Wali Bilang Kalender Aceh Simbol Peradaban Aceh yang Sudah Hilang

Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al-Haytar

ACEHTREND.CO, Aceh — “Akhirnya, saya nyatakan Kalender Islam Aceh tahun 1437 Hijriyah atau tahun 2016 Masehi secara resmi diluncurkan. Semoga Allah menjadikan ini sebagai kekuatan untuk menuju kebangkitan peradaban Aceh.”

Peluncuran Kalender Islam Aceh oleh Wali Nanggroe Aceh, Tgk. Malik Mahmud Al-Haytar dilakukan Senin (7/12/2015) di di Aula Mahkamah Syar’iyah, Banda Aceh.

Peluncuran Almanak Aceh itu atau kalender Islam Aceh diluncurkan oleh Lembaga Wali Nanggroe Aceh bersama Institut Peradaban Aceh (IPA).

Dalam sambutannya, Wali mengatakan sudah seharusnya Kalender Aceh dibudayakan dan digalang kembali penggunaannya oleh semua pihak, guna menjaga dan melestarikan nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya.

Menurut Wali, dalam penanggalan Aceh terdapat nama-nama bulan yang merujuk kepada filosofi sejarah. “Khususnya sejarah Islam Aceh yang menjadi identitas kita sampai kapanpun,” urai Wali.
[Almanak Aceh terdiri dari 12 bulan berdasarkan penanggalan Keuneunong. Mulai dari Asan Usen, Sapha, Molot, Adoe Molot, Molot Keuneulheueh, Khanduri Boh Kayee, Khanduri Apam, Khanduri Bu, Puasa, Uroe Raya, Meuapet dan Haji. Sedangkan hari tertulis Aleuhat (Minggu), Seulanyan (Senin), Seulasa (Selasa), Rabu (Rabu), Hameh (Kamis), Jum’at (Jumat), Satu (Sabtu)]

Disamping itu, tambah Wali, Kalender Aceh ini nantinya diharapkan menjadi sebuah produk budaya yang menjadi ciri khas tersendiri dalam masyarakat Aceh guna berpedoman pada bulan-bulan Aceh, hari-hari Aceh dan sistem penanggalan Aceh yang sangat kental dengan Islam.
“Sekian lama kita sudah berkiblat kepada kalender masehi, dengan latar histori dan filosofi yang tidak sejalan dengan kebudayan dan sejarah kita,” tegas Wali.

Kehadiran Kalender Aceh, menurut Wali sebagai bentuk kepedulian dan simbol dari peradaban Aceh yang sudah lama hilang. Wali juga berharap Kalender Aceh ini tidak hanya menjadi hiasan dinding belaka. “Tetapi memberi warna baru, arah baru dan kekuatan baru dalam menjaga amanah sejarah, agama dan bangsa kita,” ajak Wali.

Dalam pandangan Wali, bagi masyarakat Islam Aceh, Kalender bukan hanya sebatas lembaran-lembaran kertas yang hanya berisi angka tidak bermakna. Tetapi, di dalamnya terkadung banyak filosofi yang menunjukkan identitas Aceh sebagai sebuah bangsa, yang memperingatkan semua orang Aceh akan jejak dari setiap langkah sejarah yang sudah pernah di lalui.

“Semua ini menjadi indikator siapa hari ini kita sebenarnya di hadapan cermin sejarah,” ujar Wali.

Dalam pengamatan Wali di kekinian, begitu banyak ancaman dan serangan globalisasi yang meruntuhkan nilai-nilai budaya masyarakat Aceh. Wali menyampaikan: “Maka, sebagai sebuah bangsa yang mempunyai sejarah Islam yang gemilang di Asia Tenggara ini, sudah selayaknya kita bersiap dan menyiapkan diri untuk melawan setiap arus yang menyeret generasi kita kedalam jurang kebebasan tak bermoral,”

Hari ini, menurut Wali, Aceh tidak hanya diserang dengan opini dan wacana yang merubah mindset generasi Aceh, tetapi semua orang Aceh sudah berada dalam serangan produk-produk yang bisa menghancurkan karakter bangsa ini dengan seketika.

Oleh karena itu, Wali memandang dukungan dan apresiasi dari semua pihak sangat diperlukan guna mensosialisasi dan mengkampanyekan penggunaan Kalender Aceh sebagai sebuah produk dan gagasan tanding yang bisa membentengi generasi muda Aceh saat ini dari pengaruh budaya-budaya luar dan penyakit-penyakit barat yang sudah melanda kita.

“Disamping itu, kita juga berharap Kalender Aceh ini menjadi magnet bagi para wisatawan asing untuk mengenal Aceh lebih jauh dengan segala ciri khas yang dimilikinya. Maka, sudah selayaknya semua unsur untuk mendukung terbitnya dan diterapkannya Kalender Aceh sebagai sebuah pedoman dalam masyarakat Aceh yang berbangsa dan berbudaya,” pungkas Wali. []

KOMENTAR FACEBOOK