Bahasa Guru Kita

Ada yang bilang, di dunia ini ada 2.700 bahasa yang digunakan di dunia, dengan 7.000 lebih dialek. Ada juga yang bilang 6.912 bahasa.

Berdasarkan data yang dihimpun oleh organisasi The Ethnologue jumlah bahasa yang telah terdaftar di dunia ini sekitar 6.909 bahasa, dengan pembagian: Africa (2.110 bahasa), America (993 bahasa), Asia (2.322 bahasa), Australia/Pacific (1.250 bahasa), dan Eropa (234 bahasa).

Kabarnya, Indonesia sendiri memiliki lebih dari 746 bahasa daerah, atau 640 bahasa menurut versi Unesco, dengan 50 bahasa daerah di Indonesia pernah dinyatakan terancam punah, sedangkan 13 atau 14 bahasa daerah sudah dinyatakan punah.

Anies Baswedan di Kongres Peradaban Aceh yang berlangsung di Unsyiah, 9/12/2015 mengatakan di Aceh sendiri terdapat 13 bahasa daerah, dan salah satu bahasa yang masih banyak penutur hingga kini adalah bahasa Aceh.

Sementara itu ada ungkapan bahasa menunjukkan bangsa. Ungkapan yang populer ini menyatakan betapa pentingnya bahasa dalam mencerminkan identitas diri suatu bangsa.

Pertanyaannya, bagaimana gambaran identitas bangsa Aceh jika dilihat dari ungkapan-ungkapan kasar yang digunakan oleh orang yang menggunakan bahasa, khususnya bahasa Aceh?

Sebelumnya harus dimengerti ungkapan kasar bukan hanya milik orang Aceh. Di dunia ini, ada banyak bangsa yang memiliki ungkapan kasar.

Dari informasi yang dikutip dari List Verse, setidaknya ada lima negara yang memiliki ungkapan kasar sebagai ekpresi kemarahan atau ketidaksukaan terhadap suatu hal.

Di Cina misalnya ada ungkapan Wang Ba Dan. Ungkapan dari bahasa Cina Kuno ini secara harfiah diartikan sebagai “telur penyu”. Ini ungkapan kasar karena menganalogikan bahwa seseorang tidak kenal siapa bapak kandungnya alias anak haram. Asal tahu saja penyu cina diketahui memiliki reputasi sebagai betina yang gemar bersetubuh dengan siapa saja.

Du Kannst Diesen Scheiszdreck Hinter Den Ohren Schmieren. Ini ungkapan asal Bavaria yang pernah diungkapkan striker Jerman, Thomas Muller, seusai perlehatan Piala Dunia 2014 di Brasil. Artinya kurang lebih “kamu bisa coreng kotoran di belakang kupingmu”. Ini merupakan kalimat hinaan di Jerman.

Di Rusia ada ungkapan Mat. Kata singkat “mat” biasa digunakan oleh para pekerja kasar Rusia sebagai ekspresi penghinaan. Kata ini berarti “keset untuk membersihkan kaki”. Sesuai fungsinya, orang yang dihina dengan kalimat ini berarti ia yang mengambil semua kotoran.

Malakas adalah kata untuk mengekspresikan rasa jijik pada kebodohan seseorang. Kata ini biasanya diikuti dengan gerak tubuh telapak tangan yang terbuka lebar. Ini artinya memberi tahu sifat bodoh si “malaka” langsung di depan wajahnya.

Di Spanyol ada ungkapan Me Cago En La Leche Que Mamaste. Ini unkapan atau kalimat menghina karena di dalamnya tersertakan ibu seseorang. Tapi inilah ungkapan kasar yang digunakan dalam Bahasa Spanyol. Arti terjemahannya, “Saya (maaf) buang air di ASI yang kamu minum”. Ini berasal dari pemahaman bahwa ASI yang diminum seseorang akan mendefinisikan sifatnya. Maka seseorang yang bersifat buruk, meminum ASI yang buruk juga.

Lantas, bagaimana bila seorang yang dihormati misalnya guru kita semua menggunakan ungkapan atau kalimat kasar, seperti ungkapan bui-bui paleh, ek boh dan pokoema? Ada ragam kemungkinan.

Pertama, ungkapan itu sepenuhnya ekpresi ketidaksukaan pada satu hal atau pada apa yang sudah pernah dialaminya, atau pada orang yang pernah berbeda dengannya. Makin parah ungkapan yang dipakai itu bertanda makin ia tidak menyukai hal tersebut. Hal yang ingin dicapai dari ungkapan itu adalah agar orang lain tidak mengikuti jejak atau tidak mendekati apalagi bersekutu dengan yang dibenci.

Bui, misalnya. Ini ungkapan paling berhasil untuk mempengaruhi psikologi orang Aceh. Jika ada orang Aceh yang terlanjur makan daging babi, meski kata orang banyak daging bagi itu enak tetap saja orang Aceh akan muntah bila yang dia makan adalah daging babi.

Kedua, ada kemungkinan kalimat atau ungkapan yang dipakai sebagai upaya menyamakan frekuensi komunikasi dengan audiennya. Ungkapan yang ada sesungguhnya bukan menjadi milik sah kesehariannya, melainkan milik umum yang kerap dipakai oleh audiennya. Jadi, yang menggunakan ungkapan itu, mungkin semata untuk diterima agar pada saatnya bisa mengajak ke penggunaaan bahasa yang lebih santun dan bermartabat.

Tapi, apapun motifnya kita setuju, bahasa menunjukkan jati diri bangsa. Agama sendiri mendorong kita untuk berkomunikasi dengan lebih baik. Bahkan, berdebat dengan orang atau kaum yang bertentanganpun dianjurkan untuk dilakukan dengan lebih baik. Mengapa? Hanya kebaikan yang akan menghasilkan kebaikan. Ungkapan Acehnya: “kuah boh panah hanjeut meujampu ngoen sie bui.” []

images (2)

Dari berbagai sumber

KOMENTAR FACEBOOK