Aceh, dari Louis XIII ke François Hollande

Foto: wikipedia
Foto: wikipedia
Foto : Wikipedia

Banyak orang menulis bahwa Aceh pada masanya pernah menjalin hubungan baik dengan negara-negara lain, salah satunya dengan Prancis. Saat itu, Prancis dipimpin oleh Raja Louis XII

Tidak banyak catatan tentang Raja Louis XIII. Tidak seperti anaknya, Louis XIV. Raja Matahari yang lahir 5 September 1638 dan meninggal 1 September 1715 lebih dikenal, sebab pada masa inilah periode kelam dalam sejarah Prancis diingat orang. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah “L’État c’est moi” atau “negara adalah saya.”

Nah, ayahnya inilah, Louis XIII yang pernah mengirim surat kepada Sultan Iskandar Muda, yang kemudian dibalas oleh Sultan Iskandar Muda. Sayangnya, surat Raja Louis XIII tidak diketahui. Menurut Danys Lombard, ada beberapa “surat bercap” yang dititip kepada de Beaulieu.

Menurut Lombard surat itu disampaikan kepada pihak Kerajaan Aceh, dan ketika Beaulieu bertolak pulang, Sultan menitip surat balasan untuk disampaikan kepada Raja Prancis.

Menurut yang dicatat oleh Lombard, surat dari Aceh itu ditulis dalam bahasa Aceh dengan huruf-huruf emas di atas kertas yang sangat halus, tulisannya dikelilingi beberapa hiasan emas dan gambar. Apa isinya?

Sultan Iskandar Muda membuka surat dengan menunjukkan wilayah kekuasaannya. Meski begitu, semua daerah taklukan yang disebut oleh Sultan Aceh itu disebut berkat bantuan Allah. Ini satu bukti bahwa Raja Aceh meletakkan kekuasaannya dalam bingkai kesadaran Islam.

Meski begitu, Sultan Aceh bukan sosok yang radikal. Meski tahu bahwa Prancis bukan kerajaan yang bertumpu pada Islam tapi etika saling menghormati sesama raja tetap diterapkan. Sultan tetap menyebut Raja Prancis sebagai Raja yang agung dan berkuasa.

Sultan Aceh juga tidak menutup diri dan wilayahnya dengan negara lain, sekalipun negara itu tidak sehaluan dengan Aceh dalam hal agama. Hubungan dagang tetap dibangun, dan tamu yang datang karena diutus raja tetap disambut baik.

Menariknya, Sultan Aceh, dalam suratnya menyampaikan doa semoga Kerajaan Prancis bertahan dalam waktu yang lama.

Surat menyurat yang kemungkinan terjadi sekitar tahun 1621 itu kembali terjadi saat ini. Seorang warga Aceh, Helmy N Hakim, yang mengirim surat kepada Presiden Prancis langsung mendapat balasan. Melalui halaman facebooknya, aktivis Aceh yang terkenal dengan kaos Satu Juta Satu KK ini menulis: “Alhamdulillah, Presiden Prancis Francois Hollande, telah menerima dan membalas surat saya untuk kedua kali hanya dalam tempo 24 jam.”

Tentu saja, isi surat dua zaman yang berjarak sangat jauh itu berbeda. Jika dulu lebih ke hubungan dagang, maka Helmy N Hakim mengirim surat kaitannya dengan politik di Prancis. Meski berbeda, surat Helmy juga memiliki identitas keagamaan, Islam. Jika ditelisik dari isinya, kedua surat di dua zaman yang berbeda itu, watak Islam Aceh yang diperlihatkan tetap Islam yang ramah. Baca juga: Surat Warga Aceh Ini Mendapat Balasan Presiden Perancis

Berikut surat Sultan Iskandar Muda yang ditujukan kepada Raja Prancis.
Surat dari Sri Sultan yang agung, yang berkat bantuan Allah telah menaklukkan dan menundukkan beberapa kerajaan, Raja Aceh dan dengan rahmat Allah, Raja semua tanah di masyrik dan maghrib. Di masyrik, kerajaan, daerah dan tanah-tanah Deli; Kerajaan Johor beserta daerah dan tanah-tanahnya; Kerajaan Pahang, Kerajaan Kedah dan Kerajaan Perak bersama daerah dan tanah-tanahnya. Di maghrib, Kerajaan dan wilayah Priaman, Kerajaan dan wilayah Tiku; Kerajaan dan Wilayah Paseman.

Dialamatkan kepada Raja Prancis yang agung dan kuasa. Hendaknya diketahui Raja Prancis bahwa surat yang dikirimnya dengan perantaraan Kapten Jenderal de Beaulieu telah disampaikan kepada saya dan bahwa telah saya baca apa yang tertulis di dalamnya dan bahwa kepada saya telah disebutnya kebaikan Kapten Jenderal itu yang saya perlakukan dengan hormat sekali, baik dalam hal perniagaan, maupun waktu saya beri gelar dan kedudukan seperti orang kaya saya yang terkemuka.

Berhubung dengan tawaran apakah saya memerlukan sesuatu dari Prancis, saya sampaikan dengan perantaraan Kapten Jenderal de Beaulieu sebuah laporan untuk menunjukkan betapa besar penghargaan saya, dan saya katakan pula, jika Allah mengarahkan surat ini dengan selamat, saya mengharapkan jawaban dengan kapal-kapal yang bakal datang bermuatan barang dagangan untuk diperjualbelikan di kerajaan ini, suatu hal yang bakal sangat menyenangkan hati saya; maka saya berdoa kepada Allah supaya negara Raja Prancis selamatlah.

Dan karena Allah telah membuat kita raja-raja besar di dunia ini, maka sudah sepantasnya kita bersahabat dan menjalin hubungan. Sebagai tanda persahabatan, saya mengirim delapan bahar (350 pon Prancis atau 180 kg) lada yang diambil dari tanah ini (Aceh).

Semoga Allah masih bertahun-tahun lamanya melindungi Yang Mulia Raja Prancis bersama negara-negara dan kerajaan-kerajaannya. Dibuat pada bulan Rajab (atau Juni) tahun seribu tiga puluh (1030 H/ Juni 1621 M).

Redaksi acehtrend mengundang rakan-rakan untuk berbagi informasi lebih banyak lagi tentang hubungan Aceh dan Prancis. Semoga dari berbagi informasi ini dapat memantik kesadaran yang lebih terang tentang bagaimana pandangan donja Aceh khususnya dalam membangun hubungan dengan dunia luar.