Tawasuth, Jalan Sunyi di Akhir Zaman [Bagian 1]

Oleh: Teuku Zulkhairi

Akhir-akhir ini, saya sedikit mendapatkan pencerahan baru seputar apa yang disebut Rasulullah Saw sebagai jalan sunyi nan asing di akhir zaman. Dan tulisan ini, semata-mata untuk berbagi pemikiran dan kesabaran. Ketika dulu sering berdialog seputar Islam Liberal, Pluralisme Agama dan Sekulerisme, saya berjuang keras menemukan posisi nalar yang memiliki referensi sejarah Islam yang kuat untuk merespon berbagai serangan pemikiran tersebut, hingga kemudian saya menemukan jawabannya.

Bahwa sejarah Islam dipenuhi oleh berbagai metode berfikir masing-masing umat yang hidup di zaman tersebut, dan bahwa dalam sejarah kejayaan Islam kita akan menemukan posisi dan sikap tawasuth para ulama dan kaum intelektualnya karena mampu menjalankan fungsi moderasi di hadapan berbagai metode pemikiran yang berkembang tersebut. Andalusia adalah contoh yang nyata. Dan Turki Usmani adalah contoh berikutnya.

Di hadapan berbagai tantangan metode berfikir tersebut, kita akan membaca metode yang cemerlang di balik kejayaan Andalusia dan Turki Usmani. Di era kejayaan Islam di Andalusia saat dimana Barat hidup dalam abad kegelapan, para ulama kita yan terbimbing oleh ayat-ayat Ilahiyah mampu memadukan setiap metode berfikir yang kalaboratif dan integratif, antara keharusan untuk tetap merujuk pada teks-teks suci hingga tidak lepas kendali, kewajiban untuk memfungsikan nalar secara maksimal karena Alquran telah memberi tekanan besar untuk ini, hingga keniscayaan untuk tetap menempuh jalan tazkiyatun nafs (jalannya para sufi) hingga mereka jauh dari kesombongan dan keangkuhan.

Intinya, mereka mampu memadukan kewajiban untuk merujuk pada teks-teks suci, keharusan memfungsikan nalar dan kewajiban untuk bertasawuf. Dan hasilnya?, Islam menjadi mercusuar dalam lapangan ilmu dan peradaban.

Roger Bacon dan Francis Bacon yang dikenal di Eropa pun pada dasarnya tidak lebih dari seorang pembawa ilmu dan metode keIslaman ke dunia Masehi-Eropa (Muhammad Syadid: tt). Ia tidak jemu-jemu untuk mengatakan dengan terus terang bahwa mempelajari bahasa Arab dan ilmu-ilmunya merupakan satu-satunya jalan untuk menuju ilmu pengetahuan yang sebenarnya, polemik dan perdebatan tentang siapakah peletak dasar metode empirisme itu merupakan bagian dari upaya untuk melakukan perubahan besar bagi dasar perdaban Eropa.

Dan metode empiris milik orang-orang Arab pada masa Bacon itu telah tersebar secara luas dan banyak orang di penjuru Eropa dengan tekun. Darimana Roger Bacon mengambil ilmu-ilmu itu? Tidak lain adalah dari Universitas-Universitas Islam di Andalusia. Pasal ke lima dari bukunya Cepus Majus yang ditulisnya khusus untuk membahas tentang optical sebenarnya merupakan salinan dari buku Manazhir karya Ibnu al-Haisami (Privolt sebagaimana dikutip Muhammad Iqbal).

Dan, ini membuktikan bahwa di era kejayaan Islam di Andalusia, selain metode penalaran (burhani) yang berkembang pesat, juga mereka tetap istiqamah merujuk pada teks sehingga mereka senantiasa terbimbing, tidak dilanda kebingungan sebagaimana masyarakat di era Yunani Kuno. Dan sekali lagi, para ilmuan Islam di era Andalusia ini juga adalah para sufi yang yang zuhud, tawadhu’, rendah diri dan jauh dari cinta duniawi.

Dan ternyata, sejak era umat Islam tercabik-cabik, sejak pasca negeri-negeri Islam dimasuki para kolonialis yang menanamkan ideologi imperialsme mereka di tengah-tengah umat Islam, hingga kemudian umat Islam terus berada di bawah bayang-bayang kedigdayaan peradaban Barat, metode berfikir umat Islam di era ini ditandai dengan ter-disintegrasi atau tercerai berainya berbagai metode berfikir yang diperkenalkan Islam dan telah dibuktikan keampuhannya di era kejayaan Islam di Andalusia dan Turki Usmani selama beberapa abad.

Pasca negara-negara kolonialis keluar dari tanah air Muslim, efek besar dan dan goncangan berat yang dihadapi umat Islam hingga masa berikutnya, bahkan hingga saat ini, adalah munculnya mental inferior, merasa rendah diri, sembari melupakan konsepsi kejayaan masa lalu yang pernah di raih secara gemilang.

Akibatnya, sikap tawasuth dalam berfikir kemudian di anggap asing dan aneh. Tasamuhdalam hal furu’iyah dianggap aneh dan menakutkan. Jadilah umat bergerak dengan metodenya masing-masing. Dan celakanya, di antara sesame umat Islam saling tidak bisa akur.

Ketika jalan Tawasuth sebagai cara pandang dan falsafah hidup umat Islam kembali dikaji dan didialogkkan sebagai ikhtiar menuju “wihdatul harakah” dan jalan kebangkitan, jalan ini kembali dianggap aneh dan sunyi. Sebagian kaum Sufi (dengan metode Irfani-nya) sulit terkoneksi dengan “firkah bayani” (mereka yang konsisten berpaku pada teks suci). Sementara mereka yang terjebak pada metode Burhani (rasionalisme) semata cenderung larut dalam kegalauan, kebimbangan dan keraguan tak berujung, bahkan tidak seidkit yang kemudian larut dalam kesombongan, sesuatu yang barangkali menjadi sebab hingga kemudian Ibnu Shalah dan Imam Nawawi mengharamkan ilmu logika (lihat: kitab Matan Sulam Al-Munawraq). Begitulah, hingga tidak heran jika Allah Swt meminta kita sebagai makhluknya untuk masuk Islam secara kaffah, totalitas dan menyeluruh, termasuk hingga ke metode berfikir, falsafah hidup dan cara pandang sebagai Muslim.

Para penyokong Islam Liberal dan pluralisme agama menganggap aneh ajakan untuk tetap berpijak pada teks-teks suci. Suatu anggapan yang sepenuhnya terpengaruh dengan doktrin Barat yang dianggap bisa digdaya karena meninggalkan agama mereka. Benar bahwa Barat maju setelah meninggalkan agama mereka yang telah mengekang kebebasan berfikir oleh sebab proses distorsi dan manipulasi teks-teks suci yang dilakukan kalangan gerejawan, bahkan hingga kita mengenal tragedi inkuisisi di Eropa yang mengorbankan banyak pemikir mereka oleh sebab arogansi kalangan gerejawan yang telah memanipulasi teks-teks suci tersebut.

Para pemikir Barat kemudian melawan dominasi gereja dan pengekangan kebebasan berfikir ini oleh pihak gerejawan. Mereka menempuh jalan sekulerisme untuk mencapai masa Renersaince (era pencerahan). Sebagian intelektual Barat, seperti Roger dan Francis Bacon bersaudara, seperti dijelaskan di atas, mendapatkan pencerahan dari para ulama Islam di Andalusia.

Jadi, sejarah bagaimana Barat mencapai abad pencerahan sesungguhnya berbeda dengan sejarah Islam. Pertama karena teks suci Alquran telah dijaga kemurniannya semenjak diurunkan sehingga proses dan upaya manipulasi ayat-ayat Alquran senantiasa terdeteksi sehingga kitab suci umat Islam tetap terjaga sebagai dalam wujudnya awalnya hingga kini. Dalam sejarah kejayaan Islam juga tidak dikenal istilah liberalisme dan sekulerisme.

Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali sendiri, adalah ulama yang terkenal memiliki konsepsi mederasi dan al-Wasthatiyah dalam upaya menuju kebangkitan Islam. Dengan metode integratif dan Washatiyahnya, Imam Al-Ghazali bahkan telah mampu menempus jauh melewati pola pikir yang baru ditemukan Barat di era Post Modernisme. Ya, saat Barat telah dihadapkan pada kebingungan baru setelah era modernisme yang ditandai dengan perkembangan pesat sains dan teknologi.

Kendati demikian, konsepmoderasi dan metode Washatiyahini tidak jarang masih tetap dianggap asing dan dimusuhi, meskipun pada faktanya memiliki landasan yang jelas dan kuat dari berbagai referensi Islam.

Pada tataran peradaban dunia, Islam menjadi agama yang Tawasuth (pertengahan) karena konsepsinya yang mampu memoderasi setiap ideologi lain di dunia ini. Disebut mampu memoderasi, karena Islam menjadi agama yang misalnya berposisi di tengah di hadapan ideologi Komunisme dan Kapitalisme yang hari ini merajai dunia. Pada ideologi komunisme misalnya yang mengekang kebebasan pribadi, Islam memberikan jawabannya bahwa kebebasan pribadi tidak terlarang selama kebebasan tersebut tidak terbentur dengan kebebasan orang lain. Islam mengecam pengekangan kebebasan pribadi karena Islam menghormati tabiat manusia sebagai penduduk bumi.

Lalu, di hadapan ideologi kapitalisme yang memberi kebebasan pribadi seluas-luasnya dan tak terbatas hingga kemudian tidak sedikit manusia yang terzalimi oleh korporasi global yang merupakan tangan-tangan ideologi kapitalisme ini, Islam menjelaskan bahwa hak azasi manusia harus dihormati. Misalnya, Islam menjelaskan, silahkan cari harta sebanyak-banyaknya, namun Islam meminta kita secara tegas untuk memastikan kehalalannya, dan juga diperkenalkan bahwa dalam harta kita ada hak orang lain yang mesti ditunaikan.

Demikianlah, sebagai penutup risalah para Anbiya, Islam merupakan agama yang sangat Tawasuth, meski di akhir zaman seperti saat ini – sikap tawasuth ini – kembali dianggap sebagai jalan asing dan sunyi, persis seperti saat awal kemunculan Islam dahulu. Kesunyian yang harus berlanjut demi masa depan peradaban dan keberlanjutan jalan kebangkitan. []

KOMENTAR FACEBOOK