Resensi Buku Formasi Nalar Aceh

Buku Formasi Nalar Aceh oleh Zulfata

Judul Buku : Formasi Nalar Aceh
Penulis : Zulfata
Penerbit : Sepercenter
Cetakan : Pertama
Tahun terbit : 2015
Tebal Buku : xviii + 227

Isi Buku:
Aceh merupakan daerah yang banyak disinggahi oleh berbagai etnis di penjuru dunia, mulai dari penjuru barat maupun timur. Wilayah Aceh jauh terbentang dari sisi barat dimulai dari daerah Singkil hingga ke ujung pulau Sumatera yakni daerah Sabang. Fakta sosial yang telah banyak terekam dalam peradaban Aceh menciptakan perbincangan baru dalam memahami realitas peradaban tersebut, yang dianalisa sesuai dengan pendekatan masing-masing perspektif akademisi dan peneliti. Proses penelitian yang sering ditelusuri dimulai dari awal perkembangan peradaban Aceh dan tentang hal ini sangat banyak tulisan-tulisan baik dalam bentuk jurnal, artikel, maupun majalah yang muncul dari proses penganalisaan spasial temporal yang dilahirkan dari rahimnya peradaban Aceh.

Formasi nalar Aceh merupakan istilah yang mencoba untuk mendiskusikan proses pembentukan nalar yang berkembang pada masyarakat Aceh dari dulu hingga sekarang dalam pendekatan sosio-filosofis dengan mengangkat isu-isu yang telah berkembang di Aceh. Zulfata S.Ud, kini telah menyajikan sebuah terobosan terbaru dalam sebuah karya ilmiahnya pada tahun 2015 dalam bentuk buku yang mengunggkapkan masalah nalar dari masyarakat Aceh yang beranjak dari era kerajaan hingga sekarang.

Zulfata dalam bukunya membincangkan tentang masyarakat Aceh dari segi formasi nalar yang dijelaskan secara filosofis mulai dari Aceh masa kerajaan, penjajahan hingga masa kontemporer. Yang mana Zulfata terinspirasi oleh tulisan seorang tokoh yang berasal dari Maroko yang bernama Muhammad Abed Al-jabiri dalam bukunya Formasi Nalar Arab. Disini Zulfata ingin menilik masyarakat Aceh mengenai sejauh mana formasi nalarnya mulai dari masa dulu hingga sekarang.

Menganalisa wacana kebudayaan dan wacana peradaban sejatinya adalah dua hal yang berbeda untuk dipertahankan, karena kebudayaan sering diartikan sebagai suatu usaha dalam mewujudkan atau mengimplementasikan akal budi yang berpotensi dalam diri manusia, sehingga berbeda dengan makna peradaban, yang selalu diidentikkan dengan proses akhir dari implementasi suatu kebudayaan.

Proses dinamika antara kebudayaan dan peradaan akan menciptakan proses pembentukan nalar yang berkembang di daerah tempat pembedahan wahana kebudayaan. Dalam hal ini dikhususkan untuk membedah formasi nalar Aceh dengan objek kajiannya perkembangan sosial keagamaan dan kebudayaan yang berkembang. Sosial keagamaan dan kebudayaan Aceh terdapat kecenderungan senasib dengan kebudayaan melayu di Asia Tenggara, yakni mengalami proses kemajemukan yang berasal dari kebudayaan-kebudayaan lainnya, seperti kebudayaan Persia, Arab Saudi, Hindy, Cina, Thionghoa, dan Pakistan yang secara langsung diasimilisasi oleh ajaran-ajaran keagamaan, penjajahan, perekonomian, dan hubungan kekeluargaan secara turun-temurun, sehingga proses mobilisasi tersebut mengkristal menjadi sebuah batu kebudayaan yang utuh dalam pemikiran masyarakat.

Pertumbuhan dan perkembangan masyarakat Aceh terindikasi mengalami kemunduran kemapanan keilmuan secara pasif, hal ini tampak dari gejala-gejala masyarakat Aceh dalam melakoni aktifitas keagamaan, sosial, ekonomi, politik dan kesehatan yang semakin hari semakin memprihatinkan. Misalnya gejala agama, terindikasi bahwa belum adanya seorang ulama yang tampil sekaliber Hamzah Fansuri dan Abudrrrauf As-Singkili, justru secara dukungan infrastruktur lebih berkembang dari masa Hamzah Fansuri dan kemitraannya.

Zulfata melihat tentang deskripsi sosial keagaman diatas jika dianalogikan secara ideal justru tidak relevan, karena semestinya masyarakat dan ulama-ulama Aceh sekarang harus mampu melebihi kapasitas ilmu pengetahuan dari seorang Hamzah Fansuri beserta ulama-ulama Aceh pada masanya, dengan dalih bahwa ulama sekarang sangat dimudahkan oleh potensi dukungan materi yang boleh dikatakan serba ada, namun kenyataan pahit harus diakui bahwa pada abad ini, Aceh terindikasi gagal dalam mengkaderisasi ulama sekaliber Hamzah Fansuri, walupun saat ini banyak dipenuhi oleh hiasan materi yang serba dilengkapi, bukan perlengkapan materi tersebut pada masa Hamzah Fansuri dan koleganya mustahil untuk didapatkan.

Zulfata juga melihat sisi kemisteriusan dalam tubuh Aceh sendiri. Maksudnya dibalik kesuksesan yang ditoreskan oleh sejarah Aceh terdapat sebab pembentuk sejarah kesuksesan tersebut yang belum terungkap secara universal yakni menelusuri misteri causalitas kerangka nalar Aceh itu sendiri. Dengan demikian objek-objek dalam pembahasan ini dilakukan melalui pendekatan pemikiran (filsafat nalar).

Dapat dianalogikan bahwa sejarah Aceh ibarat sebuah rumah mewah berukuran besar yang sedang dipandang oleh para peneliti atau penulis, sehingga para penulis atau peneliti tersebut ada yang cenderung fokus mendeskripsikan keadaan atas “rumah mewah yang besar” tersebut dan ada pula yang fokus memahami keadaan dinding rumah tersebut, dan begitu juga halnya dengan peneliti yang mereka pahami sesuai dengan kebutuhan dan tujuannya dalam menginterpretasikan “rumah mewah yang besar” tersebut.

Wacana formasi nalar Aceh senantiasa dapat menumbuhkan jiwa-jiwa kritis kepada generasi Aceh dalam menganalisa sejarah perkembangan Aceh, sehingga dapat membedakan mana sejarah yang diproduksi oleh masyarakat Aceh secara alami. Eksis dan tidak eksisnya suatu sejarah sangat ditentukan oleh dua unsur, yang pertama adalah unsur politik dan kedua adalah unsur aktivitas masyarakat. Unsur suatu politik itu ditentukan dari kausalitas politik yang dikembangkan menurut siapa penguasanya jika penguasanya baik, maka yang diisukan juga akan baik, jika sebaliknya, maka perkembangan polotiknya porak poranda maka tidak heran jika sejarah lokal menjadi tameng untuk menutup kemunafikan para oknum penguasa. Seperti pernyataan presiden Soekarno yang berbunyi “jangan lupakan sejarah jas merah negara ini”.

Perlu diperhatikan bahwa keberadaan kebudayaan di Aceh secara posterori sulit untuk dipublikasikan, namun kebudayaan Aceh secara aposteriori mudah untuk dipublikasikan oleh masyarakat Aceh dengan alasan pendekatan ini sangat berimplikasi pada dampak sosial di Aceh. Misalnya, Syeikh Abdurrauf As-Singkili yang menggemari syair yang terbukti dalam karyanya yang judul syairnya Syair Perahu. Sehingga syair beliau digemari oleh masyarakat Aceh bukan hanya itu sastra dalam bentuk hikayat-hikayat sangat mudah dipahami oleh masyarakat Aceh, karena masyarakat Aceh mudah terindikasi oleh vocal terhadap hal yang berbau syair dan hikayat.

Zulfata membagi masyarakat Aceh ditinjau secara umum dari segi filsafat keagamaan maka dapat diklarifikasikan sebagai berikut: pertama, masyarakat pantulan, artinya masyarakat yag ta’at dan patuh terhadap perkembangan isu-isu yang diciptakan publik tanpa mengalisa nilai-nilai yang terdapat dalam perkembangan isu tersebut. Kedua, masyarakat pragmatis, yaitu masyarakat yang secara tidak langsung telah mengadopsi pemikiran pragmatis yang terkenal denggan kemahirannya dalam memperoleh azas-azas praktis atau hal yang menguntugkan bag dirinya. Ketiga, masyarakat religius-anarkis, tipe masyarakat seperti ini cenderung memahami nilai-nilai keislaman secara terbatas sehingga sering memberikan kalim-klaim yang dapat memicu bahan baku konflik di lingkunga sosial. Keempat, masyarakat akademis-statis, yaitu masyarakat yang benar adanya dalam aktivitas sosial di Aceh, masyarakat tipe ini masyarakat yang terdidik secara sistematis melalui pendidikan yang mereka dalami. Kelima, masyarakat teladan yaitu masyarakat yang mampu menyesuaikan keseimbangan dan ketimpangan keagamaan, budaya, ekonomi, politik dan pendidikan.

Perkembangan politik di Aceh terdeteksi pernah bersifat integratif, dan itu merupakan sebuah kebanggaan sekaligus menjadi tantangan bagi generasi Aceh untuk dapat mengulang kembali paradigma berfikir yang bersifat integratif tersebut.

Zulfata menggambarkan faktor-faktor yang mendukung formasi nalar Aceh yaitu sebagai berikut: pertama, faktor Sufistik. Telah menjadi fakta sosial bahwa tulisan-tulisan yang muncul pada masa Hamzah Fansuri cenderung sedikit bericara tentang filsafat penalaran. Paradigma aktivitas keagamaan di Aceh ketika perkembangan tasawuf pernah disinggung oleh Ar-Raniry. Beliau memiliki sisi perbedaan metodelogi dalam memahami ilmu tasawuf. Ar-Raniry berpaham wahdatul syuhud (kesaksian) sedangkan Hamzah Fansuri berpaham wahdatul wujud (kesatuan). Kedua, faktor kerajaan. Secara normatif sejarah kepemimpinan kerajaan di Aceh telah cukup baik dalam memenuhi aspirasi dan harapan masyarakat, namun dibalik sejarah yang bersifat normatif tersebut terdapat bom waktu yang buruk terhadap sejarah perkembangan pendidikan politik di Aceh, sehingga ketimpangan politik tersebut sangat mempengaruhi pembentukan nalar Aceh yang tumbuh di waktu itu. Ketiga, faktor kemerdekaan Republik Indonesia. tidak dapat dipungkiri bahwa mayarakat Aceh sadar bahwa mereka telah mampu mengusir penjajahan di wilayah ujung barat pulau di Sumatera, Aceh dalam catatan sejarah Indonesia adalah daerah yang palig utama dalam memotivasi proses perkembangan pasca kemerdekaan Indonesia, hal ini terbukti dengan sumbangan dua buah unit pesawat yang disumbangkan dari hasil jerih payah masyarakat Aceh, sehingga kedua pesawat tersebut dinamakan Pesawat Dakota-RI 001 dan Pesawat Selawah. Keempat, faktor pemberlakuan syari’at Islam. Legalitas kebijakan khusus di Aceh tercatat dalam sejarah Negara Republik Indonesia dimulai sejak dimulai pemberlakuan TAP MPR Nomor IV/MPR/1999 dan TAP MPR Nomor IV/MPR/2000, seiring itu pula daerah diberikan otonomi khusus yang dicantumkan kedalam Undang-undang nomor 18 tahun 2001 tentang otonomi khusus Daerah Istimewa Aceh sebagi propinsi Nanggroe Aceh Darussalam, serta didukung oleh UU Nomor 11 Tahun 2006 pasca MoU Helsinki, daerah Aceh diberi kewenangan dalam mengatur berokrasinya yang tidak bertentangan dengan nilai-nilai Negara Kesatuan Republik Indonesi (NKRI).

Diskursus tentang integritas ilmu pengetahuan di Indoenesia dewasa ini telah banyak menggoda perhatian para akademisi di berbagai perguruan tinggi, baik itu perguruang tinggi swasta maupun negeri, fakta tersebut secra tidak langsung ingin menyampaikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan yang harus dipahami rakyat Indonesia harus bersifat integral, yakni masyarakat akademisi khususnya tidak hanya dituntut untuk memahami disiplin ilmunya masing-masing melainkan harus mengetahui kajian-kajian di luar disiplin ilmu yang dijalaninya.

Implikasi sosial yang sumber dari proyek integrasi ilmu penegtahuan, pada tahapan prosenya telah menuai tanggapan-tanggapan positif bagi masyarakat Indonesia secara umum dan bagi khalayak akademisi khususnya, sehingga wacana ini terus dikembangkan, diinovasikan demi mencapai kecerdasan yang bersifat universal dalam catatan sejarah pemikiran di Indonesia.

Aceh dalam toresan sejarahnya terdapat titik singgung tentang konsep integrasi ilmu pengetahuan. perlu dipahami bahwa pada abad ke-17 hingga abad ke-18 M di Aceh secara tidak langsung telah menerapkan konsep integrasi ilmu pengetahuan, terliat dari karya-karya ulama terkemuka terdahulu seperti Hamzah Fansuri, Ar-Raniry, As-Sumatrani, dan As-Singkili.

Terlihat pula bukti pola integrasi pengetahuan pernah berkembang di Aceh sempat terekam dalam tulisan Ali Hajsmi yang menjelaskan bahwa keberadaan Zawiyah Tano Abe merupakan lembaga studi pengetahuan sehingga Ali Hajsmi mengatakan Zawiyah tersebut sebagai laboratotium bagi perkembangan ilmu pengetahuan. terlebih aceh memiliki banyak lembaga keagamaan seperti dayah misalnya, begitu juga perguruan tinggi dewasa ini muncul seperti cendewan yang tumbuh dimusim hujan.

Pada tahun 1953 M berbagai pergolakan sosio kultural, politik dan agama muncul dalam sejarah perjuangan Tgk. Daud Bereueh dengan presiden pertama Indonesia yaitu Soekarno. Diantara persoalannya: pertama, Soekarno tidak menemoati janjinya kepada Daud Bereuehakan dibelakukannya syari’at islam di Aceh secara otonom. Kedua, Daud Bereueh kecewa karena kurang diperhatikannya anggota birokrasi dan dan anggota militer dari aceh ketiga, Daud Bereueh yang dilatarbelakangi oleh pendidikannya tidak suka kepada Soeharto dengan kaum komunis dan sosialis masa itu.

Pasca Mou Helsinki telah memberikan banyak pembelajaran bagi pemerinta Aceh dlaam menjalankan roda pemerintahannya bagi pemerintahnya terlebih dalam mengatur semangat stege holder di Aceh yang belum terorganisir. Sudah saatnya pemerintah Aceh dan para stage holder dapat bersinergi tanpa beritorika dan melahirkan tindakannya untuk mencerdaskan masyarakat Aceh dalam pendekatan politik intelektual bukan pembodohan politik.

Harapan-harapan para cendikiawan dan tokoh-tokoh masyarakat Aceh untuk menjadikan sikap yang bersyari’at menjadi karakter masyarakat Aceh masih jauh panggang dari api, selama penerapan syari’at islam masih dimainkan oelh manusia-manusia yang disyaria’atkan yang mengkoleks mental apologis yang tinggi dalam melakukan penerapan yang tinggi dalam melakukan penerapan yang sesuai dengan tujuan dari syaria’at Islam (maqasyid syari’ah). oleh karena itu, dengan lahirnya cendikiawan yang berjiwa syari’at dapat membawa Aceh dalam sebuah gebrakan baru sehingga Aceh dari masa kemasa dapat mencapai kemakmuran dan kemajuaan perlahan-lahan tanpa merasa bahwa Aceh adalah daerah yang tertinggal.

Kelemaan Buku
Adapun yang menjadi kelemahan dalam buku ini, yaitu:
Masih banyak terdapat ketikan yang salah dalam kata-katanya
Pernyataan yang berulang-ulang yang mempunyai maksud yang sama dalam paragaraf yang sama.
Sistematika penulisan yang masih salah, misalnya pentebalan (boll) pada sub pembahasan.

Kelebihan buku
Adapun yang menjadi kelebihan dalam buku ini, yaitu:
Kajiannnya menarik
Bahasannya kekikinian
Bahasannya cocok untuk tingkat mahasiswa

Hal yang Menarik
Yang menjadi hal menarik dalm buku ini yaitu sejarah Aceh diibaratkan sebuah rumah mewa yang besar siapa yang memandangnya akan tertju kepadanya dan tertarik hatinya untuk melihat kedalam isi rumah tersebut, tergantung dari sipeneliti dalam melihat rumah tersebut apakah dilihat dari segi atapnya (atas), atau dilihat dari seg corak dindingnya saja.

Kritik dan Saran
Kritik
Buku ini seharusnya tulisannya diterangkan sedikit jangan terkesan seperti dicopy. Dan penggunaan bahasa harusnya lebih akademis dan mudah dipahami batasi penguanaan bahasa yang terlalu tinggi.

Saran
Buku ini menarik untuk dikupas dan dianalisis lebih dalm lagi, karena didalamnya membahas tentang konteks kekinian dalam perspektif nalar dalam masyarakat Aceh tersediri. Sehingga memberikan dorongan dan membantu pembaca untuk menciptakan suatu pembaharuan dalam berfikir untuk kedepannya. Buku ini layak untuk dijadikan pedoman/ bahan bacaan bagi mahasiswa khususnya untuk perluasan wawasan pemikiran.

Mulyana, Mahasiswi Peraih Piagam Mahasiswa Berprestasi Tahun 2015 di Fakultas Ushuluddin & Filsafat UIN Ar-Raniry

KOMENTAR FACEBOOK