Penulis Pidato untuk Wali

Oleh: Bung Alkaf

Seberapa pentingnya seorang penulis pidato? Cerita tentang betapa kalutnya Sukarno karena
Nyoto belum juga kembali ke tanah air dari Moskwa, padahal peringatan Hari Kemerdekaan tinggal sepekan lagi, sudah cukup untuk menunjukkan betapa pentingnya peran dari penulis pidato itu.

Nyoto adalah penulis pidato kesayangan Sukarno. Yang telah membantu presiden untuk menulis setiap pidatonya yang memikat itu sejak kekuasaan Sukarno meningkat di tahun 60-an. Kisah tentang Nyoto sebagai penulis pidato Sukarno tersebut dapat dibaca dalam Seri Buku TEMPO: Orang Kiri di Indonesia (2010)

Padahal siapa Sukarno dalam perkara pidato? Jawabannya, dia adalah pemilik panggung yang sebenar-benarnya. Setiap dia berpidato, waktu seperti berhenti. Semua tercekat, seperti masuk kedalam setiap alunan suaranya.

Bahkan Comtom (1993) dalam bukunya yang sudah menjadi klasik, Kemelut Demokrasi Liberal: Surat-surat Rahasia Boyd R. Comtom, mengambarkan dengan sangat baik bagaimana cara Sukarno berpidato, yang menurutnya, “…adalah seorang dari segelintir kecil dari orator yang langka dan nyaris menyihir, yang sanggup membuat massa menangis, geram, atau melonjak girang dengn gerak tubuh dan suara riuh’.

Tokh sedemikian, Sukarno juga masih juga memerlukan orang untuk menuliskan pidato-pidatonya.

Berpindah ke Suharto, presiden yang paling berkuasa di negara ini, memerlukan Yusril Ihza Mahendra untuk menyusun pidato yang hendak dia sampaikan dalam setiap kesempatan. Bahkan bila diingat, sangat jarang Suharto berpidato tanpa teks.

Dalam sebuah keterangannya, Yusril menjelaskan bahwa dia menulis pidato Suharto, sejak 1994-1998, dalam berbagai topik. Oleh karena sedemikian penting tugas itu, maka kemudian dia, seperti pengakuannya, harus berfikir sebagaimana presiden berfikir. Bahkan sampai harus belajar tentang kebudayaan Jawa — padahal Yusril orang Sumatera.

***

Saya pertama kali mendengar Malik Mahmud berpidato, dalam posisinya sebagai Perdana Menteri GAM, tanggal 15 Agustus 2005, pada saat penandatangan kesepakatan damai di Helsinki. Wakil dari Pemerintah Indonesia saat itu adalah Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin, yang juga ikut menyampaikan pidato.

Yang menjadi kesan dari pidato itu; pertama, disampaikan dalam suasana bahagia bagi semua pihak, karena yang telah lama berperang, akhirnya berjabat tangan. Kedua, pidato itu disampaikan dalam bahasa Inggris, memperlihatkan bahwa Malik Mahmud lebih unggul dari Hamid Awaluddin.

Hamid, yang berpidato berapi-api dan berasap-asap, menggunakan Makassar accent. Sedangkan Malik Mahmud, yang berpidato dengan tenang, calm dan penuh dedikasi, tampil dengan aksen yang lebih baik, hampir mirip native speaker.

Pengalaman kedua saya mendengar pidato Malik Mahmud, kali ini dalam posisinya sebagai Wali Nanggroe Aceh, pada acara pembukaan raker Majelis Adat Aceh. Hadir sebagai keynote speaker¸ Malik Mahmud gagal membangun kesan mendalam bagi saya, seperti pidatonya 10 tahun yang lalu.

Selama Malik Mahmud berpidato, saya berfikir keras mengapa dia kehilangan pesonanya itu. Mengapa dia gagal mendapatkan rindu dendam dari yang mendengarkan setiap patahan kata dan kalimatnya itu. Maka jawabannya segera ditemukan; Wali Nanggroe tidak memiliki penulis pidato dalam makna sesungguhnya. Yaitu penulis pidato selayaknya Nyoto untuk Sukarno, dan Yusril untuk Suharto. Padahal dia layak untuk itu, karena Malik Mahmud adalah Wali Nanggroe Aceh.

Sebab menurut saya, gagasan utama yang hendak disampaikan oleh Wali Nanggroe dalam setiap kesempatan adalah baik, termasuk dalam pidatonya di acara raker MAA tersebut, yang menekankan tentang pentingnya posisi adat dan budaya bagi kehidupan masyarakat Aceh.

Namun masalahnya, pidatonya itu tidak dirangkai dengan baik. Tentu ini bukan pekerjaan Wali Nanggroe. Masak Wali Nanggroe harus urus sampai ke perkara menuliskan pidatonya. Cukup Daoed Joesoef saja, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Suharto, yang meminta mesik ketik untuk menulis pidatonya sendiri. Menulis pidato yang baik dan mempesona adalah tugas para pembantu Wali Nanggroe yang jumlahnya sampai berbaris-baris itu.

Akan tetapi bukan berarti, Wali Nanggroe hanya menjadi tukang baca saja. Dia-lah yang memberikan gagasan utama dari setiap pidato yang hendak dibacakan, baik tentang adat, budaya, politik, ekonomi, sejarah, kemanusiaan, agama dan sebagainya. Lalu, para penulis pidatonya bertugas untuk menyusun supaya setiap pidato Wali Nanggroe lebih sistematis, menarik dan informatif. Oleh karena itu, Khatibul Wali, sebagai pelayan segala kebutuhan Wali Nanggroe, segera berbenah-lah dengan menyediakan penulis pidato yang handal.

Sebab ini perkara penting dalam hubungannya dengan kewibawaan lembaga yang telah diamanahkan dalam UU-PA. Apalagi dengan kenyataan bahwa belum berjalannya Lembaga Wali Nanggroe dalam memayungi adat di Aceh secara maksimal, maka hal yang dapat dilakukan oleh Mahmud adalah berpidato dengan baik. Bergerak untuk menyampaikan setiap gagasannya ke seluruh penjuru Aceh; dari Pesisir Timur, lalu naik ke Aceh bagian tengah, kemudian bergegas ke pantai Barat-Selatan.

Saya membayangkan setiap kali Malik Mahmud berpidato, semua orang tercekat sampai teudong nafah. Lalu, setelah selesai dia berpidato, maka orang-orang mulai membahas dalam setiap kesempatan. Kemudian, pidatonya menjadi dasar pemikiran setiap kebijakan yang diambil oleh eksekutif dan legislatif. Bahkan, ini yang lebih dahsyat, pidato-pidatonya menjadi bahan kajian di setiap perguruan tinggi di Aceh. Akibat baiknya dari semua itu, setiap orang akhinya, menunggu pidato-pidato Wali Nanggroe berikutnya.[]

Kolumnis aceHTrend yang kini berkhitmad di Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy, lalu setiap minggu-nya rutin menulis tema sejarah dan politik di www.bung-alkaf.com.

KOMENTAR FACEBOOK