Sambut Milad GAM ke 39, Ini Himbauan Bakhtiar Abdullah Juru Runding MoU Helsinki, Finlandia

Foto istimewa : Evaluasi keadaan Aceh dengan rakan-rakan di scandinavia

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

Alhamdulillah dengan izin Allah, hari ini kita masih bisa menyambut bersama – sama hari ulang tahun GAM yang ke 39 diseluruh dunia dengan cara masing masing dan menurut tempat serta keadaan.

Kita sambut hari bersejarah ini dengan tujuan untuk mengenang kembali perjuangan rakyat Aceh dan para syuhada yang telah gugur ketika konflik antara GAM dan RI yang berakhir dengan perjanjian perdamaian MoU di Helsinki 10 tahun yang lalu.

Bersamaan dengan ini juga, mari kita sama-sama memanjatkan doa kepada Allah semoga orang-orang yang terkena Imbas selama konflik di Aceh, diberikan kesabaran dan ketabahan dan kita berharap agar mereka selalu tawaqal dalam menghadapi segala cobaan. Tak lupa pula kepada mereka yang kehilangan orang yang di sayang, kita berdoa, semoga saudara kita yang telah lebih dahulu menghadap Ilahi, agar diluaskan kuburnya dan ditempatkan bersama para Aulia dan para Anbiya. Amin

Tidak lupa jugak, dalam momen peringatan hari ulang tahun kali ini, kita buat muhasabah perjuangan GAM. Mari kita menoleh kebelakang agar kita tau apa yang perlu kita perbaiki dan perbuat demi tercapainya cita cita kita yaitu untuk menaikan marwah dan martabat bangsa Aceh dimata dunia.

Perjuangan ini tidak selesai dengan hanya menandatangani perdamaian saja, karena perjanjian perdamaian itu adalah permulaan dari pekerjaan yang lebih besar di hadapan kita.

Saat ini kita telah memasuki ajang perjuangan politik yang sangat kompleks dan rumit, yang penuh dengan rintangan, tantangan dan cabaran. Kalau dulu kita berperang dengan senjata, dengan mudah kita bisa tau siapa musuh kita, tapi dalam  konteks perjuangan politik kita tidak tau siapa lawan dan siapa kawan, sehingga kalau kita lalai, maka kehancuran akan menimpa kita bangsa Aceh yang mulia.

Hari ini, kita (GAM) telah mengambil dan telah komit dengan perdamaian, dan harus kita tau bahwa pegangan kita adalah perjanjian MoU di Helsinki. Karena itu wajib keatas diri kita dan pihak RI untuk memenuhi komitment ini secara bersama sama. Bagi kita, cara memperjuangkan seluruh isi dari MoU adalah dengan mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat Aceh daripada kepentingan peribadi atau kelompok. Karena MoU ini adalah kepunyaan bangsa Aceh, bukan kepunyaan GAM atau kelompok tertentu.

Kalau dulu kita mampu bertahan atas dukungan moral dan material dari bangsa Aceh, maka dalam keadaan damai begini, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bisa memperjuangkan semua butir-butir MoU itu sampai tuntas demi kepentingan bersama. Sebab itulah perlunya kita menggunakan langkah-langkah yang bijak dan strategi yg cerdas agar semua berjalan seperti yang kita harapkan. Kita sadar bahwa pekerjaan ini bukanlah pekerjaan yang gampang dan bisa diselesaikan dengan cepat, tapi dengan kebersamaan, InsyaAllah kita bisa menyelasaikannya. Sebagai contoh masalah bendera dan lambang dalam konteks damai, yang sampai hari ini masih tidak selesai selesai juga. Kalau kita mau merubah semua cara kerja kita dengan mekanisme demokratis yaitu dengan menerima masukan dan aspirasi dari rakyat Aceh, maka hal itu telah lama bisa kita tuntaskan.

Akibat dari berlarut larutnya persoalan yang tak penting itu, maka hal-hal lain yang lebih penting seperti kesejahteraan rakyat, KKR, HAM dan yang lain-lain terabaikan begitu saja, malah terlepas dari fokus. Belum lagi dalam hal menyantuni anak yatim, korban konflik dan kaum dhu’afa yang masih jauh dari apa seharusnya kita buat. Kalau masalah yang utama ini tidak kita laksanakan sesegera mungkin, maka jangan harap Aceh bisa bangkit untuk maju walau Aceh mempunyai kekayaan yang berlimpah-ruah.

Perjuangan ini tidak akan pernah berhasil kalau dikalangan kita sendiri masih cerai berai dan bermusuh-musuhan sesama kita lebih dari musuh nenek moyang kita dulu. Karena itu GAM WAJIB utuh dan solid sebagai sebuah organisasi politik yang masih exis dan harus bisa menjadi perisai bangsa Aceh untuk memperjuangkan kelanjutan semua butir-butir MoU Helsinki sehingga selesai.

Peluang baik ini ada didepan mata kita dan jangan harap peluang ini bisa datang berkali-kali, sebab itulah kalau kita punya itikad dan niat yang baik, maka kita harus merubah cara dan pola pikir kita kepada pola pikir yang diterapkan oleh Rasullullah SAW. Semua ini demi kemaslahatan bangsa Aceh.

Kita perlu mengambil langkah-langkah yang lebih arif yaitu dengan mendekatkan diri kita kepada Ulama, Umara, tokoh-tokoh Masyarakat, elemen sipil dan sesupuh GAM untuk mendapatkan nasehat serta menambah lagi wawasan kita dalam hal mencari solusi tentang Aceh terutama masalah MoU Helsinki.

Mari kita panjatkan do’a kepada Allah SWT, semoga semua usaha kita ini mendapat berkah dan hidayahNya serta bisa berhasil seperti yang kita harapkan. Aamiin

Wabillahitaufiq walhidajah wassalamu’alikum w.w.

Bakhtiar Abdullah
Koordinator GAM
Angèëta Peurundéng GAM MoU Helsinki, Finlandia.

KOMENTAR FACEBOOK