Braveheart dari Aceh

Oleh: Munawar Liza Zainal

Saat itu musim panas baru berlalu, bulan Oktober 2014. Setelah perjalan panjang dengan darat dan laut dari Denmark, hampir shubuh kami sampai ke kawasan Alby, pinggiran kota Stockholm Swedia. Langsung menuju rumah bang Bakhtiar Abdullah di deretan apartemen di belakang Centrum Alby. Mata tidak kuat berjaga, sebab angin malam menusuk dingin. Saya langsung tidur.

Setelah shalat dan sarapan, bang Bakhtiar berangkat kerja. Rindu yang luar biasa kepada almarhum Wali Negara Tengku Hasan Muhammad di Tiro membuat tidak mengantuk lagi pagi itu. Zaharah dan Muhammad Zain, anak bang Bakhtiar keduanya saya bangunkan. Saya ajak mereka jalan-jalan ke seputaran komplek. Sangat ingin menapak tilas jalan-jalan yang pernah dilalui oleh almarhum Wali.

Pertama kami menuju ke gedung tempat apartemen milik Wali dulu tinggal. Kami sempat tertegun lama di sana, sebab nama-nama di papan list penghuni, tidak ada lagi nama Wali. Telah berganti dengan nama orang Kurdi. Berarti apartemen tersebut telah dijual. Kemudian kami berjalan di jalanan kecil yang asri, jalan yang sering ditapaki almarhum ketika jalan-jalan pagi menuju sebuah danau kecil indah bernama Albysjön.

Salahsatu sudut rumah Wali di Alby (credit photo: Teuku Hadi)
Salahsatu sudut rumah Wali di Alby (credit photo: Teuku Hadi)

Dalam perjalanan pulang dari Albysjön, kami sempat singgah dan duduk di bangku almarhum sering istirahat di sudut taman, memandangi kotak pos tempat almarhum biasa mengirimkan surat dan kami menjelajahi pasar dan station kereta Alby, tempat biasa almarhum kunjungi.

Ketika melihat tempat-tempat itu, terasa ada kekosongan, ada sesuatu yang kurang.

Bahwa tempat yang pernah menjadi gampong Wali selama puluhan tahun, terasa asing, tidak ada tempat yang bisa disinggahi. Entah siapa yang menjual rumah almarhum Wali kepada orang Kurdi, orang itu kurang menghargai sejarah, mestinya musafir yang datang jauh dari Aceh bisa singgah di rumah Wali, merasakan aura perjuangan panjang almarhum, dan melihat, membaca dan mengabadikan peninggalan almarhum. Mestinya rumah itu jangan dijual, harus dijadikan kenang-kenangan atau museum mini, di mana generasi Aceh bisa datang, singgah dan mengenang perjuangan ini.

Karena sudah dijual, ya sudah lah, apa mau dikata.

Di depan gedung apartement Wali (credit photo: Warzain)
Di depan gedung apartement Wali (credit photo: Warzain)

MESTINYA RUMAH ITU JANGAN DIJUAL, HARUS DIJADIKAN KENANG-KENANGAN ATAU MUSEUM MINI, DI MANA GENERASI ACEH BISA DATANG, SINGGAH DAN MENGENANG PERJUANGAN INI

Almarhum sangat gemar mengirimkan surat meminta dukungan semua pihak untuk membantu perjuangan Aceh. Semua orang almarhum sapa, semua duta besar, menteri-menteri luar negeri, pimpinan lembaga internasional, secara reguler almarhum surati. Mestinya copy surat-surat itu bisa kita nikmati. Kita baca.

Almarhum juga gemar sekali menulis dan mengoleksi buku. Buku-buku dan dokumen almarhum, harusnya juga saat ini bisa kita baca. Kaset-kaset tape dan video berisi ceramah-ceramah almarhum, saat ini kita tidak tahu di mana. Kliping koran, photo-photo, gambar, rencong, hadiah-hadiah, plakat-plakat, ijazah dan barang-barang pribadi almarhum, mestinya disimpan rapi, dan kita cucu-cucu almarhum bisa melihatnya.

Semua memorabilia almarhum, harusnya bisa dilihat oleh generasi sekarang.

Sudahlah, apartemen almarhum di sana sudah dijual, kita berharap semua barang-barang yang bernilai sejarah tinggi peninggalan Tengku Hasan Muhammad di Tiro bisa dibawa pulang ke Aceh.

Di dalam komplek mewah meuligoe wali nanggroe yang telah menghabiskan dana 100 milyar, hendaknya disiapkan sebuah ruangan, atau beberapa ruangan untuk dijadikan museum mini, diisi barang-barang peninggalan almarhum, buku-buku, dokumen-dokumen dan lainnya, untuk kita baca dan pelajari bersama. Museum ini akan menjadi jembatan antara generasi muda sekarang dengan pikiran dan ide-ide hebat Tengku Hasan Muhammad di Tiro.

Beberapa saat yang lalu, ada informasi, beberapa elemen masyarakat Aceh berharap agar kehidupan Tengku Hasan Muhammad di Tiro difilmkan. Ide ini mendapat sambutan dari berbagai pihak. Ada yang setuju dan ada yang mengatakan belum waktunya.

Sudah saatnya pemikiran dan kehidupan almarhum untuk dipelajari oleh semua generasi Aceh. Almarhum adalah salahsatu putra Aceh terbaik yang membuka mata seluruh rakyat Aceh dan memimpin perjuangan panjang untuk menegakkan martabat dan harkat Aceh. Sudah saatnya buku-buku almarhum didiskusikan, pidato-pidato almarhum didengar dan dipedomani, dan sejarah hidup almarhum diabadikan.

Menurut hemat kami, kehidupan almarhum sangat layak difilmkan, apalagi perjuangan awal ketika almarhum meninggalkan kemewahan Amerika dan naik-turun gunung dan rimba Aceh. Tapi bukan cilet-cilet, film mesti dihasilkan dari pendalaman sejarah yang matang dan persiapan yang sempurna. Almarhum adalah milik rakyat Aceh, tidak perlu izin ke sana sini, kecuali ada hal-hal yang bersifat pribadi yang mesti kita konsultasikan dan musyawarahkan dengan keluarga almarhum. Semoga segera keluar kisah epic sekelas ‘braveheart’ dari Aceh. Wallahu A’lam.

Warga Aceh Besar, pernah bermukim beberapa waktu di Alby.

KOMENTAR FACEBOOK