Hasan Tiro dan Warisan Kesederhanaan

Hasan Tiro foot by kompas

“Wali Hasan Tiro itu sosok sederhana.”

Demikian penegasan Muzakir Hamid saat berbincang dengan acehtrend, Rabu (25/11/2015) dipendopo Gubernur Aceh.

Kesaksian asisten pribadi Hasan Tiro itu tentu saja tidak boleh diabaikan. Tidak mungkin sosok yang akrab disapa ustadz itu berbohong soal kepribadian Proklamor GAM yang sudah berpulang lima tahun lalu, tepatnya 3 Juni 2010.

Kepada acehtrend, Muzakir Hamid mengkisahkan satu bukti jika Hasan Tiro sosok yang sederhana. “Televisi wali tidak mau diganti meski kami sanggup untuk mencari gantinya,” kata Muzakir Hamid sambil berlalu dan lalu mengambil buku Hasan Tiro, Jalan Panjang Menuju Damai untuk menujukkan beberapa foto sebagai bukti kesederhanaan Hasan Tiro.

Kesederhanaan Hasan Tiro juga diakui oleh Haeqal Afifa. Menurut Ketua Institut Peradaban Aceh (IPA), gaya hidup Hasan Tiro yang sederhana itu harus dilanjutkan oleh siapa pun termasuk oleh eks-Libya yang selama berbulan-bulan dididik oleh Hasan Tiro di barak-barak.

Haekal menambahkan, Hasan Tiro tidak memiliki rumah, kendaraan dan harta lainnya hingga meninggal dunia pada 3 Juni 2010 di Banda Aceh. Menurutnya Hasan Tiro meninggal juga tidak mewariskan harta benda kepada anaknya.

Lantas, bagaimana Hasan Tiro menghendaki kehidupan rakyat? Jawabannya adalah makmur. Hasan Tiro pingin rakyat menjadi makmur. Hal ini juga diakui oleh penerjemah buku Atjeh Bak Mata Donja, Haeqal Afifa. Menurut Haeqal kecintaan kepada rakyat untuk hidup makmurlah yang menyebabkan Hasan Tiro rela dua tahun lebih bergerilya di hutan Aceh yang dikenal ganas.

“Padahal bisa saja Hasan Tiro hidup tenang bersama istri dan anak di Amerika tanpa perlu mendidik kader di rimba,” kata Haekal kepada awak media mengenang Hasan Tiro.

Besok, 4 Desember para pengikutnya akan merayakan milad ke 39 GAM. Dari “rahim politik” Hasan Tirolah Aceh Merdeka dideklarasikan pada 1976. Kata Tempo, hidup Tiro bagaikan roller coaster. Menjadi pengusaha di New York, Amerika Serikat, pada awal 1970-an, ia memutuskan angkat senjata pada 1976. Kekecewaannya terhadap pemerintah pusat membuatnya masuk hutan. Beberapa tahun di gunung, ia hengkang ke Malaysia karena diburu tentara. Dari Malaysia ia kemudian mendapat suaka politik di Stockholm, Swedia.

Perundingan damai Helsinki pada 2005 mengubah segalanya. Bekas Perdana Menteri GAM Malik Mahmud serta Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Indonesia Hamid Awaludin meneken kesepakatan damai antara dua seteru itu. GAM diberi kompensasi ekonomi dan politik sebagai syarat tak lagi menggali kapak perlawanan. Salah satu “imbalan”, GAM boleh mendirikan partai lokal-tempat anggota gerakan perlawanan itu diharapkan berkiprah.

Kini, mesin perjuangan Hasan Tiro telah berhenti, bersama amanatnya yang dibacakan Malik Mahmud, sosok yang kini disebut Wali Nanggroe. Dalam amanatnya yang dibacakan di Masjid Baiturrahman, Hasan Tiro menyatakan mendukung perdamaian. Tentang perjuangan memerdekaan Aceh, Malik berujar: “Setelah damai itu tidak ada lagi”.

Apakah itu bermakna bahwa kesederhanaan para pengikut Hasan Tiro juga sudah berakhir? Adakah saat ini adalah masa yang tepat untuk berlomba-lomba meraih kemakmuran pribadi sebab semuanya sudah masuk dalam katagori rakyat. Bukankah rakyat dianjurkan oleh Hasan Tiro untuk meraih kemakmuran?

Atau, sesungguhnya gaya hidup sederhana masih wajib melekat kepada seluruh insan pejuang. Selama rakyat belum bisa hidup makmur maka seluruh pejuang masih wajib sederhana, tidak berlebihan apalagi sampai hidup berpoya-poya.

Pagi itu, Muzakir Hamid menyinggung satu pertemuan yang memperlihatkan Wali Nanggroe sedang duduk disebuah kursi merah dan megah. “Pu piasan nyan. Pakon meunan, hana sesuai dengan sikap Wali Hasan yang sederhana,” kata sosok yang kini akrab disapa ustadz itu.

Ada rona amarah pada wajah Muzakir Hamid ketika membandingkan gaya hidup yang dibangun Wali Hasan dengan kehidupan sebagian pengikut Wali Hasan saat ini. Tapi siapa saja mereka yang sudah terjebak dengan gapah donja tidak disinggungnya sama sekali.

Ia hanya berharap agar semua rekan seperjuangannya untuk kembali merenungi bersama-sama. “Bila perlu kita saling berdebat secara terbuka. Ta buka-buka. So yang salah wajib kembali ke jalan hidup yang diwariskan Hasan Tiro,” ujarnya dengan suara yang sejak awal dan akhir tetap lembut. []

KOMENTAR FACEBOOK