Sikap Tawassuth Kita Antara Ramzan Kadirov dan Erdogan

Oleh: Teuku Zulkhairi

Salah satu persoalan besar umat Islam di akhir zaman adalah bagaimana memisahkan antara kebathilan dan kebenaran. Jika merujuk pada konsepsi Islam mungkin mudah membedakan antara keduanya karena memang garisnya sangat berbeda. Namun masalahnya adalah saat konsepsi Islam berusaha dipahami muslim lewat perwujudan para rijal (tokoh-tokoh)nya, baik sikap maupun pemikirannya. Hal ini akan terjadi saat di antara tokoh itu terjadi silang pendapat.

Pertanyaan mendasar yang mungkin sering muncul adalah, siapa yang paling sesuai dengan Islam dan harapan kaum muslimin ketika ada dua tokoh Islam saling berseberangan dalam satu persoalan umat Islam? Tentu tidak mudah menjawab pertanyaan ini. Dan memang, peristiwa seperti ini telah terjadi sejak awal Islam dan terus berlanjut hingga saat ini. Hanya ibrah yang bisa kita ambil dari setiap peristiwa sejarah yang merekam catatan seperti ini.

Dua tokoh ini, Ramzan Kadirov dan Erdogan sama-sama telah berbuat untuk Islam. Sama-sama dekat dengan ulama. Kadirov muncul menjadi figur umat Islam sedunia karena sebagai Presiden Checnya ianya dekat dengan ulama Ahlusunnah wal jama’ah dan terlihat ia juga mengikuti amalan-amalan orang-orang shalih. Sebaliknya, Erdogan juga demikian. Berasal dari latar belakang Jamaah Tariqat Iskandar Pasya yang Naqsyabandi, serta pernah belajar di Pesantren Sulaimaniyah (yang memiliki kurikulum yang sama dengan dayah di Aceh).

Erdogan juga dikenal sebagai muazzin Istanbul yang berhasil menaklukkan sekulerisme Turki. Erdogan perlahan juga kembali memberi angin segar bagi umat Islam di Turki dalam menjalakan praktek agama yang diyakini umat Islam. Dan yang paling heboh adalah visi Erdogan untuk menjadikan Turki 2023 sebagai negara besar di Eropa, tepat 100 tahun pasca keruntuhan Kekhalifahan Islam terakhir, Turki Usmani. Suatu cita-cita yang wajar terus dicurigai Barat sebagai upaya Turki menuju New Ottoman.

Lalu, persoalan muncul saat Turki menembak Pesawat Rusia yang telah sering kali melanggar wilayah udara Turki serta telah diperingatkan berkali-kali. Di sini, Ramzan Kadirov menunjukkan loyalitasnya kepada Putin, Presiden Rusia, hingga kemudian Ramzan mengikuti Putin yang menyerang Erdogan. Ramzan menyerang Erdogan karena melihat Putin serius memerangi ISIS di Suriah.

Sementara pihak Turki menembak pesawat Rusia dengan alasan telah melanggar wilayah udaranya yang diakui internasional. Lebih dari itu, Erdogan dan pihak Turki – sebagai negara yang paling banyak menampung pengungsi Suriah – juga menuduh Rusia membunuh warga sipil dan menyerang Oposisi Suriah yang bukan ISIS. ISIS seperti diketahui, adalah bentukan Israel dan Amerika (sesuai pengakuan Hillary Clinton) dan dalam operasinya lebih banyak menargetkkan oposisi Suriah dan membunuh umat Islam yang berbeda dengan mereka ketimbang memerangi rezim Bassar Assad, sesuatu yang kemudian dibuktikan inteljen Turki bahwa ISIS bekerjasama dengan rezim Bassar Assad.

Berikutnya, akibat keberanian Turki membela wilayah udaranya dari penghinaan pesawat Rusia, Erdogan dan Turki pun diserang berbagai media massa. Salah satu serangannya adalah dengan mengaitkan antara Erdogan dengan ISIS, suatu tuduhan yang mudah terbaca sekiranya posisi ISIS sebagai bentukan Barat untuk merusak Islam telah kita pahami secara baik. Barat tidak mudah memerangi umat Islam, kecuali jika telah ada sebagian umat Islam lain yang mendukung mereka (Barat).

Maka mengaitkan ISIS dengan Erdogan – dengan dukungan media massa –niscaya akan mendatangkan keuntungan bagi pihak yang ingin memerangi umat Islam karena upaya mereka untuk menghentikan kebangkitan Turki dan Islamnya akan mendatangkan dukungan dari sebagian muslim.

Kadirov, Erdodan dan Jaringan Kejahatan
Di satu sisi dan dari sudut pandang strategi politik, keterkaitan Ramzan Kadirov dan Erdogan dengan plot kejahatan internasional sesungguhnya tidak bisa dihindari dalam dunia yang hari ini – semenjak perang dunia ke II – dikendalikan oleh tirani kapitalis dan ideology Yahudi.

Ramzan Kadyrov dekat dengan Rusia karena memang Checnya merupakan bagian dari Rusia. Dan oleh sebab itu, “wajar” Ramzan mendukung Rusia dalam konflik Putin dengan Erdogan-Turki. Dan Rusia adalah negara yang juga sudah membunuh banyak umat Islam, baik di Checnya, Afghanistan, Degestan, Crimea dan sebagainya. Sementara itu, Turki – Erdogan adalah anggota NATO dimana Turki merupakan negara dengan militer terkuat kedua dalam NATO. Sementara itu, dunia memahami bahwa NATO adalah juga pembunuh umat Islam di berbagai negara sampai saat ini.

Jadi, antara NATO yang mendukung Turki dan Rusia yang didukung Ramzan Kadirov, tidak diragukan lagi adalah sama-sama memiliki catatan kejahatan terhadap umat Islam. Namun, sedikit perbedaan, bahwa posisi Turki yang tetap menjadi anggota NATO di era Erdogan tidak sama dengan sejarah kelam NATO itu sendiri. Artinya, kejahatan NATO tidak bisa dilimpahkan kepada Turki era Erdogan, khususnya apabila kita melihat keseriusan Erdogan dalam membela umat Islam dewasa ini.

Lalu, bagaimana kita memahami sikap Kadirov dan Erdogan dalam isu hubungan Rusia – Turki dan hubungan keduanya dengan masing-masing plot kejahatan, yakni hubungan Ramzan – Rusia dan hubungan Turki-Erdogan dengan NATO? Mau tidak mau, kita harus memahami upaya keduanya ini sebagai “ijtihad” politik untuk melindungi umat Islam. Ini barangkali salah satu sikap yang bisa kita perankan sebagai muslim. Ramzan Kadyrov dekat dengan Rusia karena ianya ingin melindungi muslim di Checnya.

Sementara Erdogan yang tetap bersama NATO kita anggap ini sebagai strategi politik Turki yang ingin mendikte NATO agar tidak terus menumpahkan darah umat Islam, sesuatu yang mungkin saja terwujud jika Turki bisa menjadi yang paling kuat di NATO. Lebih dari itu, posisi Turki sebagai anggota NATO juga kita anggap bisa memberi sedikit keuntungan dalam konteks pertarungan Blok NATO versus Rusia. Sebagai bagian dari NATO, Rusia tidak akan berani menyerang Turki yang di sana Islam sedang bangkit. Begitu juga sebaliknya, NATO tidak akan berani serang umat Islam di wilayah Rusia.

Lalu, apa sikap kita di tengah terjadinya silang pendapat Ramzan dan Erdogan (Erdogan sebenarnya belum pernah merespon statmen Ramzan) terkait dalam konflik Suriah, khususnya terkait ISIS?. Ramzan Kadyrov diketahui sangat anti ISIS dalam statemen-statemennya sembari menuduh Erdogan pro ISIS karena Turki menembak pesawat Rusia yang disebut Turki telah berperan dalam membumi hanguskan Suriah.

Sementara itu, Erdogan konsisten mendukung oposisi Suriah dalam menjatuhkan rezim Bassar Assad yang telah membunuh banyak warganya sendiri serta menyebabkan Turki harus menampung jutaan pengungsi Suriah yang lari dari kebiadaban rezim Bassar Assad dan ISIS. Di sini, barangkali kita kembali ke persoalan al-wala wal bara’ sebagai muslim, “kepada siapa kita loyal dan siapa yang kita ingkari” saat upaya kebangkitan Islam di Turki dibawah kepemimpinan Erdogan dikaitkan dengan ISIS.

Media massa pro Rusia dan zionis tiada henti mengaitkan Erdogan dengan ISIS, karena mereka paham strategi ini bisa menjadi politik pecah belah (devide et empera) sikap dan suara umat Islam, sesuatu yang akan memudahkan mereka menjalankan agenda-agenda berikutnya. Namun, alangkah ruginya jika kita tidak mau mendengar keterangan Erdogan, bahwa dalam setiap pidatonya ia konsisten menyerang ISIS, sekaligus juga menyerang Barat yang telah menciptakan ISIS dan menyerang rezim Bassar Assad yang telah membunuh banyak warganya.

Sekarang kembali ke pribadi kita masing-masing, ketika datang dua informasi yang berbeda, satu informasi berasal dari media massa pro Yahudi dan Rusia yang menuduh Erdogan pro ISIS sehingga seakan membenarkan bahwa Turki yang sedang bangkit Islamnya adalah layak dibenci, lalu informasi berikutnya berasal dari Erdogan sendiri dimana ia adalah seorang Muslim yang rajin membaca Alqur’an, istrinya dan anak perempuannya berjelbab (sebagai bukti ia sukses mendidik keluarga), ia shalat sehari semalam lima waktu, lalu siapakah yang mestinya kita dengar? Erdogan atau media massa pro Rusia dan Barat? Inilah jalan tawassuth yang asing dan sunyi. []

KOMENTAR FACEBOOK