Soal Intrik di KPA? Ini Tanggapan “Langit” Musmarwan Abdullah

Musmarwan Abdullah

ACEHTREND.CO, Aceh — “Membaca “Ini Dia Pernyataan Sikap Tim Kerja KPA 2015” di Aceh Trend, Edisi Selasa, 8 Desember 2015 berjudul Ini Dia Pernyataan Sikap Tim Kerja #KPA2015, saya seperti dibuka mata untuk terbelalak sejak pada point pertama.”

Demikian tanggapan awal mantan anggota Komunitas Sastra Dewan Kesenian Aceh (DKA) 2000-2004, Musmarwan Abdullah menangapi pertanyaan aceHTrend seputar Kongres Peradaban Aceh (KPA).

“KPA” itu kependekan dari Kongres Peradaban Aceh; dan point pertama dari pernyataan sikap Pencetus Ide, Tim Penggagas dan Tim Kerja, itu berbunyi begini, “Sesungguhnya sebagian besar tim kerja mulai merasakan apoh apah (kalang-kabut), merasakan pergesekan internal, intrik-intrik dan perbedaan visi yg prinsipil sejak berlangsungnya Pra Kongres Peradaban Aceh di Banda Aceh, akhir September lalu.”

Secara khusus Lebih lanjut, mantan anggota Dewan Pertimbangan DKA 2004-2009 kelahiran Kembang Tanjong, Pidie itu menyoriti hal tersebut. Yang paling mengesankan bagi saya, jelas Musmarwan, di butir pertama itu adalah adanya frasa “intrik-intrik”.

“Maksudnya, masyarakat seperti diberitahukan bahwa dalam Pelaksanaan Kongres Peradaban Aceh itu ada main-main “intrik” sudah sejak awal,” duganya sambil menelisik ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), untuk mencari arti intrik, yaitu: penyebaran kabar bohong yang sengaja untuk menjatuhkan lawan.

Sejak dari point pertama itu, kata penulis buku kumpulan cerpen “Pada Tikungan Terakhir” itu: “saya jadinya tak terlalu fokus lagi pada sembilan butir berikutnya. Pikiran saya terus memainkan siklus kelit-kelindan antara Kongres Peradaban Aceh dan intrik-intrik, Peradaban Aceh dan intrik-intrik, Peradaban Aceh dan intrik-intrik, Peradaban Aceh dan intrik-intrik.”

Musmarwan yang oleh Herman RN disebut sebagai penulis dengan cita rasa satir, lucu dan memukau ini kemudian menutup tanggapan dengan nuansa “langit.”

“Di tangan kalian Peradaban Aceh penuh dengan intrik-intrik, di tangan kalian Peradaban Aceh penuh dengan intrik-intrik, di tangan kalian Peradaban Aceh penuh dengan intrik-intrik, dan, ya ampun, di tangan kalian Peradaban Aceh benar-benar terkesan bagai sebuah kongres liar tempat berlangsungnya perhelatan penyebaran kabar bohong yang sengaja untuk menjatuh lawan,” pungkasnya “melangit.” []

Baca juga Orang Muda Aceh Harus Bangga dengan Bahasa Ibunya dan Peunajoh Nanggroe di KPA 2015

KOMENTAR FACEBOOK