Tawasuth, Jalan Asing  Di Tengah Ekstrim Kanan dan Ekstrim Kiri [Bagian 2]

Oleh: Teuku Zulkhairi

Konflik di Timur Tengah, seharusnya mengajarkan kita untuk kembali ke falsafah tawasuth dalam pola pikir dan cara pandang, sesuai yang diperkenalkan ajaran Islam. Dalam tataran global peradaban dunia, Islam menjadi agama yangtawasuth di antara agama-agama lain. Dan oleh sebab itu, Islam menjadi agama yang rahmatan lil ‘alamin karena konsepsinya bisa menjadi solusi (al-hal) atas berbagai problem umat manusia. Bahkan, sejak beberapa dekade silam, semboyan “al-Islam huwa al-hal” semakin popular di tengah-tengah umat Islam. Itu karena kerinduan besar umat Islam untuk keluar dari belenggu pemikiran yang menjajah dan doktrin-doktrin kolonialis yang melemahkan dan membuat ragu umat Islam terhadap ajaran agamanya.

Lalu, di hadapan firkah-firkah yang muncul di internal umat Islam, seperti dijelaskan Rasulullah Saw dalam hadisnya bahwa Islam akan terpecah dalam 73 golongan – sebagai fakta yang mesti kita terima – Rasulullah Saw menegaskan bahwa firkah yang akan selamat adalah mereka yang senantiasa mengikuti Sunnah Nabi dan sahabatnya, baik dalam praktek amal, tradisi keilmuan Islam hingga metode berfikir dan falsafah hidupnya.

Penegasan Rasulullah Saw ini bukanlah tanpa alasan. Sebab, di hadapan segudang tantangan pemikiran yang mengarah kepada ekstrim kiri – seperti firkah-firkah yang gemar memalsukan hadis untuk menyanjung Saidina Ali atau Husen secara berlebihan, menghina para sahabat Rasulullah Saw yang dimuliakan – dan tantangan pemikiran dari golongan ekstrim kanan yang cenderung kaku karena sangat teks books/zhahiri dalam menerjemahkan ayat-ayatIlahiyah dan Sunnah Nabawiyah – yang berakibat pada begitu mudahnya tudingan bid’ah dan pengkafiran kepada sesama Islam sehingga membuka celah bagi masuknya plot-plot kejahatan di luar Islam yang merusak persatuan umat sekaligus memperburuk wajah Islam – dalam kondisi seperti ini kita kembali terdesak untuk merumuskan falsafah hidup dan cara pandang yang Washatiyah sebagai jalan tengah di antara ekstrim kanan dan ekstrim kiri tersebut.

Falsafah seperti ini bukan saja perlu dirumuskan dan dikembangkan karena memang ianya memiliki referensi sahih dalam Islam, namun juga karena konflik sektarian di Timur Tengah – hendaknya tidak ter-impor ke negeri kita. Kita memahami konflik di Syam karena ianya telah mendapatkan penjelasan-penjelasan Nubuwah, termasuk penjelasan tentang Taifah Mansurah dan pasukan panji hitam dari Khurasan yang akan melaju ke Syam membela umat Islam yang terzalimi, termasuk juga nubuwah kemunculan Dajjal sebagai puncak fitnah besar dan kehadiran Imam Mahdi- serta prosesi turunnya Nabi Isa As di Suriah yang kemudian akan mengalahkan Dajjal.

Timur Tengah memang penuh fitnah. Namun bukan berarti segalanya yang disana adalah tentang keburukan. Sebab, jika tidak maka Rasulullah Saw tidak akan memuji Syam sebagai negeri yang diberkahi. Itu sebab, sekali lagi, falsafah Tawasuth dan adil dalam memandang Timur Tengah adalah suatu yang niscaya.

Hari ini, kita menghadapi fitnah besar dalam cara kita memandang konflik di Syam dan khususnya terhadap umat Islam di sana. Konflik akhir zaman di Timur Tengah, meskipun ini sudah dikabarkan Rasulullah Saw di masa hidupnya, namun sepatutnya menjadi bahan renungan bagi kita tentang dimana posisinya kita seharusnya, bagaimana kita melihat umat Islam yang terzalimi di sana secara adil, dan bagaimana posisi kita di hadapan sekelompok umat yang ekstrim kanan dan ekstrim kiri sebagaimana yang dijelaskan di atas. Pada akhirnya, harapan kita, posisi kita adalah tetap di jalan tengah (al-washt) antara kedua kelompok ekstrim kiri dan kanan tersebut.

Artinya, kita tetap menolak ekstrim kanan dan juga sekaligus ekstrim kiri secara seimbang, sebagai bagian dari upaya mencegah terjadinya model konflik sektarian di sana di negera kita. Pun pada saat yang sama, mau tidak mau, umat Islam yang terzalimi di sana – di Suriah sebagai negeri Ahlusunnah yang telah dirampas Syi’ah dan sekutunya sebagai representasi ekstrim kiri, serta diobrak-abrik ISIS sebagai ekstrim kanan dan mereka yang menciptakannya – maka mau tidak mau kita harus jujur memandang umat Islam di sana adalah saudara kita, bahwa kita harus mendo’akan mereka karena mereka adalah saudara kita.

Mereka menjadi korban dari segala kebuasan, dari ekstrim kanan dan ekstrim kiri di satu sisi, serta para musuh Islam dari luar di sisi lainnya. Bahwa setiap kelompok yang telah membunuh nyawa manusia yang diharamkan darahnya oleh Islam maka ia adalah musuh umat Islam dan peradaban. Baik rezim Bassar Assad dan sekutunya, maupun ISIS dan para penyokongnya. Tidak ada istilah bagi kita untuk mendukung ekstrim kanan maupun ekstrim kiri.

Dan kondisi seperti ini, persis seperti diterangkan Nabi Muhammad Saw bahwa kondisi umat Islam di akhir zaman adalah persis seperti makanan di atas meja hidangan. Yang dari Barat mau menerkam, yang dari Timur mau menerjang, yang dari Selatan mau menginjak-injak, dan yang utara pun ikut menjajah. Suatu kondisi yang muncul karena penyakit Wahan (takut mati) yang mendera umat Islam.

Alangkah sedih dan pilunya hati kita, jika umat Islam yang terzalimi di sana tidak lagi menjadi perhatian kita – dimana kita telah terjebak pada isu Bassar Assad yang Syi’ah dan ISIS yag Wahabi, sehingga terlupakan oleh kita umat Islam yang terzalimi oleh kedua kelompok ini. Bahwa jika bukan ISIS maka Syi’ah, dan jika bukan Syi’ah maka Wahabi-ISIS yang ujung-ujungnya kita dihadapkan pada pertanyaan tersirat, “Kamu dukung ISIS atau dukung Bassar Assad-Syi’ah?”. Sungguh polarisasi pemikiran yang menghancurkan, fitnah yang membahayakan yang hanya Yahudi saja yang terbiasa memainkan polarisasi seperti ini sehingga sungguh tidak sepatutnya ada muslim yang menciplak model-model penggiringan seperti ini.

Sikap Tawasuth dan adil adalah nyawa dari cara pandang Islam dalam melihat berbagai persoalan sehingga Islam tetaplah selalu menjadi solusi atas berbagai persoalan kemanusiaan. Falsafah Tawasuth dalam memandang berbagai persoslan ini – termasuk dalam memandang konflik di Syam –meskipun  tidak jarang dianggap aneh oleh sebagian kecil kalangan umat Islam sendiri oleh sebab polarisasi yang begitu kuat tersebut – namun ianya merupakan jalan asing dan sunyi yang mesti dilalui.

Dan dalam melewati jalan tawasuth yang sunyi dan asing ini, sikap ini akan sulit dipahami oleh sebagian kecil orang  yang terbiasa dalam prasangka. Namun, mungkin akan bisa dipahami oleh kebanyakan umat Islam yang rendah hati dan mudah berbaik sangka. []

KOMENTAR FACEBOOK