak Mawardi yang lugas, sederhana, dan pragmatis. Teori memang perlu sebagai dasar analisis untuk berpikir sistematis, tetapi yang lebih perlu adalah bagaimana cara kita mengemukakan pendapat kepada pihak yang meminta jasa kita agar mereka mudah memahaminya. Mereka tidak perlu tahu teori yang kita gunakan. Yang dibutuhkan adalah jawaban praktis dan solutif yang dapat menyelesaiakan masalah mereka. Begitu saran Pak Mawardi kepada saya belasan tahun lalu.

Hingga saat ini, Pak Mawardi masih sering diminta pendapatnya. Bahkan masih sering pula diminta sebagai narasumber pada banyak seminar dan lokakarya, baik di Aceh maupun pada tingkat nasional. Beliau, walaupun lulusan Jurusan Hukum Perdata, tetapi sepertinya ahli semua hukum. Berkaitan dengan hal ini, beliau sering ungkapkan bahwa “saya bukan yang paling ahli, tetapi yang paling berani”. Karenanya, topik apa saja – sepanjang bicara hukum –beliau siap menjadi pemateri. Inilah yang saya maksud di atas, Pak Mawardi bukan ahli satu hukum, tetapi ahli semua hukum yang bertumpu pada induknya yaitu Ahli Hukum Berpikir.

Saya beruntung, termasuk orang yang sering diajak dan dilibatkan beliau dalam banyak kegiatan. Saya pun sering direkomendasikan untuk menggantikan beliau sebagai narasumber jika Pak Mawardi berhalangan.  Pesan penting lainnya yang saya ingat dari beliau adalah agar selalu berpenampilan rapi dan wibawa dengan pakaian dan kenderaan yang bagus. Jangan sembarangan. Menurut beliau, orang akan menilai kita pertama sekali dari sisi apa yang kita gunakan. Penampilan itu perlu untuk memperkuat isi. Begitu ujar Pak Mawardi suatu ketika.

Mengakhiri catatan kecil ini, saya dengan sepenuh jiwa menyampaikan terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada Pak Mawardi, yang telah mengajarkan saya begitu banyak ilmu, terutama dalam ilmu berpikir, sehingga menjadikan saya seperti sekarang ini. Selanjutnya, saya berharap sekalipun Pak Mawardi pensiun dari PNS, bukan berarti pensiun dari proses belajar mengajar. Kami masih membutuhkan bapak sebagai sumur mata air ilmu yang tak pernah kering. Selain itu, saya pun dengan setulus-tulusnya mohon maaf  jika selama bergaul dengan Pak Mawardi ada perkataan atau sikap dan tindakan saya yang kurang berkenan dihati bapak. Yang jelas, saya bangga berguru, bersahabat, dan bergaul dengan Profesor Mawardi. Selamat pensiun prof……

*Kepala Perwakilan Ombudsman RI Provinsi Aceh dan Dosen Fakultas Hukum Universitas Syiah Kuala.

 

KOMENTAR FACEBOOK